Senin, 01 November 2010

Republik Ini-Sial...!

[oderint dum metuant], ”biarkan mereka membenci saya sepanjang mereka takut terhadap saya”.

Adagium ini dipegang teguh oleh pemimpin pongah. Pemimpin yang ingin melihat karpet sutra diistananya tak boleh tercemari -bahkan oleh peluhnya sendiri-. “Kita punya legitimasi kuat, suara-suara sumbang itu hanyalah bagian dari pelampiasan lantaran tak mampu menerobos kemenangan kita”,kata sang paduka. “Hai semua hulubalangku, berkumpulah kalian semua, tapi jangan coba-coba tegakkan kepala kalian sebelum aku panggil satu persatu, mengerti..?!”,timpal sang paduka dengan senyum mengembang -entah sinis, entah manis-.
RS !, “kau sudah lakukan apa yang seharusnya, tetaplah seperti itu -persis dan sebangun dengan yang tertulis dalam naskah ya-”.
HR !,”kenapa masih ada yang membelah mataharimu?”.
MI !,”coba hitung rakyat kita yang belum memenuhi kewajiban-kewajibannya”.
DS !,”atasi segala kemungkinan dengan bertumpu pada data-data yang hanya milik kita”.
BHD !,”jangan dibuat mudah semua urusan-urusan yang terkait dengan kita”.
HS !,”loh....kamu itu kerja untuk siapa selama ini?”
SM !.”jangan khawatir jeng, kontrol ditangan kita, sebaiknya anda sering-sering karaoke untuk melepas kepenatan”.
B !,”you..fine-fine aja kan?
TS !,”saya ndak mau loh, kalau cara-cara yang you pakai justru menikam kita sendiri”.
Interupsi dengan sembah sujud hamba paduka, kata seorang hulubalang yang belum digilir untuk dipanggil. SKB paduka !, katanya tersengal..”Ini saya dapat SMS tentang kondisi terkini”, tambahnya. “Apa atau siapa itu SKB?, tanya balik sang paduka. SKB itu situasi kacau balau paduka. (pelapor itu...jalan merayab mendekati telinga rajanya; lalu berbisik....szstszt...ndgtbvt...ykml..bla...bla...bla)
Sejurus kemudian, sang paduka menghela nafas.Mengoreksi ulang daftar panjang punggawa-punggawanya.
Sial !
Sial !
Sial !
AAM !,”coba telusuri dan amati dengan teliti tentang konstitusi kita yang memang presidensial, dan jelaskan pada mereka semua !”
Ini semua karena GT, SD,SJ,FR,KD,KP,HB,WW,GR,LO,OK, dan masih banyak tuan, kata juru tulis istana.
Sial !
Sial !
Siaal......!!!
TTDJ aja paduka !, saran seorang mentrinya (tetap dalam posisi menunduk)
Apa dan siapa juga itu?, Maksud hamba, Ati-Ati Dijalan Tuan.

Hmmmmmm, memangnya siapa mereka, punya apa mereka berani membuat kegaduhan dan menggaggu tidurku?
Mereka itu panjang untuk saya sebutkan satu-persatu tuan...sebaiknya kita sekalian gelar jumpa wartawan, agar tersiar keseluruh pelosok negeri. Bagaimana dengan saran saya ini Tuan?
BKB !,
“Mohon penjelasannya tuan, BKB itu apa?, tanya sang mentri dengan gemetar penuh keciutan.
BKB itu, Baiklah Kalau Begitu....paham !!!!????
Dimulailah uraian sang menteri yang akan menyebutkan beberapa hal tentang sistuasi terkini itu.
(YSDS=Ya Sudah Dimulai Saja)....perintah sang paduka.
Petani kita gagal panen tuan,
Buruh kita menuntut perbaikan nasib,
Guru-guru enggan selamanya jadi tenaga honorer,
Mahasiswa terus turun ke jalan,
Nelayan-nelayan kita kehilangan banyak ikan,
Artis-artis gak mau lagi jadi sekedar penghibur,
Politisi masih sering menyindir kita,
Anak-anak balita dilanda kurang gizi,
Beberapa wilayah dilanda penyakit,
Prajurit-prajurit kita berkelahi sendiri,
BSL tuan ?,
Apa dan siapa itu ?. Maksud hamba, BSL itu, Boleh Saya Lanjutkan ?
Pliss donk ahh !, gumam sang paduka -tanpa ekspresi-.
Pulau-pulau kita dirampas orang lain,
Tarian kita dipunyai orang lain,
Antek-antek kita mulai diketahui banyak orang,
Uang-uang kita mulai dipertanyakan rakyat,
“Ada yang lebih membuat kegusaran saya tuan,”katanya lirih sang mentri. Soal apa itu?, tanya sang paduka dengan penuh penasaran
Soal uang besar itu. Soal dosa besar itu. Soal kebohongan besar itu...
Sial !
Sial !
Sial .......!!!!!!
TTDJ tuan paduka.
Amankan SD, AA, BSR,SK,MA,GD,BN,PT,NU,RW,HB !!!, perintah sang paduka yang mulai tak bisa senyum -entah kecut, entah ciut-
Ini ada selembar surat dari seorang bocah yang dititipkan saya, kemarin dia menjadi bulan-bulanan prajurit-prajurit kita tuanku. Mungkin detik ini, ia sudah dikuburkan dipekarangan pinggir pelabuhan kita.
Bacakan saja !, kata sang paduka.
Baik tuanku, timpal sang mentri -masih juga dalam posisi menunduk-
BSM tuanku, Bisa Saya Mulai maksud hamba tuanku.
Kepada Yang Tak Terhormat; Paduka Bukan Raja, di Istana Bukan Milikmu.
--HSS-JDS/Hidup Sudah Susah, Jangan Ditambah Susah—
Salam, Anak Negeri


Bekasi, 17.04.20010





0 komentar:

Posting Komentar