Senin, 01 November 2010

Jangan Mati; Cinta

Entah lahir entah mati. Terlanjur tertulis; Cinta
Pagi mengulum senyum. Malam mengumbar dengkur amarah.
Hingga lupa. Kapan sejatinya kita menuliskan hari.

Hati sudah pongah. Menjadi penguasa tanpa kendali.
Seolah semua pantai menanggalkan keriuhan ombaknya.
Bahkan riak airpun mengalir terhuyung. Hanya untuk bertemu sebuah sampan reot. Waktu terkini. Kita mulai sebuah episode: perlawanan
Menyiapkan ranjang peraduan atau gaun kematian.
Karena waktu berputar hanya untuk melengkapi ingatan.
Agar terjaga. Kapan kali pertama kita bercinta.

Apa pedulinya matahari. Sinarnya nyinyir -sebelum akhirnya pergi-
Seperti suara yang tersengal. Berpaling dari tenggorokan kita sendiri.
Biarpun lantang. Ia tetap memuja tanya.

Duduk kita berdua. Memenggal rasa yang tumbuh mekar -sedikit melar-.
Sambil membereskan daun-daun yang berserakan diubun-ubun kepala.
Sampah rasa. Mengalirkan air mata. Menghujat luka duka.

Percumbuan kita yang terakhir. Berakhir gerimis.
Suara dari jauh, dihembus waktu.
Kita tak lagi berdoa. Hanya ada senja lenguhan pertanda sekarat.
Sepenggal nafsu penghabisan yang renta.

Sudahlah. Jangan banyak tanya.
Sebaiknya kita diam. Lalu dengarkan bisikannya.
Kau tak juga mengerti.

0 komentar:

Posting Komentar