Apa kabar tuan penggede?
Kabarnya kita berkumpul dilumbung padi, tempat berpijaknya kemakmuran -impian semua perut-. Hingga tak heran lenggak lenggok gadis penari perut jadi hiburan jamak.
Sepertinya jalan kemarin buntu, membuat seribu mata buta mendadak -padahal warna temboknya sama; biru-
Ini junta...!
Ini junta...!
Ini junta...! -teriak beberapa kawan sejalan-
Ya...kataku,
Junta bukan cuma tradisi militer. Sipil, baik yang predikat atau karir punya -nyali- yang tak lagi tersembunyi di goa-goa ambisi. Bukankah manusia adalah makhluk politik -zoon politicon-.
Kita lanjutkan tuan penggede.
Pasukan kita tetap tidak makan, tapi bukan ancaman
Pasukan kita bisa berontak, juga bukan ancaman
Pasukan kita cerai berai, bukan juga ancaman
Pasukan kita mengecammu, bukan ancaman juga
Dan,
Pasukan kita mencabut semua perbekalan isi kepalanya, lalu melawanmu dengan gagah berani sebagai petarung, lalu, aku menjadi bagian petarung itu
Apa bukan ancaman,
Apa bukan ancaman juga,
Apa bukan juga ancaman,
Apa juga bukan ancaman,-tanyaku sambil berbisik dengan teriakan; vae victis.
Celakalah Kau !!!
Bukan.....katamu sekencang-kencangnya.
Aku pamit tuanku penggede.
Kawan-kawan, kita membebaskan diri dalam barisan dan bendera.
Beri senyum terakhir pada penggede...
(lalu)
Kita mundur selangkah saja sebagai penghormatan,
(karena)
Kita maju seribu langkah, menerjang semua yang menghadang sebagai perlawanan.
Satu derap bahasa perjuangan; pilih oposisi bukan oh..posisi..!!!
Hen Eska/2010
Kabarnya kita berkumpul dilumbung padi, tempat berpijaknya kemakmuran -impian semua perut-. Hingga tak heran lenggak lenggok gadis penari perut jadi hiburan jamak.
Sepertinya jalan kemarin buntu, membuat seribu mata buta mendadak -padahal warna temboknya sama; biru-
Ini junta...!
Ini junta...!
Ini junta...! -teriak beberapa kawan sejalan-
Ya...kataku,
Junta bukan cuma tradisi militer. Sipil, baik yang predikat atau karir punya -nyali- yang tak lagi tersembunyi di goa-goa ambisi. Bukankah manusia adalah makhluk politik -zoon politicon-.
Kita lanjutkan tuan penggede.
Pasukan kita tetap tidak makan, tapi bukan ancaman
Pasukan kita bisa berontak, juga bukan ancaman
Pasukan kita cerai berai, bukan juga ancaman
Pasukan kita mengecammu, bukan ancaman juga
Dan,
Pasukan kita mencabut semua perbekalan isi kepalanya, lalu melawanmu dengan gagah berani sebagai petarung, lalu, aku menjadi bagian petarung itu
Apa bukan ancaman,
Apa bukan ancaman juga,
Apa bukan juga ancaman,
Apa juga bukan ancaman,-tanyaku sambil berbisik dengan teriakan; vae victis.
Celakalah Kau !!!
Bukan.....katamu sekencang-kencangnya.
Aku pamit tuanku penggede.
Kawan-kawan, kita membebaskan diri dalam barisan dan bendera.
Beri senyum terakhir pada penggede...
(lalu)
Kita mundur selangkah saja sebagai penghormatan,
(karena)
Kita maju seribu langkah, menerjang semua yang menghadang sebagai perlawanan.
Satu derap bahasa perjuangan; pilih oposisi bukan oh..posisi..!!!
Hen Eska/2010




0 komentar:
Posting Komentar