Jumat, 24 Mei 2013

Diamnya Aku

Aku memilih diam dalam dekapan angin

Sebutir demi sebutir air yang mengembun menjadi jelaga
Menggenangi reruntuhan perkelahian kita
Semesta subuh yang membuatku urung melelapkan lebih jauh
Angin semakin kuat memelukku, bahkan membua nafasku tersengal
Adakah ia cemburu?

Jika matahari menyumbangkan sinar paginya untuk kehidupan
Kemana bagianku? Aku memilih diam
Semua yang hidup berkejaran, enggan tertinggal matahari
Tapi selembar sinar sudah kulipat di kedua kelopak mataku
Kujadikan cermin. Untuk melihat rupaku sendiri
Adakah engkau cemburu?

0 komentar:

Posting Komentar