![]() |
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Warga dengan tubuh berlumur abu vulkanik mengungsi ke Stadion Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, pascaerupsi Gunung Merapi, Jumat (5/11/2010) dini hari |
Oleh: Tubagus Januar Soemawinata (Universitas Nasional)
BENAR-BENAR jaman edan. Hanya ucapan ini yang saya anggap cukup pantas dikeluarkan. Betapa tidak. Di tengah-tengah orang bergumul dengan penderitaan. Di tengah-tengah tenda pengungsian dan tangisan anak balita yang kelaparan. Bukan pertolongan yang pertama kali kita berikan. Namun justeru orang-orang yang kemaruk kekuasaan. Yang haus akan nama besar sibuk memasang dan mendirikan bendera partai-partai. Dengan berdirinya bendera-bendera tersebut, seolah-olah mereka telah berbuat banyak. Seolah-olah partai telah berbuat sesuatu untuk rakyat. Padahal?
Di Mentawai, korban tsunami banyak warga yang menjerit dan menangis histeris. Karena bantuan yang diharapkan, yang digembar-gemborkan melalui media terutama televis, tak kunjung tiba. Mereka hanya menghitung-htung saja jumlahnya saja. Misalnya partai Anu menyumbang sekian dus mie instan. Partai memble menyumbang sekian karung beras. Partai asal bunyi membantu sekian karung pakaian pantas pakai. Dan lain sebagainya. Sekali lagi itu hanya sekedar hitungan, bilangan, yang belum terasakan benar menfaatnya untuk orang yang dibantu. Mengapa?
Sebab barang-barang itu masih menumpuk. Barang-barang itu sebagian besar hanya sampai di Padang. Bahkan ada yang baru sampai di pelabuhan. Dengan alasan transportasi sulit. Dengan alasan alat angkutnya belum ada dan sebagainya. Anehnya untuk mengirim bantuan mereka kewalahan. Saat mendirikan bendera partai-partai mereka tidak masalah dan enak saja. Jadi benderanya dulu yang sampai. Sementara bantuannya menunggu sampai busuk atau kadaluarsa.
Keadaan ini tidak hanya untuk korban tsunami di Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Namun juga untuk korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan untuk para korban banjir banding di Wasior, Papua Barat dan muisibah lainnya di negeri ini. Ini membuktikan, selain orang kita rakus dan mabuk kekuasaan. Mereka juga nuraninya telah tercerabut. Hatinya telah berubah jadi batu. Akibatnya, rasa malu sudah tidak ada lagi. Rasa ewuh pakewuh sudah lama ditinggalkan. Sopan-santun menjadi barang langka.
Akibat lainnya. Lihat saja banyak anggota DPR yang terjerat masalah. Dari kasus korupsi sampai esek-esek. Dari kasus duit sampai dengan makelar kasus. Dan meskipun hal ini kerap terungkap dan jadi santapan empuk kalangan pers. Mereka tertawa-tertiwi, seakan-akan tanpa dosa. Wajahnya terluhat polos seolah-olah bayi yang baru lahir. Sungguh menjijikan. Dan ironisnya ini terjadi secara berjamaah. Terjadi beramai-ramai seolah-olah ingin mengatakan kalau yang tidak cepat tidak kebagian. Naudzubillah mindalik.
Karena itu melalui tulisan ini saya ingin mengadu kepada Tuhan. Ingin menyampaikan keluh kesah dari hati yang gundah. Ingin menyampaikan uneg-uneg dan pesan dari teman sependeritaan. Tuhan, tolong ingatkan mereka. Tunjukkan kepadanya jalan yang lurus dan benar. Yaitu jalannya orang-orang yang mendapat petunjuk dari Mu. Bukan jalannya orang-orang yang tersesat dan pengikut setan. (*)
[sumber: Jakartapress.com]
Di Mentawai, korban tsunami banyak warga yang menjerit dan menangis histeris. Karena bantuan yang diharapkan, yang digembar-gemborkan melalui media terutama televis, tak kunjung tiba. Mereka hanya menghitung-htung saja jumlahnya saja. Misalnya partai Anu menyumbang sekian dus mie instan. Partai memble menyumbang sekian karung beras. Partai asal bunyi membantu sekian karung pakaian pantas pakai. Dan lain sebagainya. Sekali lagi itu hanya sekedar hitungan, bilangan, yang belum terasakan benar menfaatnya untuk orang yang dibantu. Mengapa?
Sebab barang-barang itu masih menumpuk. Barang-barang itu sebagian besar hanya sampai di Padang. Bahkan ada yang baru sampai di pelabuhan. Dengan alasan transportasi sulit. Dengan alasan alat angkutnya belum ada dan sebagainya. Anehnya untuk mengirim bantuan mereka kewalahan. Saat mendirikan bendera partai-partai mereka tidak masalah dan enak saja. Jadi benderanya dulu yang sampai. Sementara bantuannya menunggu sampai busuk atau kadaluarsa.
Keadaan ini tidak hanya untuk korban tsunami di Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Namun juga untuk korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan untuk para korban banjir banding di Wasior, Papua Barat dan muisibah lainnya di negeri ini. Ini membuktikan, selain orang kita rakus dan mabuk kekuasaan. Mereka juga nuraninya telah tercerabut. Hatinya telah berubah jadi batu. Akibatnya, rasa malu sudah tidak ada lagi. Rasa ewuh pakewuh sudah lama ditinggalkan. Sopan-santun menjadi barang langka.
Akibat lainnya. Lihat saja banyak anggota DPR yang terjerat masalah. Dari kasus korupsi sampai esek-esek. Dari kasus duit sampai dengan makelar kasus. Dan meskipun hal ini kerap terungkap dan jadi santapan empuk kalangan pers. Mereka tertawa-tertiwi, seakan-akan tanpa dosa. Wajahnya terluhat polos seolah-olah bayi yang baru lahir. Sungguh menjijikan. Dan ironisnya ini terjadi secara berjamaah. Terjadi beramai-ramai seolah-olah ingin mengatakan kalau yang tidak cepat tidak kebagian. Naudzubillah mindalik.
Karena itu melalui tulisan ini saya ingin mengadu kepada Tuhan. Ingin menyampaikan keluh kesah dari hati yang gundah. Ingin menyampaikan uneg-uneg dan pesan dari teman sependeritaan. Tuhan, tolong ingatkan mereka. Tunjukkan kepadanya jalan yang lurus dan benar. Yaitu jalannya orang-orang yang mendapat petunjuk dari Mu. Bukan jalannya orang-orang yang tersesat dan pengikut setan. (*)
[sumber: Jakartapress.com]




0 komentar:
Posting Komentar