Di ubunubun kepalamu itu, apa yang tersembunyi?
Uraikan dan katakan saja. Jangan disimpan sendiri. Negeri ini milik ramairamai.
Tentang istana yang sombong dan orangorang yang menggelar kenduri kemenangan tipis penjegalan hak angket pajak.
Yang dihadiri tetamu parlente dengan mobilmobil keluaran baru hasil memenjarakan lawanlawan politiknya.
Tentang gubug reyot aktoraktor utama disetiap perempatan kota.
Yang gembira menyandang gembel dan pulang main dadu lotere sesama gembel.
Atau soal lakilaki yang pandai merayu perempuan untuk dibawa kelangit kenikmatan.
Dan soal perempuan yang sengaja keluar rumah dengan rok mini dan tanpa BH.
Ya sudah. Bilang saja. Jangan menjadi ragu dan tibatiba terperangkap malu.
Didepan istana, ucapkan salam pada paduka dan seluruh hulubalangnya. Begitulah adab panggung untuk pemilik kuasa.
Jangan katakan yang membuat penguasa murka dan memanggil anjinganjing penjaganya. Bisa mati kau !
Mulailah dengan mengangkat jempol tinggitinggi. Pertanda engkau pemujanya.
Didepan gubug reyot, telan lidahmu dalamdalam. Hingga kau tersadar; inilah kehidupan nyata.
Jangan ajari mereka hidup. Karena mereka bertarung melawan kehidupannya sendiri.
Biar saja carutmarut wajah mereka menjadi guratan rasa bertahan dari harapan yang hilang.
Kalau kau lakilaki. Berapa perempuan yang sudah kau tiduri. Itulah cara lakilaki mengilhami jiwanya yang sombong.
Lakilaki yang gagal.
Kalau kau perempuan. Berapa lakilaki yang sudah menindihmu. Itulah cara perempuan menodai kesucian yang putih.
Perempuan yang gagal.
Ternyata kau tak juga bilang sepatahpun. Tentang apa yang tersembunyi itu.
Kecuali saat kau menunjukdiri; kearah dubur !
Baiklah. Biar duburmu yang bicara.
Penghuni istana kami terlahir dari dubur.
Penggembala malam yang memadati semua perempatan jalan juga dipaksa lahir dari dubur.
Lakilaki dan perempuan yang terlanjur menyandang nama tenar, ternyata diminta juga lahir dari dubur.
Stop, jangan lanjutkan cacimakimu dari dubur itu. Bagimana dengan cinta?
Di republik ini, cintapun terpaksa lahir dari dubur. Itu saja katamu.
hen eska
27 Februari 2011




0 komentar:
Posting Komentar