Kawan, kita berhaluan politik yang berbeda secara diametral. Berbeda secara tajam dalam hal-hal yang mendasar bukan yang samar. Tak apa, biarlah itu menjadi nokhtah pembeda yang menunjukkan adanya kita. Seperti hari-hari yang kita lewati dalam muncratan dialektika, tak kunjung putus, tak kunjung berkesimpulan. Kecuali kalimat; kita beda!.
Aku menolak tunduk, engkau hempaskan rasa takluk. Begitu seterusnya diskus-diskusi yang kita gelar sepanjang malam tadi. Pisau analisa dan khasanah bahasa berdialektika kita makin tajam dan berwarna-warni. Itu membanggakan. Mengimajinasikan sebuah dialog-dialog penaklukkan sebuah proposisi, sebuah konsep dan gaya berbahasa. Apa aku bosan, atau engkau hendak jenuh?. Buatku, itulah peperangan akal budi, entah buatmu apa maknanya.
Dititik didih yang mengepulkan buih-buih panas tampak barisan tutur kata kita sebagai orang-orang yang marah. Marah karena semua argumentasi tak pernah bertemu hingga yang paling sepele sekalipun. Sampai buih-buih panas itu mendinginkan kita, mengaliri tenggorokan, tapi kita masih memanaskan akal budi masing-masing.
Kawan, kita semakin haus perdebatan. Lapar untuk bertemu, bertemu dan bertemu dalam banyak diskusi baru. Aku takkan berubah dalam pandangan yang bisa kujabarkan, semoga kau juga semakin mahfum dalam sikap yang tak goyah. Berjanjilah.




0 komentar:
Posting Komentar