Max Havelaar adalah nama seorang Asisten Residen yang ditugaskan di Lebak, Bantam ( Banten). Itulah tokoh yang digambarkan oleh Multatuli dalam bukunya. Bahkan ia dijadikan judul bukunya itu: "Max Havelaar of de Koffijvellingen der Nederlandsche Handelmaatschhapij ". Karya Multatuli yang termashur ini sudah diterjemahkan kedalam berpuluh bahasa sehingga telah menjadi bagian dari kesusasteraan dunia, meskipun sudah 25 tahun Indonesia merdeka belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hanya bagian dari Max Havelaar yaitu Bab XVII yang sudah dikenal di Indonesia dalam bahasa Melayu, yaitu yang menceritakan tentang isah Saija dan Adinda.
Max Havelaar ditulis oleh Eduard Douwes Dekker dengan memakai nama samaran Multatuli, pada bulan September sampai Desember 1859 di kamar loteng yang disewanya. Waktu itu ia , seorang bekas pejabat di Hindia Belanda, hidup dalam segala kemiskinan justru karena telah melakukan tugasnya sesuai dengan sumpah jabatan yang diucapkannya pada saat pelantikannya sebagai Asisten Residen di Lebak.
Buku itu terdiri atas XX Bab, berisi kritikan terhadap sistem Tanam Paksa yang waktu itu masih berlaku. Sistem Tanam Paksa yang disebut dengan istilah Cultuur Stelsel itu menentukan bahwa penduduk harus menyerahkan seperlima dari tanahnya kepada Gubernemen untuk ditanami hasil bumi yang laku di pasaran Eropa seperti kopi, teh dan gula.Penduduk yang harus bekerja di kebun itu diberi upah tanam ( yang biasanya tidak sampai ke tangan mereka) Untuk mengangkt hasil bumi ini, didirikanlah Persekutuan Dagang Belanda pada th 1824. Maskapai itu mengangkt hasil bumi "milik" Gubernemen ke Negeri Belanda dan melelangnya disana. Untuk itu maskapai boleh menentukan sendiri ongkos angkut dan ongkos pelelangan yang tinggi. Penghasilan ini mendatangkan keuntungan yang tinggi bagi bagi ekonomi Belanda, sebaliknya menciptakan penderitaan bagi pribumi karena menghadapi penindasan dari dua arah yaitu dari Gubernemen dan dari penguasa tradisional.Tentang hal ini dilukiskan oleh Multatuli dalam kisah Saija dan Adinda.Kisah itu dilengkapi dengan sajak " Liatlah badjing" yang ditulisnya dalam bahasa Melayu waktu itu.
Buku Maz Havelaar juga mengandung unsur biografis karena yang digambarkan oleh Havelaar sebenarnya adalah pengalaman pribadi Douwes Dekker ketika menjadi asisten residen di Lebak. Buku yang disebut pamflet politik dalam bentuk sebuah roman yang ditulis oleh Multatuli itu seolah-olah ditulis oleh tiga orang. Hal ini untuk menampilkan pandangan orang tentang Douwes Dekker, bekas Asisten Resiseden Lebak, yaitu:
1.Batavus Droogstoppel, makelar kopi di Amsterdam yang materialis dan munafik. Memandang Havelaar sebagai Sjaalman yang gagal. yang tidak mempunyai uang untuk membeli jas untuk dirinya sendiri, sehingga kesana kemari hanya melilitkan syal di lehernya.
2. pemuda Jerman Stern, yang melihat Havelaar sebagai seorang idealis.
3. Multatuli yang melihat dirinya sendiri sebagai orang yang banyak menderita.
Buku Max Havelaar ditulis oleh Multatutli dengan 2 tujuan, yaitu yang pertama untuk peninggalan yang berharga bagi anak2nya jika orang tuanya meninggal karena sengsara. Yang kedua adalah mau dibaca!
Usahanya untuk memberikan keadilan kepada rakyat di daerah kekuasaannya mengakibatkan dia kehilangan kedudukan terhormatnya, dan usahanya merehabilitasi di Gubernemen sia-sia, maka ia menulis untuk dibaca,untuk membukakan mata tentang adanya ketidak adilan di Timur, karena ia bukanlah penyair yang menyelamatkan lalat ,bukan pemimpi yang lembut hati seperti Havelaar yang tertindas melakukan kewajibannya seperti seekor singa dan menderita lapar dengan kesabaran seekor marmot di musim dingin.
Buku ini dipersembahkan kepada raja Belanda Willem Ketiga, Kaisar kerajaan Insulinde yang indah, yang melingkar di khatulistiwa laksana sabuk zamrud, dengan sebuah pertanyaan:
Apa kemauan Tuan Mahadiraja bahwa orang-orang seperti Max Havelaaar kecripat lumpur orang-orang seperi Slijmering dan Droogstoppel; dan bahwa nun jauh disana rakyat Tuan yang lebih dari tigapuluh juta disiksa dan dihisap atas namamu...........................................???
Max Havelaar baru diterjemahkan seluruhnya kedalam Bahasa Indonesia dalam rangka Tahun Buku Internasional pada tahun 1972 dengan bantuan subsidi Pemerintah Belanda. Penterjemahnya adalah HB Jassin.



0 komentar:
Posting Komentar