
Selasa, 07/06/2011 09:49 WIB
"A"
- Huruf "A" tiba-tiba jadi primadona. Padahal berabad-abad sudah huruf “A” berdiri di depan mengepalai barisan sepasukan aksara atau alphabet. “A” juga tak pernah dikudeta soal ini. Huruf B sampai Z tidak mau nyalip. Mereka patuh pada nasib dan kodrat positioning nya : sampai hari ini. Dipatok jadi huruf kedua, ketiga dan seterusnya dengan komitmen kuat tak saling menelikung.
Huruf memang taat azaz, patuh nilai, karena kesadaran yang tinggi akan porsi dalam kehidupan sebuah kalimat. Kalau kemudian "A" jadi ramai karena seorang Ramadhan Pohan yang wakil Sekjen Partai Demokrat membuat pernyataan dalam silang-sengkarutnya wacana serangan gaya politisi, itu justru mengalienasi "A" dari habitat huruf atau aksara sebesar "A" itu sendiri.Ramadhan Pohan (RP) membuat "A" misterius ! Padahal "A" adalah ujung tombak aksara. Ia mengerdilkan "A". Jiwa yang tak pernah tampak dalam wujud hidup "A" selama ini.
Lalu untuk apa RP melempar "A" dengan sembrono ? Berdiri sebagai "A" saja sudah punya makna: Tidak ! Semisal ; Ahistoris, Animisme, Asusila, Amoral, Adialog. Adalah sedikit yang bisa menunjukkan betapa kuat karakter "A" bisa membuat perubahan makna sebuah kata. Bahkan yang simetris menjadi bertolak belakang. Dahsyat sekali.
Menariknya, RP sepertinya kehilangan diksi atau pilihan kata untuk melakukan komunikasi politik secara elegan. Karuan hak inisial "A" akan melahirkan banyak asosiatif. Setidaknya mewakili yang diindikasikannya dari serpihan tiap kata berikuti : "pasti orang luar partai demokrat", "dulunya baik", "pemain lama". Publik meresponnya biasa saja. Mungkin capek dengan polah tingkah laku politisi yang asal jeplak.
Tapi tidak demikian dengan pertarungan di ranah politik sesungguhnya. Ada tokoh politik yang familiar berinisial depan "A". Aburizal Bakrie yang ketua umum Partai Golkar, Akbar Tanjung yang ketua dewan pembina Partai Golkar, atau malah Amien Rais. Dua nama dari Golkar tampaknya lebih punya korelasi dengan tudingan "A". Golkar sudah jadi kerikil dalam sepatu di tubuh koalisi.
Cerita panjang bulan madu politik kompromi yang dibangun SBY-Boediono sejak awal dirusak Golkar lewat Century yang berhasil mengirim Sri Mulyani jadi TKW. Episode berlanjut sejalan dengan pernak-pernik isu semacam Gayus dan berujung pada pansus mafia pajak. Bola panas ternyata sekarang lebih dikanalisasi. Dipersempit. Tak lain karena buruannya 'hidup' di internal Demokrat.
Adalah Nazarudin sang Bendahara Umum yang belakangan dipecat SBY sebagai pengendali keuangan partai. Nazarudin meradang. Kabur ke Singapura atas restu pimpinan fraksinya di DPR. Dengan alasannya klasik hendak berobat.
Dan KPK kehilangan jejak untuk bisa leluasa menghadirkan sosok Nazarudin sebagai pemasok informasi dalam korupsi wisma atlet yang ditengarai banyak melibatkan tokoh penting Partai Demokrat itu.
Ah, kita makin dibuat hilang kesadaran berpijak. Tiba-tiba SBY meradang juga karena mendapat SMS gelap. Dan fase inilah yang mendorong RP melemparkan "A" sehina hari ini.
Soal ini kemudian saya berkesimpulan pada hakekat "A" sebagai TIDAK. Jadi "A" yang diperdebatkan itu memang sosok yang tidak ada.
Hen Eska, Penggiat di Kelompok Kerja Dekade Kritis (Pokja Dekrit). Tinggal di Kota Bekasi
Dimuat di:http://bekasiterkini.com/read/2717/a



0 komentar:
Posting Komentar