Sabtu, 08 Juni 2013

Taufiq Kiemas Wariskan Empat Pilar Bangsa




Taufiq Kiemas merupakan tokoh lintas suku, agama, ras, dan golongan.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam.

KETUA Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas, 70, meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Singapura, kemarin pukul 19.05 waktu Singapura atau pukul 18.05 WIB, setelah dirawat sejak Selasa (4/6).

Menurut Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo, Taufiq dilarikan ke The Singapore General Hospital dengan diantar istrinya, Megawati Soekarnoputri. Ketua Deperpu PDIP itu mengalami kelelahan pascakunjungan ke Ende, Flores, NTT, pada 1 Juni untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.

Pemangku gelar Datuk Basa Batuah yang lahir di Jakarta, 31 Desember 1942, itu meninggalkan seorang istri, Dyah Permata Megawati Setyawati atau Megawati Soekarnoputri, dan tiga anak, yakni Mohammad Rizki Pratama, Mohamad Prananda Prabowo, dan Puan Maharani Nakshatra Kusyala.

Kabar meninggalnya politikus senior PDIP itu sempat simpang siur. Sekitar pukul 14.00 WIB, kemarin, beredar kabar bahwa Taufiq secara medis telah meninggal. Namun, kabar tersebut langsung diklarifikasi oleh Tjahjo Kumolo. “Alhamdulillah, kondisi semakin membaik.“

Taufiq dikenal sebagai pencetus sekaligus pengawal empat pilar bangsa.
Keempat pilar bangsa yang terus disosialisasikan MPR itu ialah Pancasila, UUD `45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kepergian tokoh yang dikenal dekat dengan semua golongan masyarakat itu tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi duka bangsa Indonesia. Sejumlah tokoh, pejabat, dan mantan pejabat membanjiri rumah duka di Jalan Teuku Umar Nomor 27, Menteng, Jakarta Pusat.

“Di dalam diri almarhum tertanam rasa nasionalisme yang mendalam. Itu terefleksikan dalam sikap perjuangannya,“ kenang Ketua DPR Marzuki Alie atas berpulangnya putra pasangan Tjik Agus Kiemas dan Hamzathoen Roesyda itu.
Kehilangan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh merasa sangat kehilangan sahabat dekatnya itu. Keduanya sudah bersahabat selama 35 tahun. “Hampir selama tiga setengah dasawarsa persahabatan kami yang sangat hangat diisi dengan perbincangan, tukar pikiran, juga membahas soal-soal kebangsaan, terutama bagaimana memperkukuh Pancasila dan UUD 1945,“ kata Surya Paloh, tadi malam.

Kendati dalam kurun 35 tahun tersebut berada di partai yang berbeda, ucap Surya, tidak ada perbedaan dan selisih paham di antara mereka soal paham kebangsaan.

“Bahkan, saat saya menjadi Ketua De wan Penasihat Partai Golkar, yang saat itu partai pemerintah, dan almarhum Ketua Deperpu PDIP yang notabene oposisi, kami terus berupaya menggagas terciptanya aliansi kebangsaan yang dimulai dari Golkar dan PDIP,“ ungkap Surya.

Gagasan itu dimunculkan saat di Medan dan dilanjutkan di Palembang, Sumatra Selatan. “Kami hampir selalu merasa kehabisan waktu kalau sudah bicara kebangsaan.
Waktu terasa berjalan lebih cepat.“

Saat Surya memimpin Partai NasDem, persahabatan mereka pun tetap terjalin.
Sedianya Taufiq diundang memberikan pembekalan kepada para bacaleg Partai NasDem pada 2-6 Juni lalu di Ancol. “Namun, beliau tidak bisa hadir karena sakit.“

Presiden Yudhoyono menggelar konferensi pers di kediamannya di Puri Cikeas, tadi malam, guna menyampaikan dukacita.
“Kita kehilangan seorang tokoh terbaik bangsa,“ ujar Presiden.

Menurut rencana, pagi ini jenazah almarhum akan dibawa dari Singapura ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Diperkirakan jenazah tiba pukul 09.30 WIB dan dijemput Presiden Yudhoyono.

Sekitar pukul 10.30 WIB jenazah akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, di samping makam kedua orangtuanya. Untuk mengenang jasa-jasa almarhum, Presiden meminta masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang selama dua hari. (Kid/Mad/RA/P-3) fidel@mediaindonesia.com Kirimkan tanggapan Anda atas berita ini melalui e-mail: interupsi@mediaindonesia.com Facebook: Harian Umum Media Indonesia Twitter: @MIdotcom Tanggapan Anda bisa diakses di metrotvnews.com

0 komentar:

Posting Komentar