Senin, 15 Agustus 2011

Kemerdekaan dan Nestapa Rakyat Miskin


Bila ditanyakan arti kemerdekaan kepada pedagang kaki lima di mana tempat berjualannya digusur semena-mena, atau warungnya dirobohkan secara paksa di depan mata penghuninya, di sela-sela teriakan dan tangisan, maka kemerdekaan merupakan omong kosong.
Begitu pula bila ditanyakan kepada para buruh yang ditipu oleh majikannya, dan pemerintah yang diminta membela tak bisa berbuat apa pun, kemerdekaan hanyalah fakta sejarah.
Kemerdekaan tidak berhasil menjiwai perikehidupan masyarakat karena ia hanya berhenti sebagai fakta sejarah formal. Kemerdekaan adalah cerita masa lalu dan tidak terlalu berkaitan dengan masa kini

Keharuan maupun keceriaan di dalam berbagai perlombaan, pemutaran film, upacara pengibaran bendera, kerja bakti memerahputihkan kampung sering kali hanya merupakan seremoni agustusan. Rutinitas yang mencoba memaknai heroisme.
Kemerdekaan kita baru sebatas kata-kata. Kemerdekaan masih sulit menjadi jiwa perikehidupan masyarakat sebab semua orang ingin meraih ”kemerdekaannya” sendiri-sendiri. Jiwa kemerdekaan sebagai kesatuan rasa kolektif kebangsaan berubah menjadi keserakahan pribadi-pribadi untuk memiliki kemerdekaan masing-masing.
Makna kemerdekaan itu terasa begitu sempit bila hanya merasa merdeka dari penjajah pada 17 Agustus 1945.
Seolah-olah setelah kemerdekaan itu kita tak lagi memiliki musuh bersama, atau tak ada lagi yang bisa kita jadikan sebagai musuh bersama. Padahal, seiring dengan perubahan era, masih banyak musuh yang harus dihadapi bersama.
Menengok kehidupan masyarakat yang kian sengsara di dalam bangsa yang merasa merdeka ini, sudah sepatutnya evaluasi dan koreksi diri. Kemerdekaan bukanlah sekadar upacara di tanah lapang, melainkan memberikan kelapangan yang luas kepada segenap rakyat untuk mengisi kemerdekaan ini tanpa gangguan.
Keadilan yang kian hari kian melepuh ibaratnya api dalam sekam. Ketidakadilan merupakan musuh yang terus-menerus menggerogoti jiwa kemerdekaan 1945.
Siapakah tidak khawatir bila jiwa kemerdekaan 1945 suatu ketika akan runtuh karena kesadaran elite untuk bersikap adil terhadap rakyatnya tergerus oleh sikap egois, cinta kekuasaan, dan nafsu serakah golongan.
Tanpa meremehkan arti kemerdekaan 1945, inilah fakta kehidupan bangsa ini sepanjang merdeka.
Dialektika ”mengisi kemerdekaan” selama 66 tahun itu sering kali berisi pepesan kosong bagi kaum miskin papa. Mereka seolah bukan pribadi yang berhak menikmati kemerdekaan ini.
Para pahlawan yang telah gigih berjuang di masa lalu sudah tentu tak pernah membayangkan kehidupan anak yang kesulitan untuk mengakses pendidikan. Faktanya, berapa juta anak-anak kita yang justru merasa sengsara karena harus berpendidikan, atau bahkan lebih sengsara karena sulitnya berpendidikan?
Para elite bangsa ini harus bertanggung jawab atas berbagai permasalahan yang menyangkut nestapa kehidupan rakyat di masa kemerdekaan ini.
Mereka telah banyak memperlakukan negara dan kekuasaan bukan untuk membuktikan kesungguhan kemerdekaan 1945, melainkan meremehkannya dengan cara berbuat tidak adil dan menghambat kreativitas masyarakat.
Para elite bangsa yang tidak merasa keliru mengelola negara ini, dengan menghamba pada neo-imperialisme asing maupun utang luar negeri, sudah saatnya menyadari dampak yang semakin parah dari ketidaksiapan bangsa ini menghadapi globalisasi.
Kita nyaris tidak memiliki nilai tawar di mata internasional. Bahkan lebih buruk, pembangunan yang telah dijalankan sepanjang masa ini sebagian besar sudah jelas diperuntukkan siapa, ialah untuk kepentingan orang kaya dan penguasa semata.
Kaum Miskin
Masyarakat miskin tetap menjadi objek derita dari semua sandiwara elite-elite kekuasaan. Kemiskinannya bahkan menjadi komoditas yang diperjualbelikan untuk keuntungan tertentu. Ini semua dilakukan dalam situasi dan kondisi yang disebut merdeka ini.
Merdeka bermakna bebas dari penjajahan, siapapun penjajah itu, secara fisik maupun mental. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajah di suatu periode tertentu. Merdeka bermakna kolektif, di mana kemerdekaan kolektif menjadi cerminan dari kemerdekaan individual. Bukan sebaliknya.
Kaum miskin butuh hak untuk menikmati kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya milik elite politik dan orang kaya saja. Kemerdekaan yang terjadi saat ini masih belum merata. Tidak semua jiwa yang hidup di Tanah Air ini bisa menikmati kemerdekaan dalam arti sesungguhnya.
Semakin tua umur kemerdekaan bangsa ini sudah sepatutnya melahirkan sebuah bangsa dengan elite yang lebih bijak. Semakin tua umur kemerdekaan sudah sewajarnya menambah kedewasaan berpikir, merasa, dan bertindak.
Kemerdekaan 1945 memiliki makna yang teramat dalam bagi sebuah pembebasan umat manusia dari belenggu. Ketidakadilan ekonomi, agama, sosial, budaya, dan politik adalah bentuk ketidakmerdekaan. Membiarkan ketidakadilan terus berkembang menghiasi bumi pertiwi sama saja dengan membiarkan pengkhianatan terhadap arti kemerdekaan.
*Penulis adalah pemerhati sosial

0 komentar:

Posting Komentar