Kudeta pada matahari terus berlanjut hingga maghrib menjemput..Tp kesabaran dlm persahabatannya dg rembulan dan semua bintang...akan membuat kesadaran malam tergugah; untuk apa saling meniadakan?
--Postingan di Grup Kita Bersahabat:http://www.facebook.com/home.php?sk=group_138519496212774
Sejak minggu malam, 13/2, pk.02.50 gemericik air yang awalnya gerimis berlahan, membesar dan menderas. Ternyata hujan datang tak tiba-tiba. Gerimis isyaratnya. Barangkali kalau kulongokkan kepalaku keluar jendela lalu membelalakkan mata menjulang kearah langit malam, jawabanya; mendung tebal, isyarat hujan. Toh tanganku tetap asyik menari diatas keyboard laptop sederhana yang selalu membawaku ke puncak angkasa dunia maya.
Angin malam dan suara hujan seperti menumpah beriringan. Aku cuek saja. Toh kita tidak saling mengganggu. Sampai pada akhirnya, menjelang subuh, aku terkulai (bahkan melewatkan sholat subuh yang cuma 2 rokaat itu). Seperti biasa, alarm membangunkanku. Pukul 06.30. Cukup waktu untuk meregangkan badan yang kupaksa berjingkrakkan semalam dilintas maya. Ya fesbuk, twitter, netlog, atau gerilya di portal-portal berita.
Ternyata hujan masih berlangsung dengan curah lumayan. Terbersit dalam hati, "hujan koq gak berhenti sejak semalam". Padahal semua orang tengah bersiap merayakan hari valentine. Konon ini hari kasih sayang !. Entah mana yang benar. Tafsiran sesat, atau riwayat yang memang hidup dibelahan bumi ini. Tak terlalu penting untuk kucari sumber ikhwal valentine days itu. Setahuku, dulu aku sempat merayakannya. Ada kumpul-kumpul dengan teman sebaya. Serba pinky. Utamanya adalah kado boneka dan sekotak coklat.
Ah, hujan makin deras. Tapi aktifitas tak boleh terhenti karena hujan. Berangkat dengan payung lusuh dan terkesan lebay. He..he..he..naik becak langganan; Pak Hambali. "Kehujanan donk pak !,"ujarku pada becak yang dikayuh singa tua macam pak Hambali ini. "Gak kehujanan, ya gak makan mas,"katanya sambil perlahan mengayuh becaknya. Ongkosnya 5 ribu rupiah.
Berlalulah semua waktu, hingga tak terasa sudah pukul 5 sore. Masih mendung dan sedikit gerimis yang tercecer. Berarti seharian matahari tak menampakkan jatidirinya. Olala...matahari ketiduran atau sedang ngambeg? Dijalan-jalan warna pink menebar simbol-simbol kasih sayang. Pusat pertokoan, mal dan hotel serba pink. Sementara disisi yang lain, segerombolan aktivis anti valentine berteriak "Tolak Valentine". Hmmmm, pro-kontra lagi. Ya biar saja, gak penting buatku.
Justru tak munculnya matahari mejadi penting untuk dipikirkan, dirasionalisasikan sekaligus diimajinasikan. Ketemu kata kuncinya; kesabaran. Matahari cukup sabar dikudeta alam. Hingga tak muncul dalam track dan domain keniscayaannya. Muncul dari pagi da terbenam di sore hari. Tapi hari ini matahari luarbiasa sabar, mendelep sampai maghrib menjemput. Entah sampai besok atau lusa, matahari masih tersandera atau kembali ke rutinitas hariannya.
Kesabaran matahari itulah yang kuanggap guru sesungguhnya. Dalam rasionalitas kita dan juga imajinasi kita. Ia tak berontak dan protes pada kehendakNya. Sekalipun itu hal yang sangat mungkin dilakukan perlawanan jika menyangkut alam pikir manusia. Seperti yang pro dan kontra soal valentine. Menankjubkan bukan?
Salam Hen Eska, 14 Februari 2011



0 komentar:
Posting Komentar