Sabtu, 08 Juni 2013

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah


Jasmerah kata Bung Karno, maka jejak bangsa itu harus diabadikan, termasuk ketika rakyat dihebohkan air Ponari.

MARI menelusuri rekam jejak bangsa.

Masuklah ke Mu seum Kesehatan dr Adhyatma, berbagai peralatan kesehatan tempo dulu yang secara mengejutkan berpadu dengan benda-benda terkait keyakinan dan aktivitas supranatural dipamerkan di sana.

Museum di Jalan Indrapura 17 Surabaya itu dirintis sejak 1990an oleh DR dr Haryadi Soeparto, didedikasikan untuk menyimpan dan melestarikan benda-benda media bernilai historis.

Penjelasan tentang supranatural itu terungkap dari tiga bagian di dalam museum yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian kesehatan itu. Ada tema tentang sejarah kesehatan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kesehatan budaya.

Karena itu, beragam benda yang digunakan dalam praktik pengobatan tradisional ditampilkan.
Ada tempat membuang ari-ari dari berbagai suku, macam-macam gendongan, tempat menyimpan obat, dan perlengkapan kesehatan tradisional.
. Bahkan, ada pula pasungan yang kerap digunakan buat orang yang diklaim gila oleh sekitarnya.

Ada pula plang bertuliskan nama dan alamat praktik dukun. Benda yang berhubungan dengan praktik santet pun ada di sini, dihibahkan para dukun. Istimewanya, ada air dari dukun cilik Ponari, yang fenomenal dan sempat diteliti oleh Haryadi.
, “Saya teliti, saya berikan air Ponari kepada beberapa pasien, dan semuanya sembuh. Walau pun yang kami berikan bukanlah air asli ponari. Ini menunjukkan sugesti itu sangat penting dan bisa menjadi penyembuh,“ jelas Haryadi dalam Kick Andy bertajuk Merekam Jejak Negeriku.

Unsur sugesti ini pun menda, sari eksistensi kurungan ayam , di museum ini. Peranti ini kerap dipakai untuk mengobati anak yang dimasukkan ke dalamnya.

Prinsipnya, energi terbesar berada . di titik tengah.

Sebagai peneliti, Haryadi ber patokan pada UU Kesehatan yang menyebutkan bahwa sehat itu meliputi jiwa, raga, dan sosial.
Keberagaman yang dimiliki Indonesia pun dinilainya positif.

Mabaroch, sang pengelola Museum Kesehatan dr. Adhyatma berharap, ke depan museum ini bisa menjadi tempat penelitian.

“Saya harap, museum ini tak hanya menjadi museum pendi dikan dan rekreasi, namun bisa lebih menjadi museum penelitian bagi para generasi muda,“ kata Mabaroch.
Luka kami, sejarah bangsa Saat tragedi menghampiri, lazimnya manusia akan berupaya menghilangkan segala barang yang mengingatkan pada momen kelam tersebut. Tapi, tak begitu bagi keluarga besar Jendral Ahmad Yani. Momen pemberontakan G 30 S PKI pada 1965 silam, penembakan dan penculikan Jendral A Yani di kediaman rumah dinasnya di Jalan Lembang No 58, Jakarta Pusat, mereka abadikan.

Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal A Yani adalah salah satu museum yang dibangun di bekas rumah dinas pahlawan revolusi tersebut. Menariknya, isi rumah masih sama seperti 1965.
Bekas lubang peluru pada peristiwa penembakan itu masih dibiarkan, termasuk baju piyama yang dulu dikenakan sang Jenderal.

Beragam perabotan dan furnitur, seperti kursi dan meja kayu model lawas yang biasa digunakan untuk tempat tunggu tamu pun dipelihara dengan baik.

Terdapat pula lukisan Jenderal A Yani memukul salah satu anggota Pasukan Cakrabirawa yang datang ke rumahnya pada 1 Oktober 1965.
Berkeliling museum itu akan membuat pengunjung seakan berada dalam peristiwa besar ini.

“Itu lukisan Bapak waktu memukul salah satu pasukan Cakrabirawa yang mau membawanya pagi itu. Karena Bapak bilang mau ganti baju dulu, tapi tidak dibolehkan, langsung saja dibawa sama mereka,“ terang Amelia A Yani, putri ke-3 Jenderal A Yani yang saat kejadian berlangsung masih berusia 15 tahun.

Keluarga besar A Yani memutuskan menyerahkan kediaman mereka dan mengizinkan dibuat museum untuk memelihara kenangan masyarakat akan jasa dan perjuangan sosok sang Jenderal.
Museum itu kini dikelola Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat. “Saya senang mendatangi tempat ini.
Saya selalu berdoa di tempat ayah saya jatuh,“ ujar Amelia. (M-3) 

Sumber: mediaindonesia.com


0 komentar:

Posting Komentar