Minggu, 26 Mei 2013

Korban Intoleransi Desak SBY Berpikir Ulang


TORIE NATALLOVA

Di tengah sikap penolakan rakyatnya, Presiden tetap berangkat ke New York, Amerika Serikat, untuk menerima penghargaan. Presiden harus berpikir ulang karena tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi di Tanah Air.

KOMUNITAS korban kekerasan atas nama agama kemarin menganugerahkan penghargaan ‘The World Statements on Religious Freedom’ kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan diberikan untuk mengingatkan Presiden akan masih maraknya intoleransi umat beragama dan konflik antaretnik. Penghargaan dalam bentuk piala setinggi dua meter itu diarak oleh sekitar 100 orang yang merupakan jemaat GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Islam Syiah, Komunitas Sunda Wiwitan, Solidaritas Perempuan, dan beberapa aliansi lintas agama.



Aksi penyerahan penghargaan buat Presiden itu didahului oleh ibadah jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfi a di pinggir jalan seberang Istana. Itu akibat ketiadaan rumah ibadah buat mereka karena masih diganjal oleh pemerintah daerah. “Tujuan kami memberi piala ini agar Presiden sadar dengan kondisi yang sebenarnya terjadi. Mudah-mudahan pemberian penghargaan ini akan menjadikan Presiden lebih tanggap lagi kepada kaum minoritas yang tertindas,” ujar Pendeta Erwin Mardun, salah satu peserta aksi yang ikut mengarak piala itu.

Di atas piala itu, berdiri tegak lambang negara Burung Garuda dan di bawahnya fotofoto kekerasan yang di alami oleh kelompok minoritas. “Simbol negara yang berada di atas piala merupakan simbol dari persatuan. Kami di sini berharap tidak ada lagi sikap intoleransi, seperti yang terlihat di foto-foto itu,” tambah Erwin. Di tempat yang sama, perwakilan dari GKI Yasmin, Renata Anggraeni, mengatakan penghargaan tersebut sengaja dipersembahkan untuk mendahului pemberian penghargaan World Statesman Award dari yayasan Appeal of Conscience Foundation kepada Presiden. Mereka berharap Presiden mau berpikir ulang menerima penghargaan dari yayasan itu karena tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi di Tanah Air. “Kami para korban kekerasan atas nama agama berharap penghargaan ini sebagai perhatian kepada Presiden agar sebelum menerima penghargaan itu beliau membenahi dulu intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang masih saja terjadi,“ kata Renata.

Tetap terima di kesempatan terpisah, saat menghadiri puncak perayaan Dharmasanti Waisak Nasional 2013 umat Buddha Indonesia di Hall D Arena Pekan Raya Jakarta, kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tetap akan menerima penghargaan dari yayasan asing tersebut. Ia menegaskan pemerintahannya telah berhasil dalam beberapa tahun terakhir menghilangkan perlakuan diskriminatif kepada etnik dan umat beragama tertentu, melalui UU dan peraturan pemerin tah. Jika bangsa lain menghargai kemajemukan dan sikap toleransi bangsa Indonesia itu, menurut Presiden, hal itu merupakan kehormatan dan juga menjadi keharusannya menginstrospeksi diri. “Jika bangsa lain menghargai kemajemukan dan sikap toleransi bangsa kita, tentu itu merupakan kehormatan atas apa yang kita bangun, perjuangkan, dan buktikan bersama selama ini,“ ujar Presiden.


Rencana Presiden yang bersedia menerima penghargaan itu juga ditegaskan Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah. Bahkan hari ini Presiden dijadwalkan meninggalkan Tanah Air menuju New York, Amerika Serikat, untuk menerima penghargaan itu pada 30 Mei mendatang. “Sementara aksi protes yang ada, itu merupakan sesuatu yang lazim di negara demokrasi. Situasi serupa juga terjadi dalam pemberian penghargaan bidang keilmuan atau perdamaian, seperti Nobel sekalipun. Jadi, kalau ada polemik, itu lazim saja,“ ujarnya. (Mad/*/P-1) 

Sumber: mediaindonesia.com

0 komentar:

Posting Komentar