Ini tanah terlanjur bermata air kesedihan. Ini air terlanjur berlumur darah keperihan.
Sebentar lagi, harapan itu menyisakan kematian.
Burung bangkai pesta, cuma malam yang sanggup mengusirnya.
Penghuni istana meniup lonceng kematian.
Seperti lotere; hidup diperjudikan.
Satu per satu diantara kita, bisa lolos dari maut dengan syarat; diam dan tunduk.
Hei...kemurkaan itu milik paduka. Bahkan untuk lamanya kita menghirup udara.
Begitu penjagal mengangkasakan seruan dan maklumat mematikan rasa dan asa yang tersengal ditenggorokan.
Diam? Pemilik diam adalah anti kewarasan, tapi kalian sebut sebagai sekumpulan kuntum bungabunga bangsa.
Pemuja diam adalah benalu yang hidup dalam ketakutan, tapi kalian sebut sebagai punggawa ksatria negara.
Terlalu sering terdengar -hingga membosankan, dan memuakkan-.
Hidup adalah sebuah pilihan. Bukan kataku !
Dan...rentetan mesiu itu menembus semua kita yang tak pernah gagap.
Desingnya mengawang awang. Menghampiri semua sumber lelucon itu.
Kita tidak mati kawan. Ayo bangun, bangkit dan terus melawan.
Lihat peguasa yang tak lagi kita hormati .
Dia bertelanjang dada dalam tawa yang sesungguhnya adalah liur pesakitan.
Dia berdiri menantang yang sesungguhnya adalah hujaman keciutan.
Bertemulah sang akal sehat dalam suara merdu. Memuncaki akal budi. Aku melawanmu !!!
Inilah salam kita; Salam Revolusi !
Berkumandang di halaman rumahrumah kita -meski reyot tak berdinding-
Berkumadang di temboktembok pabrik -meski upah tak seberapa-
Berkumandang di langit kota dan desa -meski lampu padam sekejap dan selamanya-
Berkumandang di sekolah dan kampuskampus -meski berbekal buku lusuh-
Berkumandang di terminal dan stasiun -meski berjejalan dipundak angkot dan kereta busuk-
Berkumandang di markasmarkas serdadu -meski jatah prajurit dikentit-
Berkumandang di kebunkebun garapan -meski tanah bukan milik kita-
Berkumadang di dermagadermaga pelabuhan -meski nelayan tak mampu mendapat ikan-
Terus berkumandang. Tanpa senyap dan kebisuan.
Selama hayat dikadung akal sehat.
Hen Eska
Sebentar lagi, harapan itu menyisakan kematian.
Burung bangkai pesta, cuma malam yang sanggup mengusirnya.
Penghuni istana meniup lonceng kematian.
Seperti lotere; hidup diperjudikan.
Satu per satu diantara kita, bisa lolos dari maut dengan syarat; diam dan tunduk.
Hei...kemurkaan itu milik paduka. Bahkan untuk lamanya kita menghirup udara.
Begitu penjagal mengangkasakan seruan dan maklumat mematikan rasa dan asa yang tersengal ditenggorokan.
Diam? Pemilik diam adalah anti kewarasan, tapi kalian sebut sebagai sekumpulan kuntum bungabunga bangsa.
Pemuja diam adalah benalu yang hidup dalam ketakutan, tapi kalian sebut sebagai punggawa ksatria negara.
Terlalu sering terdengar -hingga membosankan, dan memuakkan-.
Hidup adalah sebuah pilihan. Bukan kataku !
Dan...rentetan mesiu itu menembus semua kita yang tak pernah gagap.
Desingnya mengawang awang. Menghampiri semua sumber lelucon itu.
Kita tidak mati kawan. Ayo bangun, bangkit dan terus melawan.
Lihat peguasa yang tak lagi kita hormati .
Dia bertelanjang dada dalam tawa yang sesungguhnya adalah liur pesakitan.
Dia berdiri menantang yang sesungguhnya adalah hujaman keciutan.
Bertemulah sang akal sehat dalam suara merdu. Memuncaki akal budi. Aku melawanmu !!!
Inilah salam kita; Salam Revolusi !
Berkumandang di halaman rumahrumah kita -meski reyot tak berdinding-
Berkumadang di temboktembok pabrik -meski upah tak seberapa-
Berkumandang di langit kota dan desa -meski lampu padam sekejap dan selamanya-
Berkumandang di sekolah dan kampuskampus -meski berbekal buku lusuh-
Berkumandang di terminal dan stasiun -meski berjejalan dipundak angkot dan kereta busuk-
Berkumandang di markasmarkas serdadu -meski jatah prajurit dikentit-
Berkumandang di kebunkebun garapan -meski tanah bukan milik kita-
Berkumadang di dermagadermaga pelabuhan -meski nelayan tak mampu mendapat ikan-
Terus berkumandang. Tanpa senyap dan kebisuan.
Selama hayat dikadung akal sehat.
Hen Eska




0 komentar:
Posting Komentar