Melihat Athena dari puncak bukit Acropolis, semua tampak indah. Rumah-rumah warna putih berdempetan seperti kubus-kubus yang ditata rapi mengelilingi bukit Acropolis yang berdiri kokoh di tengah kota Athena. Ada bagian yang berlatar laut, yang biru airnya begitu kuat. Ada yang berlatar pegunungan—Parnitha, Imittos, dan Egaleo—yang mengepung Athena. Nyaris tidak ada kehijauan pohon, yang terlihat hanyalah bangunan dan bangunan dari dataran rendah hingga merayap di kaki bukit.
Acropolis adalah pusat segala-galanya. Di bukit inilah bertemu mitologi, ibadah dari berbagai agama, kepentingan politik, ungkapan kekuasaan, catatan dan peninggalan sejarah, seni, serta peradaban. Pada saat yang bersamaan, Acropolis menjadi monumen demokrasi yang menjadi struktur politik Yunani.
Di puncak Acropolis berdirilah dengan megahnya sisa-sisa kuil Parthenon. Sisa-sisa kuil itu menjadi saksi bagaimana peradaban dan seni Yunani pada masa lalu. Kuil Parthenon mulai dibangun pada tahun 447 SM dan selesai pada 438 SM. Itu berarti bangunan itu sudah berdiri di atas puncak bukit Acropolis selama 2.500 tahun!
Parthenon merupakan ungkapan terima kasih rakyat Yunani di masa lalu kepada Dewi Athena, dewa penyelamat rakyat Athena dan Yunani dalam Perang Persia. Itulah sebabnya kuil itu diberi nama Kuil Perawan Athena; Parthenon berasal dari bahasa Yunani, parthenos yang berarti perawan.
Di kuil itulah sepanjang sejarah pemujaan kepada Yang Maha Agung dilakukan. Mula-mula memang sebagai pemujaan pada Dewa Athena, dewi kebijaksanaan yang memberikan pohon zaitun—simbol perdamaian dan kemakmuran—kepada rakyat Athena. Tetapi, pada suatu masa, sekitar abad keenam, Parthenon digunakan sebagai gereja. Bukan Dewi Athena lagi yang dimuliakan, melainkan Theotokos, Perawan Maria. Ketika Athena jatuh ke tangan kekalifahan Utsmaniyah (Ottoman), sekali lagi Dewi Athena disingkirkan. Di masa itu Parthenon digunakan sebagai masjid.
”Benarlah kalau kita mengunjungi tempat ini. Bukankah dari sejarahnya Acropolis di masa lalu menjadi pusat religius, pusat kegiatan keagamaan, bukan hanya agama Yunani kuno, tetapi juga Kristen dan Islam,” komentar Andri Hardi, Direktur Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri RI yang memimpin delegasi dialog antarpenganut agama (inter- faith) Indonesia-Yunani.
”Kita sekarang bisa membandingkan, setelah mengunjungi Beograd, Serbia, bahwa agama bisa menjadi penyebab kehancuran sebuah bangsa dan negara, tetapi juga bisa memberikan kedamaian, kerukunan, dan keindahan seperti yang kita saksikan sekarang ini,” lanjutnya di puncak Acropolis.
Acropolis memang memberikan keindahan. Paling tidak menjadi salah satu tujuan wisata di Yunani yang setiap tahun dikunjungi sekitar 16 juta wisatawan dari berbagai negara. Namun, keindahan masa lalu Yunani itu mulai samar-samar, demikian pula keragaman agama itu juga kabur. Dialog antarpemeluk agama, misalnya, dapat dikatakan merupakan barang baru di Yunani.
Yang terjadi di Yunani baru pada tahap ekumenis, kerja sama antardenominasi Gereja; antara Kristen Ortodok dan Katolik Roma, misalnya. Ini pun belum berjalan lancar. Karena itu, dialog antarpemeluk agama, antara umat Kristiani dan non-Kristiani yang ”dibawa” delegasi dialog antarpemeluk agama dari Indonesia adalah suatu hal yang baru.
Oleh karena itu, sangat wajar bila seorang mahasiswa dalam kuliah umum di Fakultas Teologi, Universitas Athena, yang disampaikan Heru Prakoso dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, hari Senin (11/4), mempertanyakan arti penting dialog.
”Mengapa kita harus mengadakan dialog interfaith. Kalau iman kita kuat, untuk apa dialog. Apakah itu justru hanya akan melemahkan kita, dan kita terpengaruh iman agama lain,” tanya seorang mahasiswa.
Secara tidak langsung, pertanyaan itu dijawab oleh seorang imam ortodoks, Stafanos Avramidis, di tempat lain. ”Dialog itu penting karena itu menunjukkan kedewasaan dan kematangan kita. Dengan dialog, kita mengetahui dan memahami orang lain dan orang lain juga bisa mengerti dan memahami kita. Kita tidak mungkin hidup menutup diri, tidak peduli orang-orang lain di sekitar kita.”
Sambil melihat puncak Acropolis, Rektor Universitas Negeri Islam Syarif Hidyatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat, mengatakan, banyak persoalan yang dihadapi Yunani, selain semakin pudarnya roh kehebatan peradaban masa lalu.
”Umat Islam di Yunani, seperti di negara-negara Eropa lainnya, kebanyakan adalah imigran. Mereka ini biasanya secara pendidikan dan pengetahuan agamanya rendah. Ini menjadi salah satu kendala karena tidak bisa meleburnya mereka ke dalam masyarakat lokal. Di antara para pemeluk agama Islam sendiri ada rintangan bahasa yang menjadi penghambat persatuan mereka,” katanya.,
”Mereka berkumpul dan menyatu di masjid berdasarkan atas asal etnis atau asal negara mereka. Inilah yang membuat mereka tidak memiliki imam yang menyatukan mereka,” ujar Komaruddin.
Acropolis memang indah. Parthenon juga indah. Tetapi, keindahan itu pelan-pelan mulai pudar. Kerukunan hidup yang dulu pernah terpancar antar-umat beragama dari puncak Acropolis sekarang mulai menghilang. Yunani seperti nenek tua yang kelelahan meskipun sudah beranak-pinak. Dan, dialog antarumat beragama diharapkan dapat menyegarkan kehidupan mereka karena dialog akan memperkuat kehidupan berbangsa, memperkuat hubungan antaranak bangsa, yang sekarang di Yunani cenderung diwarnai rasa curiga, bahkan termasuk antardenominasi Gereja. (Trias Kuncahyono, dari Athena, Yunani).
Sumber:http://cetak.kompas.com



0 komentar:
Posting Komentar