Senin, 30 Desember 2013

Jokowiholic

Jokowi dan Megawati
Sepanjang tahun 2013, berbagai survei menempatkan sosok Jokowi yang gubernur DKI Jakarta dalam top rangking perolehan suara untuk elektabilitas menuju Pilpres 2014. Bahkan boleh dibilang, tahun 2013 adalah tahunnya mantan walikota Solo itu. Ia selalu menjadi magnet masyarakat untuk menggambarkan betapa rindunya rakyat memiliki pemimpin yang seperti Jokowi di level nasional alias presiden. Jokowi mampu menempatkan dirinya tak seperti pemimpin kebanyakan. Tak berjarak dengan rakyatnya. Alhasil, ia mampu mengeforia publik, menciptakan label -blusukan- sebagai trademarknya.

Dalam bursa calon presiden versi partai politik, ada beberapa parpol yang sudah menetapkan bakal capres. Partai Golkar memilih Aburizal Bakrie alias Ical, Partai Gerindra menetapkan Prabowo Subianto, Partai Amanat Nasional menetapkan Hatta Rajasa, Partai Bulan Bintang memilih Yusril Izha Mahendra. Apakah Jokowi juga menjadi representasi capres yang diusung oleh PDI Perjuangan? Kans untuk menjadi capres PDI Perjuangan terbuka, tetapi PDI Perjuangan amat hati-hati dan menunggu momentum yang pas untuk menyampaikan secara terbuka kepada publik. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia juga telah menetapkan Sutiyoso sebagai bakal capres. Bahkan, ada parpol yang percaya diri menetapkan pasangan capres-cawapres, yakni Partai Hanura dengan mengusung Wiranto-Hary Tanoesoedibjo.

Kalkulasi politik PDI Perjuangan bisa dimaklumi, fenomena Jokowi memang membawa tren bagus untuk partai berlambang Moncong Putih ini. Namun, harus dicermati juga langkah-langkah politik yang akan ditempuh PDI Perjuangan sendiri. Salah dalam memformulasikan soal capres, bisa kehilangan momentum dan membuat blunder politik.

Jika Partai Demokrat lebih menggunakan mekanisme konvensi, PDI Perjuangan justru tak teraba dan terkesan tertutup soal pencapresan. Ini terkait dengan arus besar di kalangan elit PDI Perjuangan sendiri. Ada yang menganalisa bahwa rumusan yang tengah digodok berupa opsi-opsi seperti Megawati diduetkan dengan Jokowi, lalu Jokowi- berpasangan dengan Puan Maharani, dan Jokowi ditandemkan dengan cawapres dari parpol lain atau dengan tokoh yang menurut PDI Perjuangan layak untuk menjadi pendamping Jokowi.

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan dalam pertarungan pilpres mendatang. Pertama, uji materi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang diajukan Yusril ke Mahkamah Konstitusi (MK). Jika MK menerima gugatan Yusril, maka akan ada banyak pasangan capres-cawapres yang didaftarkan ke KPU. Kedua, kata Burhanuddin, jika gugatan Yusril ditolak, maka syarat pengusungan capres-cawapres tetap seperti Pilpres 2009, yakni 20 persen perolehan kursi DPR atau 25 persen perolehan suara sah nasional. Burhanuddin memperkirakan ada tiga atau empat pasangan yang akan bertarung. Ketiga, lanjutnya, faktor internal parpol dalam penetapan capres-cawapres. "Paling penting, ke depan akan banyak kampanye, baik positif maupun negatif. Itu akan memengaruhi elektabilitas". (Kompas.com/31/1213).
Jokowi sendiri seperti gaya khasnya seolah tak peduli jika namanya melambung dalam survei-survei. Ia secara diplomatis lebih mengedepankan kesantunan politik alamiahnya. Ia tak menampik bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin. Pria yang akrab disapa Jokowi ini mengaku mendapat banyak pelajaran di bidang politik dari Mega. Bahwa maksud dipersiapkan menjadi pemimpin oleh Megawati merupakan sinyal kuat dalam pencapresan, publik bisa mereka-reka soal itu.
Dikalangan masyarakat, sudah ada yang memproklamirkan -Projo- atau Pro-Jokowi. Seperti saat pilgub DKI yang dimenangkannya (bersama Ahok), tampaknya Jokowi memang sosok yang memiliki fatsun politik kelas atas. Ia patuh pada aturan dan mekanisasi yang berlaku di partainya. Sebab, itu PDI Perjuangan harus berani memutuskan secara tegas pada saatnya sebelum kehilangan momentum. Momentum inilah yang ditunggu publik, lebih-lebih kader dan konstituen PDI Perjuangan sendiri.
Jika berandai-andai, Jokowi dipastikan sebagai capres oleh PDI Perjuangan, maka Ada lima nama yang menjadi lawan berat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo jika ia maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Hal itu berdasarkan hasil survei Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia dari penilaian 61 pakar.
"Mereka ini lima besar lawan berat Jokowi," kata Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI saat memaparkan hasil Survei Opinion Leader Mencari Lawan Jokowi di Jakarta, Minggu (29/12/2013). 
Kelima nama tersebut ialah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (7,38 poin), Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (7,28 poin), Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan (7,04 poin), CEO Trans Corp Chairul Tanjung (6,43 poin), dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad (6,42 poin). Mereka dianggap potensial menjadi capres maupun cawapres pada 2014. 
Semakin banyak nama, semakin terbuka persaingan dan bagus untuk kepentingan demokratisasi. Tingkat partisipasi politik rakyatpun akan terkerek naik. Sebab, angka pemilih Golput tetap menjadi -ancaman- serius bagi legetimasi kepemimpinan nasional.

Poin penting bagi PDI Perjuangan adalah mau sebatas menduplikasi keberhasilan kerja-kerja pemenangan ala Jokowi di pilgub DKI atau Ganjar Pranowo di pilgub Jateng atau mampu meramu secara jitu kebutuhan strategis dari dinamika politik yang ada seraya mempelajari semua potensi yang dimilikinya. Jokowi efek atau Ganjar efek, bahkan Risma efek jika diformulasikan secara cerdas diyakini akan mampu menggelembungkan kemampuan memenangkan suksesi nasional. Namun jika masih terpatri pada romantisme-romantisme, kultus kepemimpinan internal yang melahirkan sugesti politik, bisa dipastikan PDI Perjuangan dianggap gagal menyerap benang merah keinginan rakyat soal pemimpin yang dikehendakinya.

Tidak mudah memang untuk diputuskan, tapi bukan berarti tak bisa diputuskan.


Hen Eska






0 komentar:

Posting Komentar