Jumat, 19 November 2010

Sebuah Jalan Terkutuk Bernama Liberalisme

Andy Budiman, seorang jurnalis Tempo TV merupakan salah satu peserta IAF (International Academy for Leadership)yang diadakan bulan Mei 2010 oleh FNS di Jerman. Berikut adalah tulisan pengalamannya mengikuti seminar yang bertajuk "Liberalism Today - Freedom First".

Malin Kundang telah terkutuk, dan tak seorang pun mencoba memahaminya. Perahunya kandas di depan pantai, dan dalam legenda disebutkan, bahwa pemuda durhaka itu kemudian menjadi batu. Ibunya telah mengucapkan kutuk atas dirinya. Perempuan tua yang miskin itu kecewa dan sakit hati: anak tunggalnya tak mau mengenalnya lagi, ketika ia singgah sebentar di desa kelahirannya sebagai seorang kaya setelah mengembara bertahun-tahun. Dan kisah turun-temurun ini pun berkata, bahwa dewa-dewa telah memihak sang ibu. Ini berarti bahwa semua soal berakhir dengan beres: bagaimana pun, setiap pendurhakaan harus celaka. Tak seorang pun patut memaafkan Si Malin Kundang. Kita tak pernah merasa perlu memahami perasaan-perasaannya. (Goenawan Mohamad, Potret Penyair Muda sebagai si Malin Kundang, Pustaka Jaya 1972)
Anak muda itu tak ingat pasti, kapan ia mulai menjadi durhaka. Sebagaimana banyak orang Indonesia lainnya, ia lahir dalam tradisi komunalisme yang kuat. Tradisi yang oleh Clifford Geertz digambarkan sebagai kesetiaan tanpa batas kepada kelompok asal, entah itu yang bersumber dari nasionalisme, adat atau agama.

Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di sebuah kota di Pulau Sumatera. Saat itu era tahun 80`an, dan Orde Baru ada di puncak kekuasaan. Negara memonopoli tafsir atas keindonesiaan. Menjadi Indonesia berarti harus melebur pada kepentingan yang lebih besar yakni kepentingan rakyat, yang didefinisikan oleh Orde Baru.

Presiden Soeharto memerintah dengan gaya kekeluargaan. Setiap lima tahun, para wakil rakyat  bermusyawarah untuk memastikan Soeharto terpilih kembali menjadi presiden. Setiap lima tahun, rakyat dimobilisasi pergi ke bilik suara untuk memastikan bahwa Golkar akan kembali berkuasa. Nyaris tak ada pertikaian dan konflik politik yang tajam. Mimbar politik diisi oleh ceramah yang membosankan tentang pentingnya stabilitas dan ketertiban. Suara individu dibungkam, karena dianggap sebagai sumber konflik.

Maka anak muda itu, menyaksikan Indonesia yang tenang dan damai sekaligus membosankan. Indonesia, yang sejak kecil, ia lukis dalam sebuah bingkai yang tertib: sebuah desa yang dikelilingi sawah dengan padi yang menguning, pepohonan rimbun, petani, dan dua buah gunung yang mengapit matahari yang sedang tersenyum. Entah kenapa, kawan-kawan di sekolahnya juga suka menggambar pemandangan yang sama. Bahkan, Pak Tino Sidin, guru menggambar di TVRI setiap pekan selalu berkomentar “Bagus…!” saat memperlihatkan gambar-gambar yang dikirim anak dari seluruh Indonesia, yang anehnya melukiskan pemandangan desa dengan cara yang sama.

Kiri di Bandung
Awal tahun 90-an, anak muda itu merantau ke Bandung. Suasana kampus, membuka ruang bagi kebebasan berpikir. Ia mulai berkenalan dengan ide Marxisme yang saat itu dilarang penguasa. Membaca Marx bagi anak muda itu, mungkin seperti pengalaman Adam ketika pertama kali mencicip buah terlarang. Membaca buku kiri telah menghancurkan gambaran anak muda itu tentang Indonesia. Indonesia tak lagi seperti sebuah desa yang harmonis. Secara perlahan-lahan gambar sawah itu tergantikan oleh waduk Kedungombo yang menyebabkan puluhan orang mati karena mempertahankan tanahnya. Tak ada lagi, gambaran petani yang tersenyum, karena tanah dan sawah mereka digusur untuk pembangunan lapangan golf. Secara perlahan, Indonesia yang tenang dan damai hilang dari bingkai itu. Sebagai gantinya adalah pemandangan Indonesia yang penuh konfilk dan ketidakadilan.

