Selasa, 23 Agustus 2011

Merah Putih Ekonomi Indonesia


Oleh : Ady Suriadi ( Sekjend Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia )
Secara harfiah arti kata merdeka adalah “ Bebas”. Di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta  yang ke 66, tentu menjadi pertanyaan bagi kita semua apakah Indonesia sudah mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya atau kita sebenarnya masih dijajah, walau secara tampakan fisik kita terbebas dari penjajahan itu, Namun kita tidak bisa menutup mata  di usianya yang ke 66, Indonesia masih dijajah secara ekonomi, Ini terbukti Dominasi asing semakin kuat pada sektor – sektor strategis, mulai dari sektor keuangan, energi, sumber daya mineral, telekomunikasi , serta perkebunan. Sehingga dengan dominasi asing tersebut seringkali kepentingan masyarakat Indonesia tersandera oleh kepentingan mereka.

Berdasarkan data yang ada, Pihak asing telah menguasai 50,6 persen aset perbankan nasional sehingga sekitar Rp. 1.551 triliun dari aset total perbankan nasional Rp. 306 triliun dikuasai asing . Tak hanya perbankan, asuransi juga didominasi asing. Dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi di Indonesia tak sampai setengahnya yang murni milik Indonesia, kalau dikelompokkan dari asuransi yang ekuitasnya diatas Rp.750 Miliar hampir semunya usaha patungan. Dari sisi perolehan premi  lima besarnya adalah perusahaan asing[1]
Dari Sektor petambangan Asing menguasai 75 persen pertambangan kita,Industri telekomunikasi juga demikian parah karena asing sudah hampir menguasai keseluruhan jasa telekomunikasi yang ada di negeri ini.berdasarkan catatan yang ada, 6 perusahaan penyedia jasa telekomunikasi sudah dikuasai oleh asing dengan kepemilikan yang bervariasi sebagai berikut : SmartFren telecom 23,91 %, Telkomsel 35 %,Hutchinson 60 % , Indosat 70,14 %, XL Axiata 80 %, Natrindo 95 %. Sektor Industri kelapa sawit juga tidak ketinggalan sudah sikuasai oleh berbagai perusahaan dari negara asing. Guthrie Bhd ( Malaysia ) menguasai 167.908 hektar , Wilmar Internatioal Group ( Singapura ) menguasai 85.000 hektar, Hindoli – Cargil ( Amerika Serikat ) menguasai 63.455 hektar, Kuala Lumpur Kepong Bhd (Malaysia ) menguasai 45.714 hektar, SIPEF Group ( Belgia ) menguasai 30.952 hektar, dan Golden Hope Group ( Malaysia ) menguasai 12.810 hektar[2]  
Bukan itu saja,di pasar modal  kepemilikan investor asing mencapai 60-70 % dari semua saham perusahaan yang diperdagangkan di bursa efek .  BUMN juga demikian, dari semua BUMN yang telah diprivatisasi kepemilikan asing sudah mencapai 60 persen, dan yang lebih parah lagi adalah sector minyak dan gas. Porsi operator minyak dan gas sekitar 25 % selebihnya 75 % dikuasi oleh asing.[3]
Utang Indonesia juga semakin tinggi yang hingga bulan juli 2011 mencapai Rp. 1.733,64 triliu[4],dan sepertinya akan  terus mangalami peningkatan  setiap  bulan. dibanding dari bulan Juni 2011 Utang Indonesia   Rp 1.723,9 triliun, dan pada bulan Mei Rp 1.716,56 triliun, dan  Rp 1.676,85 pada Desember 2010.[5]
Kalau pendahulu kita rela mengorbankan jiwa raganya demi sejengkal tanah air Indonesia, semestinya kita yang hidup dinegeri yang kaya raya ini harus berupaya untuk menegakkan kedaulatan ekonomi Indonesia tanpa harus “ menete “ dari pihak asing, walau kita juga tidak bisa menafikkan bahwa kita butuh kerjasama ekonomi internasional tentu dengan takaran yang proporsional bukan malah menciptakan ketergantungan.
Walau berbagai fenomena social yang terkadang menimbulkan kekesalan kolektif terhadap keadaan dan penguasa serta tidak jarang peristiwa menabur benih pesimisme, Di hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ini semoga suatu saat Indonesia  bisa bangkit berdiri di atas kakinya sendiri ( MERAH PUTIH EKONOMI INDONESIA ).

0 komentar:

Posting Komentar