Albert Camus (1913 – 1960) Novelis, esais dan penulis drama berkebangsaan Perancis yang memperoleh Nobel sastra pada 1957. Camus berkawan dekat dengan sesama eksistensialis, Jean Paul Sartre pada 1940-an, namun putus hubungan dengannya karena perbedaan pendapat. Camus meninggal dalam kecelakaan mobil di dekat Sens, Perancis pada 4 Januari 1960.
Hanya ada satu persoalan filsafat yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri. Memutuskan apakah hidup layak diteruskan atau tidak adalah persoalan mendasar di dalam filsafat. Semua persoalan lainnya berasal dari itu. (Camus, Le Mythe de Sisyphe)
Albert Camus lahir pada 7 November 1913 di Mondovi, Aljazair dari keluarga kelas pekerja. Ibunya adalah wanita tukang bersih-bersih yang buta huruf dan ayahnya pekerja pertanian yang berpindah-pindah, yang terbunuh dalam PD I di Perang Marne. Pada 1923 Camus meraih beasiswa ke lycee di Aljazair, tempat dia belajar dari 1924 sampai 1932. TBC yang mulai menyerang menghentikannya dari aktivitas atletiknya, dan penyakit itu menganggu hidupnya sepanjang hayat. Antara 1935 sampai 1939 Camus mendapatkan bermacam-macam pekerjaan di Aljazair dan bergabung dengan Partai Komunis.
Pada 1936 Camus menerima diplome d’etudies superieures dari Universitas Aljazair di bidang filsafat, dan untuk memulihkan kesehatannya dia mengunjungi Eropa untuk pertama kalinya. Buku pertama Camus, L’Envers et L’Endroit, sebuah koleksi esai, terbit pada 1937. Sejak saat itu reputasi Camus di Aljazair sebagai penulis terkemuka mulai bertambah. Dia juga aktif dalam teater. Pada 1938 Camus pindah ke Perancis, dan tahun berikutnya bercerai dengan istrinya, Simone Hie, yang kecanduan morfin. Sejak 1938 sampai 1940 Camus bekerja untuk Alger-Republicain dan pada 1940 untuk Paris-Soir. Dia menikahi Francine Faure pada 1940 dan mengajar di Oran, Aljazair, pada 1942.
Selama Perang Dunia II Camus menjadi anggota perlawanan Perancis. Dia menjadi korektor dan editor dari seri Espoir pada penerbitan Gallimard sejak 1943 dan bersama Sartre mendirikan koran sayap kiriCombat, di mana dia menjabat sebagai editornya. Novel keduanya, L’Estranger, yang ditulisnya di Algeria sejak sebelum perang, terbit pada 1942. Novel ini dianggap sebagai salah satu dari novel matang yang terbesar, dan difilmkan pada 1967.
Manusia absurd tidak akan melakukan bunuh diri; tetapi dia ingin hidup, tanpa menanggalkan semua keyakinannya, tanpa satu masa depan, tanpa harapan, tanpa ilusi, dan tanpa penyerahan diri. Dia menatap kematian dengan perhatian penuh gairah dan pesona ini membebaskannya.” (dari analisis Sartre atas Mersault, tokoh protagonis dari The Stranger, dalam Literary and Philosophy Essays, 1943)
Pada 1942 terbit esai filosofis Camus, Le Mythe de Sisyphe. Camus membandingkan absurditas eksistensi manusia dengan usaha tokoh dongeng Sisyphus, yang dikutuk untuk selamanya mendorong naik sebuah batu besar ke puncak bukit dan lalu tanpa daya melihatnya berguling lagi ke bawah. Camus tak menganggap Tuhan ada dan menemukan makna di dalam perjuangan itu sendiri. Pada 1947 Camus mengundurkan diri dari Combat dan menerbitkan novel ketiganya pada tahun yang sama, La Peste, sebuah alegori tentang pendudukan Nazi di Perancis — kisahnya tentang sebuah kota kecil yang secara mendadak terpaksa hidup di dalam batas-batas sempit di bawah teror – kematian ada di mana-mana. Dalam pengepungan itu beberapa orang mencoba bertindak secara moral, yang lainnya jadi pengecut, dan yang lainnya dengan cinta.
Setelah berseteru dengan Sartre, Camus menulis L’Homme Revovete (1951), yang berisi penjelasan teori dan bentuk-bentuk pemberontakan manusia melawan otoritas. Dari 1955 sampai 1956 Camus bekerja sebagai wartawan untuk L’Express. Di antara karya-karya utamanya pada akhir 1950-an adalah La Chute (1956), sebuah novel ironik di mana hakim Jean-Baptist Clamence menyesal dan mengakui kejahatan moralnya terhadap seseorang di bar Amsterdam. Jean-Baptise mengungkapkan kemunafikannya, tetapi pada saat yang sama monolognya menjadi serangan kepada manusia modern.
Sebelum meninggal, Camus tengah merencanakan menyutradari teaternya sendiri dan menulis novel besar tentang proses kedewasaan di Aljazair. Beberapa cerpennya dalam L’Exile et la Royaume (1957) di tempatkan pada latar belakang kota-kota pantai dan hamparan pasir yang tak ramah, di mana gurun itu dilihat sebagai simbol kekosongan jiwa. Novel La Mort Heureuse (1970) yang tak selesai, ditulis pada 1936-1938. Novel ini menghadirkan Camus muda, atau Patrice Mersault, yang mencari kebahagiaan dari Praha ke kota kelahirannya di Aljazair.
Pada menjelang akhir buku itu ia menyatakan: “Yang penting – semua hal yang penting, sesungguhnya – adalah keinginan untuk bahagia, semacam kesadaran luar biasa yang senantiasa hadir. Selebihnya – perempuan, seni, keberhasilan – tak lain adalah dalih.” Dalam Le Premier Homme (1994) dia menulis tentang sejarah keluarganya. Manuskrip yang belum rampung ini ditemukan di dalam mobil di mana dia meninggal. Karya Camus lainnya diantaranya adalah Caligula (1945); Essais (1965); Lyrical and Critical Essays (1965); dan lain-lain.
Tri Wibowo BS / Mbah Kanyutz



0 komentar:
Posting Komentar