Jumat, 13 Desember 2013

Kekasihku, Ayo Kita Sebrangi Hujan

Masih ingatkah kau tentang deret kata; dibening mata air, tak ada air mata?

Sukacita hidup itu bergandengan dengan lukaduka. Ia memapah kita atau kita yang memanggulnya. Berputar, seperti roda pedati, atau kincir air, sama saja.
Menepilah kita jika malam menggulita tanpa sebutirpun cahaya.
Tapi malam masih terang, hujan tak hentikan tariannya. Luruskan pandangan kita ke jantung hati. Sesungguhnya aku ingin tunjukan kepadamu; tak ada yang tersembunyi!

Masih ingatkah kau tentang tawa nyinyir; hahaha..lakilakinya bodoh, perempuannya tolol!. Hirukpikuk itu berpasangan dengan keheningan. Ia memekakkan telinga atau kita yang merekam redanya. Bersahutan, seperti riak ombak atau angin puting, sama saja.
Biar kupeluk engkau jika dingin membelenggumu tanpa selembarpun ragu.
Tapi malam makin telanjang, hujan makin menggeliat. Benamkan matamu ke jangtungku. Sesungguhnya aku ingin abdikan raga ini; tak ada yang harus bersembunyi!

Kekasihku, ayo kita sebrangi hujan. Dibelantara hujan itulah, ada setangkup rindu yang tumbuh riang. Kupetik setangkai; untukmu malam ini.

(hen eska)

0 komentar:

Posting Komentar