Meredakan tangis Agustus yang berkemas.“Kutitipkan Merah Putihku dan kibarkan di semua ruang hatimu”,katanya.
Maafkan aku Agustus, hanya bisa memberimu luka. Tak sepatutnya aku menjadikan kau pusaka mati yang dihidupkan untuk sekedar ritual-ritual.
Tak seharusnya aku terbelenggu dengan pilihan-pilihan. Sejatinya kau adalah pilihan pertama dan terakhir,
karena hari ini yang kau minta adalah sikap; Merdeka atau hidup terhina?.
Berkibarlah Merah Putihku disemua ruang hatiku dan memuncaki akalbudi anak-anakmu.
--dari status diujung Agustus Tahun Lalu—
Kapanpun maut dapat menyergap kita, ia akan kita songsong, setelah memberikan ini itu, teriakan perang kita, merasuki telinga-telinga yang mau mendengar, bahwa tangan yang lain telah terentang untuk memangul senjata, dan orang-orang lain maju untuk melantunkan lagu penguburan kita bersama rentetan senapan mesin dan teriakan-teriakan baru dari pertempuran dan kemenangan kita.
--Che Guevara--
Berkelahi saja antar kita,
Hingga angin mendengkur melukai tubuhku. Menyisakan lobang menganga; dubur republik.
Aku sudah terlanjur mata angin untukmu, serba terlanjur dalam kehadiran untukmu.
Lihat saja kau ke selatan. Hari ini mereka melebihi jauh dari apa yang merintangimu.
Tengok saja kau ke utara. Mereka bahkan hanya menganggapmu teman kejauhan.
Hadapi arah timurmu. Mereka ulurkan jabat tangan -penuh luka-
Dan, di barat, tempat segala asa kau tumpahkan -menggauli semua waktunya-.
Dimana sekarang kau tematkan aku?
Didalam gedung berpenjaga tegap dan senapan lengkap, karena aku adalah pusakamu, yang terbangun dalam mantra-mantra cintamu.
Didalam upacara-upacara pesta toast, berdiri tegak mengankang, karena aku adalah perlambang kegenitan sejarahmu.
Itu kenapa (?); berkelahi saja antar kita.
Jika hari ini kau tancapkan aku dialun-alun Mahameru, apa artinya buatmu?
Jika hari ini kau kibarkan aku didasar laut ternama bumi ini, apa artinya buatmu?
Bukankah aku cukup ada ditiang-tiang jantung hatimu -kurasa lebih dari cukup-.
Sekarang biar aku bicara dengan tutur kataku. “Turunkan aku dan lipat !”.
Berikan kepada mereka, anak-anakku, yang berhak diatas hakmu.
Jangan kau tunjukkan dengan seribu tentara mengawalnya, dengan iringan badut-badut selebriti, pujangga-pujangga doa, pesta petasan dan pernak-pernik bermerk jantan.
Karena mereka dituntun tiang-tiang jantung hatinya; yang betina dan yang jantan.
Begitulah aku.
Turun naik dialiran darahnya. Bergetar dan membisu diatas nadi-nadinya.
Merahku menjadi kecamuk amarah yang menantang siapa saja penghadang.
Putihku menjadi ombak samudra kesucian budi dan menghampiri siapa saja yang enggan mengalah.
Ini tanahku,bukan milikmu.
Ini airku, bukan juga milikmu.
Tanah dan airku adalah selimut negeri dari anak-anakku yang mati berkalang bumi -demi aku-, yang meregang semangat hingga musuh-musuh tak tersisa.
Adalah kesalahan dan kedunguan jika kau tinggalkan aku dalam seribu luka, karena anak-anakku takkan pernah mati.
Lihat apa yang mereka lakukan dipenjuru anginmu?
Utara dikibarkan Merah Putih, Selatan ditancapkan Merah Putih, Timur diselubungi Merah Putih, dan barat ditutup rapat dengan Merah Putih.
Masih maukah engkau berkelahi untuku?
Hen Eska/2010



0 komentar:
Posting Komentar