Sabtu, 03 September 2011

Nazaruddin Mau Jadi Pengecut Atau ‘Pahlawan’


SIAPA pun orangnya yang berani korupsi harus berani dihukum berat, atau bahkan dihukum mati seperti di China. Anak istri ikut makan/menikmati uang hasil korupsi, maka juga harus ikut menanggung dosanya. Termasuk keluarga Nazaruddin, tersangka kasus korupsi proyek wisma atlet.

Wahai Nazarudddin, engkau berani berbuat (korupsi), harus berani untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Jikalau memang ada bukti banyak pejabat dan elit politik terlibat dalam kasusmu, ungkaplah! Jangan bungkam untuk menutupi kesalahanmu! Jangan pula berkilah dan beralasan tak mau ngomong karena takut istrimu dihabisi.

Lebih konyol lagi kalau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut terseret pengalihan isu seperti soal BlackBerry yang dikabarkan diumpetin di dalam Rutan oleh Nazaruddin. Atau meramaikan opini Nazaruddin minta dipindah dari Rutan Mako Brimob ke LP Cipinang.Sementara itu beredar info dari intelijen ‘tandingan’ yang mengabarkan bahwa Nazaruddin sudah disetting sedemikian rupa untuk bungkam oleh Timsus Partai Demokrat yang ditugasi untuk mengawal Nazaruddin agar tidak bicara macm-macam. Timsus tersebut salah satunya ada oknum polisi berpangkat pamen. Makanya Nazaruddin ngotot minta dipindahkan itu hanya akal-akalannya saja. Sesungguhnya dia tidak mau dipindahkan. Dia merasa lebih aman dan nyaman ditahan di Rutan Mako Brimob.
KPK yang mestinya harus konsentrasi untuk membongkar substansi kasus korupsi ‘Nazaruddin’ jangan mau terpengaruh pengalihan isu dengan perpindahan tahanan, istri Nazaruddin akan dihabisi, atau Nazaruddin kirim surat ke Presiden SBY, lalu sekarang kabarnya Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat kabarnya kirim surat ke Yenny Wahid, Megawati Soekarnoputri dan tokoh lain-lainnya.

Jangan-jangan nanti ada yang menawari Nazaruddin main film. Wah, koruptor kok diistimewakan? Bahkan, kini dimunculkan wacana memberi remisi kepada koruptor, meski rakyat sekarang hidupnya susah dan sekarat akibat uang negara dirampok para koruptorkampret yang kian menggila di negeri bedebah ini.

Nazaruddin jangan plin-plan dan banyak berkilah serta omong bulsit. Saat di luar dulu, dia ungkapkan segala kasus dugaan korupsi sejumlah petinggi Partai Demokrat. Tapi sekarangkok bungkam seperti mulutnya disumpal seongok gombal. Kalau sebelumnya Nazaruddin menjadi ‘vokalis’ yang suka ‘bernyanyi’ tapi kini berubah jadi tuna rungu tuna wicara dadakan.

Sekarang, Nazaruddin tinggal pilih. Dia mau jadi ‘pahlawan’ sebagai whistle blower (peniup peluit atau pembongkar rahasia) yang mengungkap kebusukan elit dan kejahatan korupsi? Atau dia mau jadi ‘pengecut’ busuk yang menghindar dari tanggung jawab perbuatan yang telah dilakukannya?

Nazaruddin harus ingat pepatah: Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Berani berbuat, harus berani tanggung jawab. Tirulah kejantanan dan sifat ‘ksatria’ terpidana kasus bom Bali, Ali Imron, yang berani mempertanggungjawabkan “kesalahan”-nya secara jentel dan gagah berani! Hai Nazaruddin, jangan cengeng dan cemen bak bencong!! (***)



http://www.jakartapress.com/detail/read/4039/editorial-nazaruddin-mau-jadi-pengecut-atau-pahlawan

0 komentar:

Posting Komentar