Mau jadi Claudius atau Ken Arok, sama saja. Keduanya mewakili sifat dasar manusia untuk mengumbar ambisi. Claudius membunuh kakanya dan mempersunting ibu Gertrude (ibu Hamlet) sekaligus bertahta di Denmark, sementara Ken Arok dg keris Mpu Gandringnya menikam Tunggul Ametung lalu menikahi Ken Dedes yg tengah mengandung bayi ANusapati (benih Tunggul Ametung).
Hamlet dan Anusapati adalah pewaris dendam dlm kasanah feodalisme. Kekuasaan, cinta, amarah dan pergumulannya seperti -hidup- dan terawat sepanjang kekuasaan feodalisme itu berlangsung. Dendam menjadi residu konflik yg terus menyala-nyala.
Pada konteks kekinian, kekuasaan monarki telah terkikis oleh sistem yg lebih terbuka, lebih terlihat sebagai penguasaan sosial masyarakat ketimbang menjadikan penguasa yg absolut. Pun demikian, dinasti, klan dan relasi kekerabatan masih cukup kuat dijelmakan sebagai pusat kekuatan untuk menguasai orang lain. Kendaraannya saja yg berbeda, yakni partai politik atau grup bisnis. Politik dan bisnis bersenyawa sangat kuat. Tak heran, di Indonesia hubungan keduanya menjadi sangat -intim dan mesra-.
So, mau jadi Claudius yg akhirnya mati oleh Hamlet atau Ken Arok yg juga mati oleh Anusapati pada potret Indonesia hari ini, sama saja. Politik dendam pada akhirnya memang menjadi tragedi pada mereka masing2 sebagai individu.
Hen Eska
Hypokrisis Kronis
-
Oleh Reza A.A Wattimena Awal 2026, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat,
menelan ludahnya sendiri. Ia berjanji tidak akan membawa perang baru di
dunia. B...
4 hari yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar