Senin, 01 November 2010

[Proposal] Revolusi

[Sekedar] Pengantar
Pesan dari Kawan -berjuang- yg dihilangkan rejim orde baru ini; Wiji Thukul, tentang;
“Bunga dan Tembok”
“Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang tak/ Kau kehendaki tumbuh/ Engkau lebih suka membangun/ Rumah dan merampas tanah// Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang tak/ Kau kehendaki adanya/ Engkau lebih suka membangun/ Jalan raya dan pagar besi// Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang/ Dirontokkan di bumi kami sendiri// Jika kami bunga/ Engkau adalah tembok/ Tapi di tubuh tembok itu/ Telah kami sebar biji-biji/ Suatu saat kami akan tumbuh bersama/ Dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ Dalam keyakinan kami/ Di mana pun tirani harus tumbang!”
 
Jalaluddin Rakhmat dalam Rekayasa Sosial (2000: 199-201)
Memetakan secara simplifikatif namun cerdas definisi revolusi dalam tiga kelompok cara pandang.
Kelompok kesatu melihat revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan berskala luas. Inti revolusi terletak pada keluasan dan kedalaman perubahan. Meliputi segala bidang. Di sini, revolusi yang biasanya bersifat “sudden” dan “radical” menjadi lawan dari reformasi yang biasanya “slow” dan “partial”. Perubahan yang gradual, setahap demi setahap.

Kelompok kedua mendefinisikan revolusi dengan titik berat pada penggunaan kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Di sini revolusi adalah lawan dari evolusi. Dan kelompok ketiga mencoba menggabungkan kedua definisi ini. Revolusi terpahami sebagai “perubahan domestik yang cepat, fundamental, dan penuh kekerasan dalam nilai-nilai dominan dan mitos masyarakat, dalam institusi politik, struktur sosial, kepemimpinan, dan kebijakan serta kegiatan pemerintahan” (Huntington, 1968: 264); “transformasi yang cepat, mendasar dari keadaan masyarakat dan struktur kelas… disertai atau sebagian dilakukan melalui pemberontakan dari bawah, berdasarkan kepentingan kelas” (Skockpol, 1979: 4).

Masih ingat, (bahkan) melekat erat di memori ingatan kita tentang Sidang Paripurna DPR beberapa waktu yang lalu. Tentang ketukan palu ketua sidang yang notabene ketua DPR dari Fraksi Demokrat (Marzuki Ali), saya meyakini, inilah persidangan yang tidak saja ngawur tapi sarat dengan adegan-adegan inkonstitusional. Selanjutnya kita tahu; rusuh !. Selanjutnya pula, kita tahu hasilnya; yang dalam voting terbuka menyatakan dana talangan untuk Bank -sakit- Century senilai 6,7 trilyun dicap salah dan bermasalah secara politik (!). Dus, kita juga tahu reaksi SBY atas putusan DPR. Kebijakan itu tidak saja diketahui oleh SBY, tapi dipahaminya sebagai langkah yang benar.
Inilah wajah politik kita. Kekuasaan menjelma menjadi panglima. Instrumen demokrasi hanyalah lips service -tidak kurang, tidak lebih-
 
Dalam beberapa kesempatan, saya selalu menemukan konyolisme retorika dan argumentasi dangkal. Bayangkan, berapa banyak kita menemukan kalimat “rakyat yang mana?”, saat kita terseret dalam penegasan sikap soal rakyat. Ini konyolisme yang saya maksud. Presiden dan DPR sama-sama produk politik rakyat. Saat SBY (selaku presiden dalam sistem presidensial) menegasikan rekomendasi politik DPR sejatinya adalah menolak keputusan rakyat. Sebaliknya, jika syahwat kekuasaan lebih mengedepan dari proses politik yang memakzulkan presiden (dan wapres) tanpa mekanisasi konstitusional juga merupakan penghianatan terhadap rakyat.

Disinilah benang merah peta politik di republik ini seolah menganut sistem superioritas dan inferioritas.
Pertanyaan saya. Adakah revolusi membuat aturan-aturan yang mengikat?
Pendewasaan negeri ini sudah menggoreskan jejak-jejak revolusioner. Untuk itu kekuatan ekstra parlemen, suara jalanan akan menjadi kekuatan mutakhir yang seharusnya dan semestinya akan memuncaki perlawanan.
 
Pramoedya Ananta Toer pernah berujar “Angkatan mudalah yang membuat revolusi”. Begitu kuat roh perlawanan angkatan muda, menurut Pram (lagi) dalam penggalan kalimat salah satu tokoh yang ditulisnya dalam novel “Keluarga Gerilya (2004: 254), Samaan mengatakan, “Revolusi menghendaki segala-galanya… menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini… jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu… agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan.”
Jadi, kalaupun revolusi dipaksa membuat aturan; saya akan menyampaikannya dalam Proposal Revolusi....he..he..he...

Siapa berminat berperanserta, berpartisipasi atau hal lainnya yang mempunyai spirit progresif revolusioner bergantung masing-masing pribadi. Ambil saja sesuai porsi kebisaan, toh selemah-lemahnya iman revolusi adalah saat kita lakukan diskusi tentang perubahan.

Salam Revolusi !
-Hen Eska/2010-



0 komentar:

Posting Komentar