
Dalam bursa calon presiden versi partai politik, ada beberapa parpol
yang sudah menetapkan bakal capres. Partai Golkar memilih Aburizal Bakrie alias
Ical, Partai Gerindra menetapkan Prabowo Subianto, Partai Amanat Nasional
menetapkan Hatta Rajasa, Partai Bulan Bintang memilih Yusril Izha Mahendra.
Apakah Jokowi juga menjadi representasi capres yang diusung oleh PDI
Perjuangan? Kans untuk menjadi capres PDI Perjuangan terbuka, tetapi PDI
Perjuangan amat hati-hati dan menunggu momentum yang pas untuk menyampaikan
secara terbuka kepada publik. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia juga
telah menetapkan Sutiyoso sebagai bakal capres. Bahkan, ada parpol yang percaya
diri menetapkan pasangan capres-cawapres, yakni Partai Hanura dengan mengusung
Wiranto-Hary Tanoesoedibjo.
Kalkulasi politik PDI Perjuangan bisa dimaklumi, fenomena Jokowi memang
membawa tren bagus untuk partai berlambang Moncong Putih ini. Namun, harus
dicermati juga langkah-langkah politik yang akan ditempuh PDI Perjuangan
sendiri. Salah dalam memformulasikan soal capres, bisa kehilangan momentum dan
membuat blunder politik.
Jika Partai Demokrat lebih menggunakan mekanisme konvensi, PDI Perjuangan
justru tak teraba dan terkesan tertutup soal pencapresan. Ini terkait dengan
arus besar di kalangan elit PDI Perjuangan sendiri. Ada yang menganalisa bahwa
rumusan yang tengah digodok berupa opsi-opsi seperti Megawati diduetkan dengan
Jokowi, lalu Jokowi- berpasangan dengan Puan Maharani, dan Jokowi ditandemkan
dengan cawapres dari parpol lain atau dengan tokoh yang menurut PDI Perjuangan
layak untuk menjadi pendamping Jokowi.
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi
mengatakan, ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan dalam pertarungan
pilpres mendatang. Pertama, uji materi Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang diajukan Yusril ke
Mahkamah Konstitusi (MK). Jika MK menerima gugatan Yusril, maka akan ada banyak
pasangan capres-cawapres yang didaftarkan ke KPU. Kedua, kata
Burhanuddin, jika gugatan Yusril ditolak, maka syarat pengusungan
capres-cawapres tetap seperti Pilpres 2009, yakni 20 persen perolehan kursi DPR
atau 25 persen perolehan suara sah nasional. Burhanuddin memperkirakan ada tiga
atau empat pasangan yang akan bertarung. Ketiga, lanjutnya, faktor
internal parpol dalam penetapan capres-cawapres. "Paling penting, ke depan
akan banyak kampanye, baik positif maupun negatif. Itu akan memengaruhi
elektabilitas". (Kompas.com/31/1213).
Jokowi sendiri seperti gaya khasnya
seolah tak peduli jika namanya melambung dalam survei-survei. Ia secara
diplomatis lebih mengedepankan kesantunan politik alamiahnya. Ia tak
menampik bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mempersiapkan
dirinya untuk menjadi pemimpin. Pria yang akrab disapa Jokowi ini mengaku
mendapat banyak pelajaran di bidang politik dari Mega. Bahwa maksud
dipersiapkan menjadi pemimpin oleh Megawati merupakan sinyal kuat dalam
pencapresan, publik bisa mereka-reka soal itu.
Dikalangan masyarakat, sudah ada
yang memproklamirkan -Projo- atau Pro-Jokowi. Seperti saat pilgub DKI yang
dimenangkannya (bersama Ahok), tampaknya Jokowi memang sosok yang memiliki
fatsun politik kelas atas. Ia patuh pada aturan dan mekanisasi yang berlaku di
partainya. Sebab, itu PDI Perjuangan harus berani memutuskan secara tegas pada
saatnya sebelum kehilangan momentum. Momentum inilah yang ditunggu publik,
lebih-lebih kader dan konstituen PDI Perjuangan sendiri.
Jika berandai-andai, Jokowi
dipastikan sebagai capres oleh PDI Perjuangan, maka Ada lima nama yang
menjadi lawan berat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo jika ia maju pada
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Hal itu berdasarkan hasil survei
Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia dari penilaian 61
pakar.
"Mereka ini lima besar lawan berat Jokowi," kata Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI saat memaparkan hasil Survei Opinion Leader Mencari Lawan Jokowi di Jakarta, Minggu (29/12/2013).
"Mereka ini lima besar lawan berat Jokowi," kata Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI saat memaparkan hasil Survei Opinion Leader Mencari Lawan Jokowi di Jakarta, Minggu (29/12/2013).
Kelima nama
tersebut ialah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (7,38 poin), Wakil Gubernur
DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (7,28 poin), Rektor Universitas Paramadina
Anies Baswedan (7,04 poin), CEO Trans Corp Chairul Tanjung (6,43 poin), dan
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad (6,42 poin). Mereka
dianggap potensial menjadi capres maupun cawapres pada 2014.
Semakin
banyak nama, semakin terbuka persaingan dan bagus untuk kepentingan
demokratisasi. Tingkat partisipasi politik rakyatpun akan terkerek naik.
Sebab, angka pemilih Golput tetap menjadi -ancaman- serius bagi legetimasi
kepemimpinan nasional.
Poin penting
bagi PDI Perjuangan adalah mau sebatas menduplikasi keberhasilan kerja-kerja
pemenangan ala Jokowi di pilgub DKI atau Ganjar Pranowo di pilgub Jateng atau
mampu meramu secara jitu kebutuhan strategis dari dinamika politik yang ada
seraya mempelajari semua potensi yang dimilikinya. Jokowi efek atau Ganjar
efek, bahkan Risma efek jika diformulasikan secara cerdas diyakini akan mampu
menggelembungkan kemampuan memenangkan suksesi nasional. Namun jika masih
terpatri pada romantisme-romantisme, kultus kepemimpinan internal yang
melahirkan sugesti politik, bisa dipastikan PDI Perjuangan dianggap gagal
menyerap benang merah keinginan rakyat soal pemimpin yang dikehendakinya.
Tidak mudah memang untuk diputuskan, tapi bukan berarti tak bisa diputuskan.
Hen Eska



0 komentar:
Posting Komentar