
SEPERTI sudah diduga sebelumnya, Nazaruddin pasti ‘mengidap’ penyakit lupa ingatan mirip alasan sakitnya Nunun Nurbaeti. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu mengaku sudah lupa dengan kasus yang menjeratnya yakni dugaan korupsi proyek wisma atlet dan tudingan dia sebelumnya kepada pihak Partai Demokrat. Aneh memang, Nazaruddin jadi lupa bahwa dirinya pernah berkicau tentang banyak hal.
Nazaruddin berjanji tidak akan 'bernyanyi' lagi seperti yang pernah ia sampaikan melaluiBlackBerry Messenger dan wawacara melalui Skype dengan Iwan Piliang. Baik itu mengenai kasus suap wisma atlet maupun tudingan-tudingan yang menyerang Demokrat. "Saya nggakakan ngomong apa-apa, saya lupa semuanya. Saya tak tahu apa-apa. Saya ngaku salah," kilah Nazaruddin usai diperiksa penyidik KPK di Gedung KPK, Kamis (18/8/2011).
Padahal, saat dalam pelariannya di luar negeri, Nazaruddin sempat menuding sejumlah anggota DPR kecipratan duit ’haram’ proyek tersebut. Diantaranya, Angelina Sondakh dan Mirwan Amir (Partai Demokrat) serta I Wayan Koster. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa Anas Urbaningrum (kini Ketua Umum Partai demokrat) menikmati uang darinya saat Kongres Partai Demokrat di Bandung. Kalau kini Nazaruddin seolah-olah mengidap penyakit ‘lupa ingatan’ tetapi anehnya kenapa dia tidak lupa istrinya, Neneng Sri Wahyuni.
Benarkah Nazaruddin hilang ingatan atau disumpal mulutnya oleh tekanan dan ancaman? Pihak SBY atau 'komplotan' Anas Urbaningrum yang membungkam Nazaruddin? Anas terlihat tidak punya kekuatan, kalau ada mungkin HMI Conection yang digalangnya selama ini. Konon, jaringan teman-teman dekat Anas di HMI Connection sudah yakin dan optimis bahwa Nazaruddin tidak bakal ngomong lagi. Kenapa? Karena teman-teman dekat Anas itu yakin Nazaruddin tidak memiliki data dan bukti kuat. Persoalan dan pertanyaannya, apakah benar Nazaruddin tidak punya data atau datanya sengaja dihilangkan?
Atau Nazaruddin punya data tetapi diancam agar tidak diungkapkan? Atau memang dia tidak punya data, yakni pernyataannya hanya sebagai psy war. Tapi kalau faktor ini, peluangnya kecil. Kita ragu kalau dikatakan Nazaruddin tidak punya data. Sebab, ada yang yakin bahwa ’nyanyian’ Nazaruddin itu bukan omong kosong. Karena apa yang diungkapkan Nazaruddin itu untuk menyelamatkan dirinya dan menohok orang penting. Kalu tiba-tiba Nazaruddin bungkam dan tidak akan menyeret nama orang lain, mungkin bisa karena sudah ada kompromi atau negosiasi jaminannya keselamatan isterinya.
Jadi, faktor yang memungkinkan terjadi data Nazaruddin sengaja dihilangkan oleh dia sendiri atau orang-orang yang menekan dirinya. Sebab apa? Kalau Nazaruddin ngomong blak-blakan membongkar kasusnya, tentu orang yang namanya disebut, reputasinya bakal hilang/hancur termasuk bagi petinggi Partai Demokrat yang ambisi untuk menjadi calon presiden (capres) mendatang. Sebab, hampir pasti kalau Demokrat jadi pemenang pada Pemilu 2014, si orang tersebut akan maju sendiri menjadi capres.
Lha kita tahu sesuai kaidah bahwa siapa yang harus maju menjadi capres dari suatu partai selama ini? Ya ketua umumnya! Kalau skenario ini benar, maka jalan yang paling aman dilakukan Nazaruddin adalah melakukan aksi bungkam atau seolah ’sakit’ lupa ingatan mendadak. Sebab, saksi/terdakwa yang mengaku lupa, masih dibenarkan oleh hukum.
Apakah Nazaruddin harus diperiksa dengan alat deteksi kebohongan atau lie detector? Maka dipertanyakan dulu siapa yang akan menguji kebohongan Nazaruddin ini. Kalau aparat yang sekarang, ya sami mawon (sama saja). Jadi, harus membentuk tim independen yang memeriksa kebohongan Nazaruddin. Namun, apakah ini mungkin dan tidak melampaui norma? Jadi, penyelesaian proses hukum Nazaaruddin nanti bakal acak kadut dan silang sengkarut. Seperti kasus Suno Duadji yang perkaranya hilang lenyap tanpa pesan.
