Minggu, 17 April 2011

Soul Mate


Aku juga tak tahu: mengapa menangkap bayangmu disetiap secangkir kopi yang kuminum.
Seperti malam ini.
Di ronde terakhir pertarungan tinju dua anak negeri.
Yang mencoba membawa-bawa nama republik dipanggung.
Tak ada yang roboh. 
Cuma lebam-lebam.
Lebih bagus ketimbang wajah republik yang penuh koreng.

Aku hanya mau nikmati kopi: karena disitu aku menyatu dengan suara hati.
Diluar, angin mencumbui semua daun.
Merayu-rayu memohon kenikmatan.
Hingga semua pohon takluk, roboh dan terlentang.
Ternyata bukan angin yang memenangkan rayuan.
Segerombolan ulat bulu menjilati tubuh telanjangnya.

Aku yakin: ini bukan kopi terakhir yang kau buatkan untukku.
Tak ada ujungnya kemana ia mengalir atau menyelinap kedalam kutangmu
Terlanjur nakal, yang begitu memang bawaan akal
Tak ubahnya dendang chaiya-chaiya yang sedang booming.
Membuat polisi bukan lagi jago nyemprit, tapi boleh jadi artis.

Aku mulai ngantuk: bayanganmu nyata
Dipojok kamarku ada cermin yang kita beli dipasar loak.
Kau menari disitu. Telanjang dan tersipu
Cinta yang keparat.
Ternyata tentara lebih keparat karena punya bedil
Dan berbisnis tetek dengan ukuran super gede.

Aku mau memangkumu: seperti malam yang sudah-sudah
Lalu kau bisikkan rapal, jangan kau kutinggalkan
Semua penghuni negeri mendengkur
Tinggal seekor burung. Tersungkur di air mancur.
Menjadi tertwaan bintang-bintang.

Aku, kamu: tidur
Lupakan hari ini. 
Besok pagi kita punya anak lagi.
Kalau laki-laki bernama tembok oposisi.
Kalau perempuan namai bunga revolusi


hen eska 18 April 2011

0 komentar:

Posting Komentar