Jumat, 11 Maret 2011

Supersemar dan Tsunami ala WikiLeaks

sumber gambar : kompas.com
Oleh: hen eska
Biasanya, Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar kerap dijadikan momentum untuk kembali mereviev memori publik pada salah satu momentum penting perjalanan bangsa ini. Maklum saja, Supersemar identik dengan kelahiran sejarah Orde Baru. Orde yang dipandang sebagai antitesis orde sebelumnya (Orde Lama) dan mendominasi kekuasaannya selama 32 tahun, yang dipenghujung kepemimpinan Jenderal Besar Soeharto runtuh dan tumbang oleh gerakan reformasi 1998. Toh Supersemar tetap menjadi misteri sejarah yang gagal dituangkan secara hitam-putih. Banyak versi yang mencoba mengurai subtansi materi Supersemar. Namun tak ada satupun kesimpulan besar yang bisa menerjemahkan otentifikasi surat sakti itu.
Seiring perjalanan waktu, bangsa ini selalu tak punya kehendak sama dalam menempatkan tungku sejarahnya sebagai wadah bersam; sejarah baik dan sejarah kelam. Sehingga yang menyembul kepermukaan hanyalah jargon semacam: sejarah milik para pemenang. Hari ini Supersemar menjadi tak penting untuk diperdebatkan terus menerus dan terus pula memunculkan ketidakpastian.

Berita yang justru jadi alasan kuat untuk melupakan Supersemar adalah soal tsunami yang menimpa Jepang. Seperti Tsunami yang pernah menimpa rakyat Aceh beberapa tahun yang lalu. Trauma tsunami masih kuat. Jadilah peristiwa tsunami Jepang sebagai bahan kepanikan masyarakat diseputar pesisir. Apalagi tv-tv nasional memuat peringatan tsunami yang bisa saja melanda wilayah Indonesia khususnya yang berada di wilayah terdekat dari episentrum gempa dengan dampak tsunami. Alhamdulillah, peringatan tsunami ‘dicabut’ setelah kontrol pengawasan dampak tsunai Jepang mereda dan surut. Artinya tak sampai ke wilayah-wilayah perairan Indonesia.

Tapi heboh tsunami Jepang mendaptkan posisi ‘wow effect’ dari wikileaks. Loh?. Adalah Harian The Age dan The Sidney Morning Heralds edisi Jumat (11/3/2011) memuat tulisan berdasarkan data bocoran dari Wikileaks yang memuat dugaan kecurangan, korupsi, dan penyalahgunaan kewenangan di dalam negeri Indonesia yang melibatkan Presiden Yudhoyono, Ny Ani Yudhoyono, Taufik Kiemas, mantan Wakil Presiden dan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla, serta mantan Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar.

Peristiwa pemberitaan ini langsung direspon cepat oleh pihak Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel segera menyampaikan nota resmi dari Washington soal ini. Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Kedutaan Besar AS di Indonesia menyampaikan penyesalan terdalamnya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rakyat Indonesia atas pemberitaan harian Australia, The Age dan Sydney Morning Herald yang memuat informasi dari WikiLeaks yang menuding Yudhoyono menyalahgunakan kekuasaan. Seperti diketahui, informasi dari WikiLeaks tersebut merupakan bocoran dari kawat-kawat rahasia Kedubes AS di Jakarta.
Demikian pernyataan resmi Kedutaan Besar AS Jakarta yang disampaikan melalui surat elektronik, Jumat (11/3/2011). "Seperti yang diungkapkan Menteri Luar Negeri AS, Amerika Serikat sangat menyesal pembocoran informasi apa pun yang dimaksudkan sebagai rahasia, termasuk pembicaraan pribadi antara rekan sejawat atau penilaian dan observasi pribadi dari diplomat kami. Kebijakan luar negeri resmi kami tidak ditetapkan melalui pesan-pesan ini, tetapi di Washington," tulis siaran elektronik itu. (KOMPAS.com).

Seperti serangan tsunami, karena ini menyangkut sosok presiden yang selama ini membangun relasi politik dengan pihak barat secara all out. Kunjungan Obama ke Indonesia di bulan November 2010 bisa jadi ukuran betapa AS menjadikan mitra penting di kawasan Asia selain India, Pakistan, Cina dan Korea Selatan. Layaknya tsunami Jepang, wikileaks. Kepanikan menyembul. Seolah percaya tak percaya. Tapi apapun itu, bocoran wikileaks yang selama ini dikenal lihai dalam menjebol dokumen-dokumen rahasia AS menyangkut hegemoninya dengan berbagai negara, tentu pukulan telak. Lepas kerhasiaan yang diungkap itu terkategori sebagai data sepihak dan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab itu, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah strategis dalam mengurai kebenaran isi dokumen bocoran itu daripada terlihat panik. Bahkan diberitakan juga, Ibu negara konon ‘malah’ berurai airmata saat namanya disebut dalam materi pemberitaan sebagai broker dalam mengeruk pundi-pundi keuntungan pribadi dengan memanfaatkan kekuasaan SBY yang suaminya itu. Sekali lagi, buatlah langkah-langkah yang konkret dalam menyikapi persala ini. Karena dampak dari tsunami wikileaks ini adalah terbukanya memori publik soal konspirasi politik dan permufakatan ahat dalam mengelola negara.#

0 komentar:

Posting Komentar