Senin, 01 November 2010

Benahi Kualitas Politisi

SEJARAH politik manusia selalu berulang-ulang. Orang-orang mulia selalu menjadi sasaran hujatan dan diperangi tanpa henti. Begitu banyak kepentingan yang bersekutu untuk suatu persekongkolan, merontokkan kebaikan dan kebajikan, hanya karena prasangka dan persepsi yang buruk.

Banyak kalangan berpendapat, politik adalah seni mengelola persepsi dan seni mengelola peluang untuk berkuasa, karena politik itu sendiri selalu dipahami sebagai cara untuk berkuasa. Padahal, bagi mereka yang mempunyai akal budi dan sungguh berkhidmat kepada rakyat, politik adalah cara mengelola kekuasaan untuk menyejahterakan rakyat.

Karena politik semata-mata hanya dipahami sebagai cara untuk memperoleh kekuasaan, maka segala hal yang bisa merobohkan kekuasaan pun dipergunakan. Termasuk persepsi tentang kebenaran yang mengabaikan kebenaran hakiki. Untuk itulah politisi lebih suka bergaduh katimbang menyelesaikan masalah dengan tenang dan damai.

Bila politisi bangsa ini masih lebih suka memandang politik dalam pemikiran pragmatis elementer semacam itu, percayalah kita memerlukan waktu yang sangat lama untuk sungguh bisa mewujudkan apa yang dicita-citakan para founding fathers bangsa ini.

Untuk itulah, semua petinggi partai politik negeri ini, perlu duduk bareng, merumuskan ulang komitmen kebangsaan. Lalu bercermin di hadapan cermin kebangsaan yang berdimensi religius, kemanusiaan yang beradab, persatuan Indonesia, demokrasi kerakyatan berbasis musyawarah – mufakat, untuk kemudian: mau dan mampu menegakkan keadilan untuk seluruh rakyat. Lantas benahi kualitas kader di masing-masing partai, agar bangsa ini sungguh dikelola oleh kader politisi negarawan yang berkualitas.

Bangsa ini lebih memerlukan para politisi negarawan yang taat asas dan taat konstitusi. Politisi yang memandang persoalan dengan jernih. Politisi yang ketika menegakkan kebenaran sungguh berpijak di atas kebenaran, dan malu mengatas namakan kebenaran di atas kepentingan sesaat, yang seringkali cenderung merupakan kepentingan sesat. Politisi yang menjalankan seluruh praktik politik berbasis akal budi.

Saya yakin, sebagian terbesar rakyat bangsa ini, memerlukan politisi cerdas, yang ketika mengatasi berbagai masalah bangsa dan negara, selalu berorientasi kepada solusi. Bukan bertarung untuk kalah dan menang hanya karena sibuk menafsir sesuatu masalah secara subyektif. Lalu, saling sentak sengor menyoal persepsi kebenaran.

Saya juga yakin, sebagian terbesar rakyat bangsa ini, memerlukan politisi bersih. Politisi yang terbebas dari kepentingan bisnis, meski senoktah. Hanya dengan begitulah, ia pantas menyuarakan kebenaran. Politisi yang bersih adalah politisi yang menjauhkan dirinya dari money politic, dan sanggup menahan diri dari segala bentuk gratifikasi.

Rakyat bangsa ini memerlukan politisi santun, yang mempunyai perangai berakhlak mulia. Politisi yang sanggup menghargai dan menghormati orang lain sesuai dengan fatsoen politik dan moralitas budaya bangsanya. Politisi yang mau dan mampu mendengarkan pendapat orang lain, seperti mereka menghendaki orang lain mendengarkan pendapatnya secara baik dan benar.

Apa yang dipertontonkan para politisi, baik di dalam maupun di luar gedung parlemen, serta di forum-forum demokrasi partai, selama ini, adalah potret buram dunia politik kita. Suatu praktik politik yang jauh dari cerdas, bersih, dan santun. Rakyat tak bisa ditipu dengan berbagai kemasan dan jargon, tak pula bisa lagi ditipu dengan beragam retorika dan aneka kemasan lainnya. Karena pada akhirnya, rakyat lebih mempunyai cara sendiri untuk menilai kualitas dan performa partai politik dan politisi.

Sudah saatnya para petinggi partai politik dan politisi berhenti berbenah diri. Mengubah perangainya yang jauh dari cerdas, bersih, dan santun. Mari belajar dari para founding fathers dan politisi negarawan di masa lalu, yang hanya mempunyai kepentingan tunggal: membebaskan rakyat dari kemiskinan dan keterbelakangan. Caranya? Bercerminlah pada sejarah ! |

http://www.facebook.com/editnote.php?draft&note_id=107873132577535&id=100000841464258

0 komentar:

Posting Komentar