Senin, 24 Maret 2014

Jualan ORBA dan Seonggok Kamuflase Kerinduan

View image on Twitter


Adalah Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto yang menyambangi ingatan publik dengan mencoba kembali mengumpulkan keping-keping kejatuhan ORBA sebagai dagangan capres keduanya. ARB dan 08 (sebutan Prabowo dikalangan terdekatnya). Mereka secara eksplisit menggambarkan bahwa era ORBA lebih baik dari situasi hari ini. Bahkan jika Soeharto (gembong ORBA) masih hidup dan mencalonkan kembali menjadi presiden, maka Jenderal Besar itu akan secara mutlak memenangkannya. Wow !









Apa yang mendasari capres Partai GOLKAR dan capres Partai Gerindra ini begitu kuat menggali empati publik soal ORBA?. Sangat sederhana jawabannya; keduanya adalah produk ORBA, lain tidak. Keduanya mengalami masa-masa kejayaan kala kekuasaan sepenuhnya ada digenggaman tangan The Smilling Generale. ARB merajai bisnis dengan kebanggaan sebagai pengusaha pribumi (istilah ORBA), sementara Prabowo adalah Danjen KOSTRAD . Masa-masa kejayaan ORBA yang dibangun dengan pendekatan stabiltas, meniscayakan kekuasaan saat itu untuk tak memberi ruang sedikitpun rakyat bersuara kritis. Jika nekat; maka penjara dan (bahkan) dihilangkan adalah jawabannya (!)

Pileg dan Pilpres 2014 era kejayaan ORBA dirasa mampu menjadi magnet pemilih untuk merevitalisasi harapan hidup dan segala hal yang terkait dengan penghidupan. Mengkomparasikan situasi dijaman ORBA dan era sekarang yang serba dirasa sulit. Jaman ORBA, anak-anak bisa bersekolah, mudah mencari pekerjaan, keamanan terjamin dan indikator pertumbuhan ekonomi selalu menunjukkan sentimen yang positif. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6-7 persen per tahun, inflasi di bawah dua digit, swasembada pangan menjadi bukti keberpihakan pada rakyat, terjadi transformasi dari sektor pertanian ke sektor industri sehingga menyebabkan orang gampang cari kerja, gampang sekolah, dan kalau sakit ada puskesmas yang siap setiap saat. Bandingkan dengan kondisi saat ini dimana pertumbuhan ekonomi mandek sehingga orang susah dapat kerjaan, sekolah makin hari makin mahal, dan orang dilarang sakit karena ongkos berobat begitu mahalnya.

Pada akhirnya, konklusi terbesarnya adalah era ORBA lebih baik dari era pasca kejatuhan ORBA itu sendiri. Cukup jelas, kedua capres produk ORBA ini akan menyisir pemilih pemula yang notabene tak pernah bersentuhan langsung dengan jaman ORBA, kalaupun sudah lahir, ia pasti masih orok. Dengan demikian, memori mereka tak sekuat orang-orang yang hidup dijaman ORBA dengan segala praktek kekuasaan yang sentralistik, militeristik dan otoriteria. Kekuasaan yang tiran !.
 
Cerita pembangunan dan keberhasilannya di sektor ekonomi era ORBA harus diingat dibangun pada pondasi yang rapuh. Menyisakan ruang dan jurang kaya-miskin yang terus menganga, kian hari kian melebar, korupsi-kolusi-nepotisme, utang luar negeri yang menggunung, dan ketergantungan ekonomi yang sangat besar pada ekonomi asing. Distribusi kue-kue pembangunan ala ORBA bukannya ke rakyat dibawah kebanyakan, tapi ke sentra-sentra kekuasaannya sendiri. Dititik inilah, sebenarnya mengkonfirmasikan  bahwa seluruh capaian pembangunan itu runtuh seketika sewaktu diterpa badai krisis Asia 1997. Dengan ambruknya ekonomi orba yang selama itu menjadi dasar legitimasi dijalankannya politik teror, maka keruntuhan bangunan rezim itu sendiri tinggal menghitung hari. Sampai akhirnya 21 Mei seorang Soeharto mengundurkan diri dari tahta yang selama 32 tahun tak tersentuh.

Lalu apakah kemudian dagangan ORBA merupakan isu populis dan mencerdaskan? Barangkali justru pembodohan dan potret suara capres yang mengkamuflase kerinduannya pada ORBA itu sendiri, sekaligus memberi pesan pada khalayak, bahwa sesungguhnya mereka tak memulai dengan gagasan-gagasan kekinian yang lebih visioner dan dibutuhkan oleh bangsa ini.

Hen Eska

0 komentar:

Posting Komentar