Jadi, nantinya diduga akan ada deal-deal jabatan atau fasilitas terhadap Nazaruddin. Apalagi, pasal yang dituduhkan kepada Nazaruddin ringan yaitu pasal suap, bukan korupsi. Pasal suap itu hukumannya cuma dua tahun. Lantas bagamana dnegan Nazaruddin yang pernah menunjukkan CD dan flashdisk yang merekam pertemuan pejabat KPK Chandra M Hamzah dan Ade Rahardja, dan sudah dibenarkan oleh Ketua Komisi III DPR Benny K Harman. Bisa jadi CD dan flashdisk itu sudah dibuang.
Maklum, KPK diduga hanya sekedar jadi alat kekuasaan? Yang namanya alat itu, tergantung siapa yang memakainya. Ibarat senapan, tidak bisa menembak sendiri kalau tidak ada yang memanfaatkan atau menggunakannya. Yang jelas, lumayan bagi SBY, kasus Nazaruddin bisa mengalihkan isu skandal bank Century yang terancam akan diselesaikan secara politis oleh pihak DPR, mengingat proses hukum mandeg di KPK meski paripurna DPR sudah memutuskan kasus Century melanggar hukum dan menyebut nama-nama yang harus diperiksa KPK.
Jadi, siapakah yang membungkam Nazaruddin? SBY atau Anas, ataukah ada elit Demokrat lainnya lagi? Meski kekuasaan Anas tidak sebesar SBY, Anas memiliki ’geng’ HMI Connection yang ada di mana-mana dan mereka tidak akan membiarkan Anas sendirian. Kabarnya pula, HMI Connection menguasai kepengurusan di DPD dan DPC-DPC Partai Demokrat. Jadi, kalau SBY sembarangan mencopot Anas, bisa digoyang. Kalau melihat peta demikian, maka justeru SBY di bawah tekanan HMI Connection yang komandoi Anas.
Ada penilaian, target SBY sebenarnya menjungkalkan Anas karena bukan jago Cikeas dalam Kongres lalu. Anas juga dinilai mau nyelonong sendiri untuk maju dalam Pilpres 2014. Kabarnya, Rakornas Partai Demokrat yang baru berlalu, ingin diubah menjadi Kongres Luar Biasa (KLB) tetapi tidak berhasil karena Anas masih terlalu kuat. Tapi sekarang ini, publik sudah tahu kebohongan dan perilaku ’negatif’ Anas, sehingga kursi ketua umum Partai Demokrat itu bakal rawan digoyang. Nazaruddin sekarang diyakini tidak bakal membongkaraib keluarga SBY. Meski dia satu kali lewat BlackBerry Massanger (BBM)-nya yang dikirimkan ke media, pernah menyebut nama Ibas (putra SBY) terlibat dalam kasus dugaan korupsi Wisma Atlet, namun nama Ibas tidak pernah diungkap dan disebut-sabut lagi, dan nampaknya ini selamanya Nazaruddin bungkam soal dugaan keterlibatan Sekjen Partai Demokrat itu. SBY pun merasa aman.
Nazaruddin sendiri dalam persidangan bakal ’maju kena mundur kena’. Dia mencoba bermain dengan gendangnya sendiri. Tapi bekas Bendahara Umum Partai Demokrat itu lupa meski dirinya bermain di gendnagnya namun tetap saja perlu pihak lain. Nyatanya, hal itu belum dilakukan, karena Nazaruddin masih bimbang. Dia belum mengambil sikap. Oleh karena itu, dia lebih senang memilih bungkam. Sembari dia memasang jaring, mana yang mau bayar mahal. Menunggu transaksi yang lebih menguntungkan. Dan tentang sikapnya ini secara tersirat sudah terlihat dari sikap Jurubicara Kepresidenan, Julian Aldian Pasha, yang mengatakan bahwa Presiden SBY tidak akan mau kompromi. Alias SBY tidak akan jual beli kasus dengan Nazaruddin. Benarkah? Nah, inilah menariknya!
Pernyataan SBY melalui Jubirnya itu membuktikan sebaliknya. Dalam arti, SBY sekarang justeru sedang memperhatikan siapa saja yang mau beli ’dagangan’ Nazaruddin. SBY tidak ingin buru-buru memborongnya, karena Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini tidak ingin terjebak. Menurut perkiraan, SBY kemungkinan akan membeli ’dagangan’ Nazaruddin kalau ternyata pihak lawan tidak membelinya. Namun, begitu pihak lawan membelinya, maka SBY pasti akan putar haluan. Ganti posisi, dan tidak akan beli. Tapi dengan segala kekuatan dan kekuasaannya SBY akan mencoba membuat dagangan Nazaruddin tidak busuk. Dengan demikian pihak lawan atau pihak yang membeli dagangan Nazaruddin bisa kelimpungan. Jadi, yang paling tepat adalah wait and see. (***)
Hypokrisis Kronis
-
Oleh Reza A.A Wattimena Awal 2026, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat,
menelan ludahnya sendiri. Ia berjanji tidak akan membawa perang baru di
dunia. B...
4 hari yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar