Perang apa yang sudah kita menangkan?
Banyak atau sedikit dalam jumlah peperangan jadi tidak penting, karena kemenangan akan selalu dikenang -oleh rejim waktu- dalam orbitnya.
Seperti kita merayakannya saat republik lahir, semua rakyat menjadi bidannya, semua tanah menjadi bangsalbangsal persalinannya, semua air menjadi nyanyi dan tarian kelahiran.
Itulah kemenangan; dicatat sampai detik ini tanpa reserve, ya memang sudah seharusnya, ya sudah semestinya.
Diterima hingga beranakpinak lalu menjadi tonggak.
Tonggak kulminasi jati diri,
Tonggak hasrat dalam martabat,
Tonggak satunya nusa, satunya bangsa, satunya bahasa.
Siapa saja yang berKTP Indonesia dilarang keras tidak tahu kapan hari lahir bangsanya. Suka tidak suka, semua harus tunduk dalam kenyataan sejarah itu.
Semua, tidak terkecuali (!),
karena hanya inilah monumen kemenangan kita -ya sebagai rakyat, ya sebagai bangsa-. Selebihnya hanya episode yang berakhir dengan dua sisi;
Bahagia dan sedih,
Kebenaran dan kesalahan,
Suka dan duka,
Prestasi dan kegagalan,
Kebetulan dan terencana,
Perang dan damai,
Bersih dan ternodai...seterusnya beradu dalam dua nilai yang saling melawan.
Sekarang menjadi tugas, -ya sebagai rakyat, ya sebagai bangsa- untuk mempertahankan kemenangan itu.
Suka tidak suka, semua tunduk dalam realitas hari ini.
Jika dalam hal mengingat saja kita tidak konsisten, bagaimana kita mampu menjaga kemenangan kita itu?
Karena dengan ingatan itulah kita meramu cara,
Karena dengan ingatan itulah kita berkaca,
Ulur sepanjangpanjangnya....ingatan kita, tentang semua nasib;
Nasib petani miskin yang kehilangan tanahnya,
Nasib gelandangan kecil, tua renta yang memadati keramaian kota,
Nasib nelayan yang mati dilautnya sendiri,
Nasib buruhburuh dan kuli kasar yang tak terjamah iba penguasa,
Nasib anakanak yang putus sekolah,
Nasib prajuritprajurit negara yang berperang melawan dirinya sendiri.
Ulur sepanjangpanjangnya...ingatan kita, tentang semua cara;
Cara kita menjual tambangtambang emas,
Cara kita memelihara tamutamu neoliberalis,
Cara kita memuat gambargambar kebobrokan moral,
Cara kita membiarkan gerombolangerombolan memungut upeti,
Cara kita membangun gedunggedung menantang langit,
Cara kita memperkaya diri,
Cara kita menggali lubang kematian.
Ulur sepanjangpanjangnya...ingatan kita, tentang semua hal;
Hal yang menjadikan arogansi lebih bernyawa,
Hal yang menjadikan popularitas lebih diagungkan,
Hal yang menjadikan kekuasaan lebih dari segalagalanya,
Hal yang menjadikan seremoni selalu digjaya,
Hal yang menjadikan aksara bertutur lebih diterima dengan buta,
Hal yang menjadikan semua serba instan,
Hal yang menjadikan negara seonggok iklan,
Hal yang membuat keseharian kita selalu beradu alasan,
Hal yang membuat pengangguran hiasan utama bangsa,
Hal yang membuat kebenaran tak mendapat tempat,
Hal yang membuat kesalahan selalu berulang.
Ulur sepanjangpanjangnya...ingatan kita, tentang peristiwa;
Pemilu yang ternodai,
Hukum yang tak berlaku adil,
Demokrasi yang seolaholah,
Agama yang kerap dipolitisir,
Terorisme yang merajalela,
Korupsi yang tiada akhir,
Moral yang tergerus,
Kekuasaan yang penuh amarah,
Prilaku politik yang jorok,
Kecelakaan yang mengintai siapa saja,
Gosip yang menebar isu dan rumor,
Narkoba yang gentanyangan disemua ruangan milik kita,
Tontonan remote control.
Anggota parlemen yang mangkir,
Lagu Indonesia Raya yang dilupakan,
Adu debat yang menggiring perdebatan,
Menyelesaikan masalah dengan masalah,
Menuduh sembarangan tak berdasar fakta,
Hutang kita hari ini 1.700 triliyun,
Kerja-kerja inteljen kita yang malah tidak intelejensia,
Kerja serdadu-serdadu kita diperbatasan,
Ledekan-ledekan ditapal batas oleh serdadu asing,
Nasib TKI dan TKW murah kita diluar negeri,
Tayangan tv yang penuh glamour dan tidak mendidik,
Konfrontasi satpol PP dan pedagang kaki lima,
Eksploitasi anakanak kita,
Pelacuran menghiasi malam semua kota,
Pegawai pemerintah yang tak bergaji standar,
Ditanahair kita ini, begitu tipis cinta dan kebencian. Hingga semua hal menjadi sangat relatif. Cerdas dalam memaafkan, cerdas dalam menghakimi, cerdas dalam membohongi, sampai kata maaf itu sendiri kehilangan arti.
Inkonsistensi sikap justru cenderung masif. Hingga semua larut pada nasib;
Kemiskinan adalah nasib,
Kebodohan adalah nasib,
Kelaparan adalah nasib,
Kerusakan adalah nasib,
(Sebaiknya)
Panjangkan ingatan kita; Ya sebagai Rakyat, Ya sebagai Bangsa
Bekasi,19.08.2009
Hen Eska
Banyak atau sedikit dalam jumlah peperangan jadi tidak penting, karena kemenangan akan selalu dikenang -oleh rejim waktu- dalam orbitnya.
