Rabu, 10 November 2010

Berharap cemas menunggu 'letusan' IPO Krakatau


Oleh: Bastanul Siregar

Hiruk pikuk investor ritel dalam berburu saham perdana (initial public offering/ IPO) PT Krakatau Steel (Persero) di pasar primer sepanjang pekan lalu menarik dicermati. Sebagian dari mereka mengeluh sukarnya mendapatkan saham tersebut.
Investor menduga penjamin IPO Krakatau bersikap tidak fair. Alih-alih menetapkan investor ritel-domestik sebagai pembeli utama, mereka malah memainkan sendiri distribusi saham itu dengan memilih 'investor berkualitas' seperti politisi, pejabat, atau wartawan.

Penjamin IPO Krakatau, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities yang dibantu Deutsche Securities dan Credit Suisse, tentu saja menepis dugaan itu. Alasannya, penawaran yang masuk banyak, sedangkan jatah saham yang ditawarkan terbatas.
Lebih dari hiruk pikuk itu, banyaknya investor ritel yang berburu saham perdana Krakatau sebenarnya sudah diprediksi sejak awal. Faktornya tidak lain adalah pasar finansial Indonesia yang masih bullish. Banyak dana berlebih mencari instrumen yang menjanjikan gain berlipat.
Minat yang sama juga terlihat pada investor asing. Pokok yang terakhir ini dikonfirmasi penawaran yang masuk pada pembentukan harga. Dari 3,155 miliar saham IPO yang ditawarkan, permintaan yang datang diklaim hampir 30 miliar atau lebih banyak sembilan kali lipat.
Faktor perusahaan juga mendukung. Krakatau yang berpengalaman lebih dari 40 tahun di Indonesia praktis adalah penguasa pasar baja nasional. Prospeknya cerah karena ekspektasi kenaikan pertumbuhan ekonomi diyakini akan mendongkrak permintaan baja domestik.
Rencana korporatnya juga ekspansif, paling tidak jika dibandingkan dengan produsen baja lokal. Sampai 2014, belanja modal yang dianggarkan Rp10,21 triliun. Sebanyak Rp3,31 triliun dialokasikan tahun depan, dan Rp5,69 triliun untuk 2012-2014.
Tingkat risiko investasinya juga kecil karena selain tergolong industri strategis, statusnya adalah milik negara. Serangkaian faktor itu menjadi lebih menarik karena dari kisaran awal Rp800-Rp1.150, harga saham perdana Krakatau akhirnya dipatok Rp850 per lembar.
Dengan rasio harga terhadap laba bersih per saham 9,9 kali, nilai kapitalisasi pasar Krakatau diketahui Rp13,4 triliun. Harga Rp850 ditimbang murah karena ada banyak produsen baja di Asia yang setara kapitalisasi pasarnya, tapi dengan price to earning ratio di atas 11 kali.
Atas dasar itulah, investor berharap saham perdana Krakatau meroket pada debutnya. Mereka mungkin mengingat harga saham IPO perusahaan pemerintah seperti PT Bank Jabar Banten Tbk yang pada hari pertama meroket 50% hingga terkena batas autorejection atas.
Tingginya ekspektasi itu pula yang melahirkan pasar gelap, di mana saham perdana Krakatau dinegosiasikan pada harga premium 6%-30%. Kecilnya jatah saham untuk investor ritel yang diterima sindikasi penjamin, hanya 0,1% dari saham dilepas, ikut mengondisikan situasi itu.
Tidak sukar memahami bagaimana pasar gelap ini bekerja. Ilustrasinya seperti tiket kereta api saat mudik Lebaran. Pemerintah bisa memasang spanduk bertuliskan 'Calo dilarang masuk!' di halaman stasiun atau menggelar konferensi pers dan menyebut harga tiket naik 25%.
Akan tetapi, kenyataannya tiket di semua loket sudah habis, yang ada tinggal tiket di calo yang harganya melompat 100%. Sementara itu, pejabat sipil dan militer, termasuk direksi BUMN dan wartawan, bisa menelepon kepala stasiun untuk meminta dibuatkan tiket.
Perlu segera ditambahkan, keberadaan pasar gelap itu bukannya tanpa risiko. Ibarat pedang bermata dua, di satu sisi dia bisa mendorong naiknya harga saham di pasar sekunder. Namun, di sisi lain justru membuka kemungkinan anjloknya harga saham saat debutnya nanti.
Kemungkinan yang terakhir itu muncul karena mereka yang berani membeli saham perdana Krakatau premium di atas 10% katakanlah, niscaya akan berusaha mendapatkan gain secepat mungkin: Saham Krakatau dinaikkan dulu, begitu nilainya lewat 10%, lepas ramai-ramai.
Pertanyaannya sekarang dengan mengingat risiko anjloknya harga saham Krakatau pada hari debutnya berikut tekanan politik untuk menggagalkan IPO Krakatau dan menghukum oknum pemberi dan penerima jatah saham tersebut apakah ekspektasi investor yang berjibaku berburu saham IPO Krakatau itu sudah betul-betul terukur?
Faktor fundamental
Daftar perusahaan baja yang selevel dengan Krakatau
Nama perusahaanKapitalisasi pasar (Rp miliar)Rasio PE (kali)
