Rabu, 03 Agustus 2011

Mendengar Rakyat dari Warung hingga Penjara

Sebagai pengidola Bung Karno, Samanhudi Anwar mengaku pernah mengalami situasi yang hampir serupa dengan bapak bangsa itu.Di masa-masa sebelum menduduki jabatan di pemerintahan, dia merasakan bagaimana tidak enaknya hidup serbaterbatas, diremehkan,dan dianggap tak mampu.


Namun semua hal tak enak itu tidak membuatnya merana. “Sebab saya selalu berkeyakinan jika kita berusaha mengubah nasib, Tuhan juga akan memberikan perubahan,”tuturnya.Meski sudah berada di puncak kekuasaan, Samanhudi tidak serta-merta melupakan masa-masa sulit.

Ia selalu teringat petuah Hj Umi Maryam, ibundanya,bahwa untuk bisa menjadi orang besar,ia harus mampu bersanding dengan orang kecil dan mereka yang secara sosial terkucilkan karena kesalahannya. Duduk bersama,makan bersama sekaligus menyalaminya (berinteraksi) dengan baik. 



“Dan saya memang melaksanakan semua itu.Dari situ muncul ide membentuk organisasi Kawulo Alit, sebuah organ sayap PDI Perjuangan,” terangnya.Kedekatannya dengan orang-orang yang terasingkan di masyarakat juga terus dibangun. Samanhudi secara rutin mengunjungi para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Blitar.

Ia juga mempersilakan kepada pesakitan yang baru keluar dari bui untuk mampir ke rumahnya.“Yang saya tahu,setiap orang selalu ingin berubah lebih baik.Begitu juga dengan mereka (narapidana).Karenanya saya selalu menerima dengan baik,”papar Ketua DPC PDIP Kota Blitar ini. Begitu juga secara diam-diam dia mengunjungi rumah warga,termasuk mampir ke warung-warung.

Samanhudi datang dengan menanggalkan semua protokolernya.Ia pun tidak memperlihatkan diri sebagai seorang kepala daerah.“Namun pemilik warung biasanya sudah tahu siapa yang datang ke kedainya.Saya merasa senang jika warga saya juga merasa senang,”paparnya.

Penempatan diri sejajar dengan masyarakatnya juga terlihat di kediaman rumah dinasnya. Selain merenovasinya dalam bentuk joglo dan mendekorasinya dengan warna warni lampion,pejabat yang berkelahiran 20 Oktober 1965 ini juga memberi kelonggaran bagi masyarakat untuk bertandang ke sana.

Setiap Jumat dan Sabtu malam, rumah ini bebas menjadi tempat kunjungan .Masyarakat bisa leluasa datang dan bertemu langsung dengan Samanhudi dan istrinya.Dari silaturahmi terbuka itu,ia bisa mengetahui apa-apa yang menjadi keluh kesah dan kebutuhan masyarakatnya. ● solichan arif 


0 komentar:

Posting Komentar