Selasa, 09 November 2010

Omongan SBY Tentang Sapi Dianggap Ember

Oleh: Tubagus Januar Soemawinata (Universitas Nasional)
BELUM lama ini SBY mengatakan akan mengganti ternak korban yang menjadi korban Merapi. Karena itu dia menghimbau warga sekitar lereng Merapi untuk mengungsi tanpa harus memikirkan ternak mereka. Sebab kalau terjadi apa-apa terhadap ternak penduduk, pemerintah akan menggantinya. Untuk seekor sapi pemerintah akan membayar Rp8 juta. Tujuan ucapan ini jelas agar warga mau segera mengungsi. Namun SBY lupa, jika penduduk Yogya bukan anak kemarin sore.

SBY lupa jika warga sudah cukup pengalaman dengan janjinya yang hanya omong kosong belaka. Karena itu meskipun telah dihimbau untuk mengungsi dan agar meninggalkan rumah dan ternak. Tetap saja banyak penduduk di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman dan kecamatan lainnya di sekitar daerah letusan Merapi nekat bertahan. Akibatnya, ratusan orang tewas terpanggan hidup-hidup. Sebagian lainnya mengalami luka bakar cukup serius. Bahkan pasca kejadian naas itu masih banyak warga yang diam-diam kembali ke rumahnya. Mereka mengambil ternaknya untuk diamankan ke daerah laiu. Lantas apa kata warga?

Mereka menyebut SBY cuma ember. SBY Cuma bisa omong doing. SBY gemar umbar janji. Dan janjinya jarang ditepati. Benar tidaknya pernyataan tersebut. Itulah kata warga. Dan mereka mengatakan itu bukan tanpa dasar. Sebab sepanjang kepemimpinan SBY di negeri ini, Yogya sudah tertimpa musibah untuk kesekian kalinya. Sebelum letusan Merapi yang kedua ini. Yogya dan Jawa Tengah (Jateng) sempat digoyang gempa yang cukup dasyat. Sehingga akibat gempa tersebut ribuan warga jadi korban tewas dan luka-luka.
Ratusan rumah hancur dan rusak parah. Dan waktu itu SBY juga berjanji akan mengganti rumah warga yang rusak. Bahkan sebelumnya pemerintah menjanjikan tenda untuk mereka yang terkena musibah. Faktanya, tidak semua korban mendapat santunan. Tidak semua korban mendapat jatah tenda. Bahkan pembagian bantuan pangan pun banyak yang menguap. Karena itu dan berdasarkan pengalaman tersebut rakyat Jogya, dan juga Jateng tidak lagi mudah percaya omongan SBY. Mereka menganggap semua itu hanya ember.

Warga berpikir dan berkata, jangankan membayar sapi. Untuk membenahi para pengungsi agar mereka dapat menata kembali hidupnya saja, pemerintah pasti akan kewalahan. Sebab selain banyaknya musibah yang menimpa warga Indonesia selama dipimpin SBY. Pemerintah juga nampaknya tidak punya schedule yang jelas tentang penanganan bencana. Meskipun sudah ada Menko Kesra, Bahkan ada staf khusus Presiden yang khusus menangani bencana. Namun nampaknya perangkat itu tidak berfungsi maksimal. Misalnya staf khusus Presiden yang menangani bencana. Ternyata dia lebih sibik menangani bencana politik daripada bencana sesungguhnya.

Sementara Menko Kesra Agung Laksono yang mestinya menjadi garda depan penanganan bencana. Kenyataanya lebih senang menyeruput kopi di rumah, atau pun  kalau keluar, dia lebih suka mbonceng tuannya daripada jalan sendiri. Maka kesan ember yang disampaikan penduduk semakin nyata. Dan tidaklah keliru kalau warga kurang percaya terhadap pernyataan Presidennya. Pertanyaannya adalah jika rakyat sudah tidak percaya lagi, pantaskah kita mendeclearkan sebagai Presiden? Apa lebih tepat jika kita disebut pemimpin ember? (*)


[sumber: Jakartapress.com]

0 komentar:

Posting Komentar