Di kampus, bersama teman-temannya, anak muda itu membuat kelompok diskusi politik, filsafat, dan kebudayaan yang diberi nama gagah: Kelompok Diskusi Seratus Bunga, yang diambil dari kata tokoh komunis Cina Mao Zedong, saat mengajak kaum intelektual menyampaikan kritik terhadap Partai Komunis Cina. “Biarkan seratus bunga mekar, biarkan seratus bunga bertengkar,” kata Mao pada tahun 1956. Bedanya, gerakan seratus  bunga di kampus anak muda itu hanya menciptakan pertengkaran dan perdebatan kecil di arena diskusi. Sementara di Cina, lebih dari setengah juta intelektual dikirim untuk bekerja paksa ke desa-desa karena berbeda pendapat dengan Mao.

Aksi-kontemplasi-aksi begitulah kata para senior, maka mulailah anak muda itu sesekali turun ke jalan. Saat itu awal ’90-an,  Soeharto berada di puncak kekuasaan. Siapapun yang melawan, ia libas. Dengan gemetar, anak muda itu bersama segelintir kawannya berdemonstrasi sambil menyebarkan selebaran gelap berisi propaganda anti-pemerintah.
Mei 1998, adalah peristiwa yang mengejutkan. Penembakan mahasiswa Trisaksi, disusul kerusuhan massal di sejumlah kota besar dan berpuncak pada pengumuman pengunduran diri presiden Soeharto. Inilah masa transisi yang di kemudian hari akan mengubah cara anak muda itu melihat Indonesia.

Transisi ke Jalan Liberal
“Kalau sebelum umur 30 tahun tidak kiri, artinya tidak punya hati. Tapi, kalau setelah umur 30 tahun masih kiri, artinya tidak punya otak ”. 
Setelah lulus kuliah, anak muda itu memilih bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan ini membawa ia melihat masalah secara mikroskopis. Tidak seperti dulu ketika mahasiswa, saat ia senang melihat segala sesuatu dengan teropong bermerk Marxisme dari kejauhan. Bekerja dengan metode mikroskopis ini membawa ia melihat masalah ekonomi secara lebih detail. Dari sana ia memahami bahwa ekonomi bekerja berdasarkan pragmatisme, bukan dibimbing oleh ideologi sebagaimana ia  pahami dulu. Pengamat ekonomi dari tradisi liberal M. Chatib Basri dalam sebuah artikel mengutip Milton Friedman: teori atau model ekonomi tidak bisa disimpulkan benar hanya karena model itu konsisten dengan bukti empiris, namun teori atau model dapat dikatakan salah (atau belum membuktikan kebenarannya) jika ia tidak konsisten dengan bukti empirisnya.

Anak muda itu melihat, tradisi ekonomi liberal mempunyai sikap yang rendah hati dan terbuka: tidak mendaku sebagai kebenaran mutlak, sambil di sisi lain selalu siap berubah sesuai konteks. Pelan-pelan, ia belajar memahami bagaimana pasar bekerja dan mulai menyingkirkan analisis Marxian dalam melihat masalah ekonomi, dan mencoba memahami realitas dengan sudut pandang lain. Tanpa sadar, ia mulai membaca buku-buku dari arus tradisi pemikiran liberal dalam politik maupun ekonomi. Secara rasional, bagi anak muda itu tentunya, buku-buku ini bisa lebih menjelaskan kompleksitas masyarakat.
Saat ia mulai jatuh cinta dengan gagasan liberal, di negaranya muncul arus besar yang mengharamkan gagasan ini. Peristiwa terror 9/11, menciptakan arus balik yang kuat menentang segala hal yang datang dari barat, terutama gagasan liberalisme yang dianggap merusak dunia Islam, tempat anak muda itu berasal.

Jerman, Mei 2010
Pada abad ke-19, John Stuart Mill menulis risalah tentang kebebasan. Ia menyebut, kebebasan adalah syarat awal bagi kemajuan suatu masyarakat. Karena hanya dengan memberi kebebasan pada individu, kreatifitas akan muncul dan masyarakat bisa berkembang.

Pada Mei 2010, anak muda itu pergi mengikuti sebuah seminar tentang liberalisme di Jerman. Ini adalah negara yang sangat menghormati kebebasan individu. Anak muda itu ingat, dulu waktu kecil ia diajarkan bahwa kebebasan akan membawa masyarakat menuju kekacauan. Kebebasan adalah anarki, karena setiap individu akan mengekspresikan kebebasannya tanpa batas. Tapi, apakah betul begitu?

