Sabtu, 01 Juni 2013

SBY Janji Lindungi Minoritas

Pidato Presiden baru bermakna jika ia benar-benar merawat toleransi dan menindak tegas pelaku kekerasan atas nama apa pun di Tanah Air.
DI tengah keberatan sejumlah kalangan, Presiden Susilo Bam bang Yudhoyono menerima penghargaan World Statesman Award di New York, AS, Kamis (30/5) waktu setempat atau kemarin WIB. Presiden berjanji akan menegakkan hukum untuk menjamin kebebasan dan toleransi di Tanah Air.


Penyerahan anugerah dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) di Hotel The Pierre, New York, itu berlangsung meriah. Selain untuk SBY, penghargaan diberikan kepada Chairman of United Technologies Corporation Louis R Chenevert atas kontribusinya pada pengembangan teknologi.

Dalam acara gala dinner yang diselenggarakan Rabi Arthur Schneier tersebut hadir pula tokoh-tokoh dunia, pejabat pemerintahan, pengusaha, dan para pemuka agama. Mereka antara lain mantan Menlu AS Henry Kissinger dan Deputi Sekjen PBB Jan Eliasson. Kissinger yang memberikan pengantar sebelum Yudhoyono berpidato mengapresiasi pembangunan demokrasi di Indonesia. Dalam 15 tahun, ujarnya, Indonesia bisa mengembalikan keadaan yang sebelumnya penuh dengan persoalan, mulai inflasi yang mencapai 75%, konflik sosial, hingga terorisme, menjadi negara demokrasi.

Dalam sambutannya, Yudhoyono menyampaikan kehidupan yang harmonis, rukun, dan damai merupakan cita-cita bangsa Indonesia sejak merdeka. SBY juga menggarisbawahi pernyataan Kissinger bahwa 15 tahun lalu Indonesia sempat dikatakan akan terpecah karena persoalan multidimensi. “Namun, bangsa Indonesia bisa melewati skenario yang buruk itu dengan satu per satu menyelesaikan persoalan. Sekarang ini Indonesia boleh dikatakan sebagai sebuah ce rita sukses dari transformasi demokrasi di abad ke-21,“ kata Presiden yang disambut tepuk tangan hadirin. Yudhoyono menambahkan, seperti bangsa-bangsa lain di dunia, Indonesia masih menghadapi persoalan intoleransi. Ia menegaskan tidak akan menoleransi kekerasan atas nama apa pun dan akan melindungi minoritas. “Saya menjamin hukum ditegakkan. Kami berupaya hidup dalam kebebasan dan rasa persaudaraan,“ tandas Presiden.

Menunggu bukti Rabi Schneier menjelaskan Anugerah Negarawan Dunia untuk SBY diberikan atas kontribusinya bagi kemanusiaan dan keberhasilannya membangun demokrasi di Indonesia.

Secara terpisah rohaniwan Franz Magnis Suseno mengatakan pidato Presiden lebih bermakna jika sesuai dengan kenyataan di masyarakat bahwa kelompok minoritas benarbenar dilindungi dan pelaku kekerasan terhadap minoritas betul-betul ditindak tegas.
“Saya sangat berharap agar apa yang disampaikan beliau di Amerika dibuktikan saat kembali lagi ke Tanah Air. Kalau kemudian sekadar pidato, itu tidak punya manfaat sama sekali,“ kata Magnis, kemarin.

Di sisi lain, Human Rights Working Group (HRWG) menilai pidato Presiden tidak mengarah ke perbaikan dan penyelesaian kasus-kasus intoleransi dan kekerasan berbasis agama di Indonesia. (SW/Mad/X-8) 

Sumber: mediaindonesia.com

0 komentar:

Posting Komentar