Hunan Valin Stell Co Ltd (China)16.82816,94
Xinjiang Ba Ti Iron & Stell (China)14.24614,17
Anyang Iron & Stell Co Ltd (China)13.08212,78
Xinyu Iron & Steel Co Ltd (China)12.95912,64
Jindal Ltd (India)12.20512,64
Krakatau Steel (Indonesia)13.2309,9
Sumber: Bloomberg
Tanpa berpretensi mengabaikan determinasi serangkaian faktor yang diuraikan tadi, mereka yang berharap terlalu banyak pada kenaikan harga saham perdana Krakatau mungkin baik menengok dahulu beberapa faktor fundamental perusahaan yang relatif belum terekspose.
Perlu diingat, banyak riset menunjukkan persepsi terhadap faktor fundamental perusahaan tidak saja merupakan referensi utama bagi pengambilan keputusan investasi jangka pendek, tapi juga dalam jangka menengah. Di sini, paling tidak ada lima faktor yang perlu dicermati.
Pertama, kinerja keuangannya. Dalam dua kuartal pertama tahun ini, Krakatau membukukan pendapatan Rp9 triliun dan laba bersih Rp997 miliar. Sampai kuartal ketiga, pendapatannya Rp11,88 triliun dengan laba bersih Rp1,05 triliun.
Menteri BUMN Mustafa Abubakar Jumat lalu mengatakan dengan bangga bahwa laba bersih Krakatau selama 9 bulan itu tersebut telah melampaui total laba bersih perseroan tahun sebelumnya, yakni Rp494,67 miliar. Mustafa benar. Tak ada yang salah dengan pernyataannya.
Akan tetapi, Menteri BUMN termasuk hampir seluruh media yang mengutipnya tanpa melihat lebih cermat angka-angka tersebut sadar atau tidak sadar telah ikut mengaburkan detail kecil yang justru menunjukkan situasi sebenarnya.
Apabila kinerja kuartal ketiga itu dilihat lebih dekat, maka dalam periode 3 bulan tersebut atau dari Juli ke September, perusahaan yang semula bernama Pabrik Baja Trikora itu praktis hanya membukukan pendapatan Rp2,88 triliun dengan laba bersih hanya Rp52 miliar.
Padahal, dalam dua kuartal sebelumnya, Krakatau meraup pendapatan Rp9 triliun dan laba bersih Rp997 miliar. Itu berarti, apabila dipukul rata, Krakatau mencatat pendapatan Rp4,5 triliun dengan laba bersih mendekati Rp500 miliar dalam tempo 3 bulan.
Dari kinerja kuartal ketiga yang jauh di bawah ekspektasi tersebut juga bisa diketahui bahwa margin laba bersih kemampuan perusahaan dalam mencetak laba bersih Krakatau terjun bebas 83%, dari rata-rata kuartal sebelumnya 11% menjadi hanya 1,8%.
Memburuknya kinerja keuangan itu pula yang kemudian menyebabkan Krakatau terlempar dari daftar 10 BUMN penyumbang laba bersih terbesar sepanjang 9 bulan pertama tahun ini.
Kedua, konstrain tentang pasok dan harga bahan baku. Pasokan bahan baku Krakatau, baik pellet (bahan baku pembuatan bijih besi), scrap (bijih besi hasil daur ulang besi dan baja bekas) maupun slab (baja setengah jadi) praktis bergantung pada impor.
Ketergantungan itu menjadi masalah serius tatkala harga bahan baku melejit. Apabila itu terjadi, Krakatau tidak akan bisa langsung mentransmisikannya ke dalam struktur harga jual produknya karena akan menggerus volume penjualan.
Asimetri pasar inilah yang sebetulnya menjelaskan kenapa kinerja kuartal III Krakatau begitu terpuruk. Hal yang sama juga terjadi pada produsen baja lain seperti PT Jaya Pari Steel Tbk yang berbalik dari semula untung menjadi rugi.
Ketiga, teknologi yang tertinggal dan inefisiensi. Kerja sama Krakatau dengan produsen baja Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Company Ltd tentu akan membantu masalah ini.
Akan tetapi, itu tidak menjamin 100% karena pabrik baja di Eropa dan Amerika yang berteknologi tinggi pun harus mengaku kalah dengan teknologi China dan India yang terbukti lebih murah dan efisien.
Rendahnya margin laba bersih Krakatau tahun lalu yang hanya 2,92% tentu tidak datang dari ruang hampa. Dengan jumlah total karyawan hampir 12.000, Krakatau lebih mirip perusahaan padat karya yang tidak efisien. Akibatnya, daya saing produknya pun tergerus.
Kelima, membanjirnya produk impor baik legal maupun ilegal. Proteksi yang diterapkan Indonesia baik melalui hambatan tarif maupun nontarif, sejauh ini memang masih efektif melawan gempuran tersebut. Namun, dengan mengingat rezim perdagangan bebas, proteksi ini niscaya tidak bertahan lama.
Besarnya pengaruh serangkaian faktor tersebut terhadap harga saham Krakatau kelak tentu masih bisa diperdebatkan. Namun, perspektif yang lebih luas tentang fundamental itu paling tidak akan mencegah kita larut dalam ekspektasi melambungnya harga saham perdananya, dan bisa tetap kritis mengolah informasi.

0 komentar:

Posting Komentar