Seperti kita merayakannya saat republik lahir, semua rakyat menjadi bidannya, semua tanah menjadi bangsalbangsal persalinannya, semua air menjadi nyanyi dan tarian kelahiran.
Itulah kemenangan; dicatat sampai detik ini tanpa reserve, ya memang sudah seharusnya, ya sudah semestinya.
Diterima hingga beranakpinak lalu menjadi tonggak.
Tonggak kulminasi jati diri,
Tonggak hasrat dalam martabat,
Tonggak satunya nusa, satunya bangsa, satunya bahasa.
Siapa saja yang berKTP Indonesia dilarang keras tidak tahu kapan hari lahir bangsanya. Suka tidak suka, semua harus tunduk dalam kenyataan sejarah itu.
Semua, tidak terkecuali (!),
karena hanya inilah monumen kemenangan kita -ya sebagai rakyat, ya sebagai bangsa-. Selebihnya hanya episode yang berakhir dengan dua sisi;
Bahagia dan sedih,
Kebenaran dan kesalahan,
Suka dan duka,
Prestasi dan kegagalan,
Kebetulan dan terencana,
Perang dan damai,
Bersih dan ternodai...seterusnya beradu dalam dua nilai yang saling melawan.
Sekarang menjadi tugas, -ya sebagai rakyat, ya sebagai bangsa- untuk mempertahankan kemenangan itu.
Suka tidak suka, semua tunduk dalam realitas hari ini.
Jika dalam hal mengingat saja kita tidak konsisten, bagaimana kita mampu menjaga kemenangan kita itu?
Karena dengan ingatan itulah kita meramu cara,
Karena dengan ingatan itulah kita berkaca,
Ulur sepanjangpanjangnya....ingatan kita, tentang semua nasib;
Nasib petani miskin yang kehilangan tanahnya,
Nasib gelandangan kecil, tua renta yang memadati keramaian kota,
Nasib nelayan yang mati dilautnya sendiri,
Nasib buruhburuh dan kuli kasar yang tak terjamah iba penguasa,
Nasib anakanak yang putus sekolah,
Nasib prajuritprajurit negara yang berperang melawan dirinya sendiri.
Ulur sepanjangpanjangnya...ingatan kita, tentang semua cara;
Cara kita menjual tambangtambang emas,
Cara kita memelihara tamutamu neoliberalis,
Cara kita memuat gambargambar kebobrokan moral,
Cara kita membiarkan gerombolangerombolan memungut upeti,
Cara kita membangun gedunggedung menantang langit,
Cara kita memperkaya diri,
Cara kita menggali lubang kematian.
Ulur sepanjangpanjangnya...ingatan kita, tentang semua hal;
Hal yang menjadikan arogansi lebih bernyawa,
Hal yang menjadikan popularitas lebih diagungkan,
Hal yang menjadikan kekuasaan lebih dari segalagalanya,
Hal yang menjadikan seremoni selalu digjaya,
Hal yang menjadikan aksara bertutur lebih diterima dengan buta,
Hal yang menjadikan semua serba instan,
Hal yang menjadikan negara seonggok iklan,
Hal yang membuat keseharian kita selalu beradu alasan,
Hal yang membuat pengangguran hiasan utama bangsa,
Hal yang membuat kebenaran tak mendapat tempat,
Hal yang membuat kesalahan selalu berulang.
Ulur sepanjangpanjangnya...ingatan kita, tentang peristiwa;
Pemilu yang ternodai,
Hukum yang tak berlaku adil,
Demokrasi yang seolaholah,
Agama yang kerap dipolitisir,
Terorisme yang merajalela,
Korupsi yang tiada akhir,
Moral yang tergerus,
Kekuasaan yang penuh amarah,
Prilaku politik yang jorok,
Kecelakaan yang mengintai siapa saja,
Gosip yang menebar isu dan rumor,
Narkoba yang gentanyangan disemua ruangan milik kita,
Tontonan remote control.
Anggota parlemen yang mangkir,
Lagu Indonesia Raya yang dilupakan,
Adu debat yang menggiring perdebatan,
Menyelesaikan masalah dengan masalah,
Menuduh sembarangan tak berdasar fakta,
Hutang kita hari ini 1.700 triliyun,
Kerja-kerja inteljen kita yang malah tidak intelejensia,
Kerja serdadu-serdadu kita diperbatasan,
Ledekan-ledekan ditapal batas oleh serdadu asing,
Nasib TKI dan TKW murah kita diluar negeri,
Tayangan tv yang penuh glamour dan tidak mendidik,
Konfrontasi satpol PP dan pedagang kaki lima,
Eksploitasi anakanak kita,
Pelacuran menghiasi malam semua kota,
Pegawai pemerintah yang tak bergaji standar,
Ditanahair kita ini, begitu tipis cinta dan kebencian. Hingga semua hal menjadi sangat relatif. Cerdas dalam memaafkan, cerdas dalam menghakimi, cerdas dalam membohongi, sampai kata maaf itu sendiri kehilangan arti.
Inkonsistensi sikap justru cenderung masif. Hingga semua larut pada nasib;
Kemiskinan adalah nasib,
Kebodohan adalah nasib,
Kelaparan adalah nasib,
Kerusakan adalah nasib,
(Sebaiknya)
Panjangkan ingatan kita; Ya sebagai Rakyat, Ya sebagai Bangsa
Bekasi,19.08.2009
Hen Eska




0 komentar:
Posting Komentar