Sudah menjadi kenangan.
Tentang jilbab: berpuluh tahun yang lalu.
Jadilah ia goresan kata yang menyembul menjadi kalimat.
Biar usang, menjadi syair kehidupan.
Antara yang samar dan lantang, meninggalkan waktu yang kita hentikan saat itu juga.
Jadilah jilbabmu: membuat aku menggali lagi ingatan pada segala perpisahan.
Kematian yang menjadi sahabat akhir kehidupan.
Bukankah kita pada ikatan itu: kita tak pernah takut kehilangan.
Karena kefanaan dan kesendirianlah penuntun keabadian.
Aku mengirimmu jilbab merah: impianmu kala itu.
Sejak itu juga kita mengekalkan segala kenangan persahabatan kedalam satu catatan yang kau tulis.
Sebuah nokhtah perjalanan: kau dan aku dalam semayam masa lalu.
Hari ini.Kukabari kau. Jilbabmu tersimpan rapih dalam semua ruang ingatanku.
Menjadi prasasti atau mahkota: perlambang ia punya arti.
Hanya saja, ia tak berwarna merah, tapi hitam: seperti kematian kita yang lewat.
hen eska: hingga kematian adalah ladang pengharapan yg luas tak berbatas..



0 komentar:
Posting Komentar