Lalu lintas bisa menjadi cermin. Ketika tiba di Bandara Koln dan menuju kota kecil di Gummersbach, ia menyaksikan para pengendara berjalan tertib di jalur masing-masing. Tak ada saling serobot, klakson, dan makian di jalan raya seperti yang terjadi negerinya. Para pengemudi di sana mematuhi aturan lalu lintas. Inilah cermin sebuah masyarakat yang taat pada hukum. Aturan hukum menjadi batas kebebasan individu. Tujuannya jelas: agar kebebasan individu tidak menabrak atau mengancam kebebasan individu lain. Anak muda itu bertanya, kenapa Indonesia yang disebut sebagai negeri yang tidak individualistis, jalan rayanya lebih kacau-balau dibandingkan Jerman yang sangat mengagungkan individualisme?
Sebagaimana negara-negara maju lain, Jerman menerapkan aturan dalam soal rokok. Di negeri anak muda itu, salah satu organisasi keagamaan Islam terbesar telah mengharamkan rokok. Tapi ironisnya, di negeri asal anak muda itu, seorang anak di bawah umur bisa pergi ke toko untuk membeli rokok. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan di negeri seperti Jerman. Aturan hukum di Jerman, melarang anak di bawah usia 18 tahun untuk membeli rokok. Alasannya jelas: anak di bawah umur dianggap belum cukup dewasa memutuskan pilihan terbaik bagi dirinya dalam soal yang dianggap berbahaya bagi kesehatan seperti rokok.

Pembatasan usia pembeli rokok diterapkan dengan ketat. Sejumlah mesin penjual rokok, mensyaratkan pembeli untuk menggesek kartu identitasnya. Kalau tak cukup umur, transaksi akan otomatis batal. Jika membeli rokok di toko, penjual biasanya menanyakan kartu identitas jika ia ragu mengenai usia sang pembeli. Untuk urusan rokok, pemerintah Jerman memang menerapkan aturan ketat. Sebagian besar rumah makan atau kafé tidak memperbolehkan pengunjungnya merokok di dalam ruangan. Larangan merokok di Jerman bukanlah bentuk pembatasan atas kebebasan individu, sebaliknya larangan ini untuk melindungi hak individu lain yang tidak merokok dan memilih hidup sehat. Anak muda itu menyaksikan, kebebasan tidak identik dengan boleh melakukan apa saja. Individualisme justru membuat masyarakat makin bijak dan dewasa dalam menyelesaikan persoalan bersama.

Akhir abad-20 Amartya Sen membuktikan secara empiris, kemiskinan dan kelaparan mempunyai hubungan yang kuat dengan situasi ketidakbebasan. Indeks kebebasan yang dikeluarkan oleh Freedom House juga mengkonfirmasi hal yang sama: negara yang tidak menerapkan demokrasi cenderung lebih tidak sejahtera dibanding negara-negara yang menerapkan sistem demokrasi.
Indonesia, tempat anak muda itu tinggal, kini telah memiliki demokrasi: ada pemilihan umum reguler yang berlangsung secara demokratis. Tapi ironisnya, secara bersamaan nilai-nilai demokrasi ditolak. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram atas gagasan pluralisme. Individualisme oleh sebagian besar masyarakat diidentikkan dengan egoisme. Liberalisme menjadi kata kotor.

Selama di Jerman, anak muda itu merefleksikan dirinya. Ia membandingkan dirinya dengan Malin Kundang yang menolak tradisi yang dimetaforkan lewat sosok ibu. Seperti Malin Kundang, ia menjadi durhaka setelah merantau melihat negeri orang. Globalisasi telah mempermudah mobilitas individu: perdagangan antarnegara, biaya transportasi yang makin murah dan perkembangan dunia telekomunikasi membuat individu yang tinggal di tempat terpencil punya kesempatan untuk berinteraksi dengan manusia di belahan dunia lain. Globalisasi menciptakan peluang bagi lahirnya Malin Kundang-Malin Kundang baru. Anak muda itu yakin, ia tidak durhaka sendirian.

Andy Budiman
Peserta Seminar Internasional IAF “Liberalism Today: Freedom First”
Jerman, 1-14 Mei 2010
(Tulisan ini terinspirasi dari esai Goenawan Mohamad, “Potret Penyair Muda sebagai si Malin Kundang, Pustaka Jaya 1972”)

0 komentar:

Posting Komentar