Ini malam yang genap; 30 Desember 2013. Besok, seperti tradisi dan kebiasaan kaum hedon di republik ini, tumpah ruah dalam pesta dan mulut monyong berterompet, hilir mudik dalam kecamuk bahagia yang seolah tak berujung. Seperti tengah ekstase! Hitung mundur jarum jam, dan menggelegar menjadi pesona langit penuh tarian api, kilatan cahaya. Setelah itu; gedombrengan, cipika-cipiki, lenggok sana-sini, toast mengadu botol dan beragam ekspresi ala selebritas. Riwayat sukacita tak penting untuk dicatatkan, sebab kemeriahan pergantian tahun selalu begitu dan (memang) selamanya begitu. Jaman sudah mengalami lompatan jauh kedepan. Tak perlu kita memelihara kekhawatiran akan membesarnya dekadensi. Negeri ini layak bergembira, rakyat berhak meluapkan kebahagiannya.
Beberapa kawan sudah mengatur rencana bepergian. Tujuannya macam-macam. Terbanyak adalah menyewa villa di puncak, lalu pesta. Itu resolusi menurut mereka. Ya biar saja. Aku tak peduli, sebab citarasa dan imajinasi tak bisa disamaratakan sekalipun hajat tahun baru relatif menjadi momentum setiap orang untuk mengumbar kebahagiaanya.
(Kita adalah anak-anak revolusi sayangku. Itu kalimat yang kukatakan pada istriku. Ia heran, bahkan tak mengerti. Tapi berusaha memahamiku, memahami seluruh benak pikiranku. Istri yang hebat. Kulihat ia tertidur dengan senyum manisnya. Aihh...)
Hypokrisis Kronis
-
Oleh Reza A.A Wattimena Awal 2026, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat,
menelan ludahnya sendiri. Ia berjanji tidak akan membawa perang baru di
dunia. B...
3 hari yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar