Tentang air yang tumpah dari langit, didahului oleh tanda; mendung dan langit yang menghitam. Kemudian berbondong-bondonglah air terjun ke tanah. Seperti saling berkejaran satu dengan yang lain, menjadi terdahulu sampai menjejak bumi.
Begitu teringat air. Teringat konten-konten kehidupan yang bergantung pada air. Tentang yang aku minum setiap saat, soal mandi dan cuci muka, saat membasahi dalam wudhu menjelang kunjungan rohani kepada Tuhan, ketika mencuci baju dan celana juga piring dan gelas, bahkan ketika menjumpai gelaktawa dan keriangan para pengojek payung yang mencoba menjawab hujan sebagai pintu rejeki penghidupannya.
Hati-hati dan waspadai banjir! Genangan air yang mengalir memang kerap merubah ruang-ruang legok di sekitar kita menjadi tempat berkumpulnya air selain laut, danau, waduk atau got. Merka menampung air yang tumpah itu, saat semuanya membatasi dirinya dari tumpahan air-air itu, air memilih caranya sendiri untuk tetap bergerak, jadilah banjir.
Pahami saja hujan sebagai bagian penting dalam kehidupan ini. Karena sejatinya, sebutir saja yang tumpah itu adalah kehidupan
(Hen Eska)
Hypokrisis Kronis
-
Oleh Reza A.A Wattimena Awal 2026, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat,
menelan ludahnya sendiri. Ia berjanji tidak akan membawa perang baru di
dunia. B...
3 hari yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar