Senin, 04 April 2011

Politik ?

http://images.google.com

Hen Eska
Kebanggan yg paling hakiki adalah memiliki kebebasan tak terpenjara. Sekarang ini, menjadi sosok merdeka dalam mengurai pikiran dan diejawantahkan melalui tindakan seperti barang langka. Antik, nyentrik dan tentu saja berharga mahal. Bung Karno (juga Mao Je Dong) menyebutnya sebagai Satunya Kata dengan Perbuatan. Kelompok 'orang nyentrik' ini memang kerap mengahadapi serbuan tafsir dan prasangka yang menjengkelkan. Belakangan justru terlihat menggelikan, tak ubahnya rasa digelitikin !.




Politik, dalam takaran polarisasi awam dan mahfum: ia multi tafsir. Banyak pandangan soal ini. Dari yang mendefinisikan secara sederhana, simple sampai yang pelik, detil dan terperinci, serta teoritis dan praktis. Ya sama saja semuanya mengkategorikan politik bagian dari sengalan nafas tiap individu. Tak ubahnya zoon politicon, manusia dalah makhluk politik.

Problem yang muncul dalam soal politik (kemudian biasa kita sebut politisasi atau dipolitisir) selalu terkait dengan peristiwa manusia dengan manusia, baik secara individu kontra individu atau kelompok versus kelompok, atau juga sebaliknya secara silang. Hal inilah kemudian, menjadi banyolan politik jika banyak orang meniadakan politik sebagai relasi hidup ditengah banyak orang. Politic is politic. Politik adalah politik. Pikiran dan ide-ide politik selalu 'nempel' dialam sadar manusia; suka tidak suka.

Ada satu pemikiran tentang politik adalah seni meramu kemungkinan. Begitu juga adagium dan postulat-postulat lainnya; politik adalah mengumpulkan kekuatan dan menggunakan keuatan itu untuk mencapai kekuasaan. Varian defenisi apapun tentang politik, baik yang samar atau mendasar tidaklah semacam partitur dalam sebuah aransemen musik. Politik juga mengenal wilayah warna: tak ada yang hitam putih dalam politik !
Maka menadi benar jika salah satu adagium yang terkemuka dalam ranah politik menganggap tak ada kawan abadi dalam politik selain kepentingan (yang langgeng).

Dari semua nilai yang terkandung dalam politik. Tampaknya akan bersandar pada penegasan diri individu sebagai pelaku politik yang memadai atau mengenal sebagai kemasan, baju atau aksesoris belaka. Individu yang mumpuni tentu akan beranjak pada gagasan dasar berpolitik sebagai ekspresi daya nalar dan pergaulan, sementara bagi kelompok berikutnya hanya menjadikan politik sebagai medan kegembiraan aktualisasi saja.

Apakah kemudian dua kutub ini bisa dipersandingkan?. Tentu saja bisa dan sangat biasa. Selama ini kita melihat dengan jelas bagaimana hiruk pikuk politik, kerumunan politik dan peristiwa-peristiwa politik di tanah air dan anca negara senantiasa beraroma tentang kehendak memaknai politik sebagai alat. Jadi sebaiknya proses berpolitik memunculkan keniscayaan-keniscayaan. 

Biar saja politik hidup dan dinamis. Seperti hal lain tentang cita-cita, keinginan-keinginan atau apa saja. 

0 komentar:

Posting Komentar