Oleh: hen eska
Seperti lakon dalam Oidipus Sang Raja. Semua orang bicara,"Vae Victis !, Vae Victis !". Celakalah kau !.
Perempuan memang sosok yang kerap dieksploitasi. Struktur sosial kita yang patriakimembuat masa depan perempuan selalu dihadapkan pada dogma kodratiyah. Serba tak punya ruang dan daya tawar (!). Tak heran seorang Nawal el Saadawi berang dengan kondisi ini. (Fenomena penindasan dan pelecehan perempuan di Mesir lebih sistemik?). Ditulisnyalah "Perempuan Dititik Nol". Karena bukunya inilah kemudian ia menjadi target penangkatapan pemerintahan Mesir. Perlawanan pada nilai subtantif tentang makhluk yang terlanjur distempel "warga kelas dua". Bahkan stigma penciptaan oleh Tuhanpun direduksi sebagai diciptakan perempuan dari satu tulang rusuk Adam yang laki-laki itu (?).
Bteulkah kenyataan perempuan sub-ordinat?. Ada perseteruan soal politik maskulin versus feminimisme. Justru dalam gagasan besar perempuan terhimpun kekuatan memadai dengan kemampuan laki-laki pada umumnya. "Berani hidup, berani mati", menyitir dari Paramoedya Ananta Toer soal nilai-nilai esensial manusia. (ya laki-laki, ya perempuan).
Saat kampanye-kampanye politik di pemilu alu. Jualan politik caleg-caleg perempuan menemukan momentum yang tak cuma kesan lips service. Utamanya soal korupsi. Pemimpin perempuan lebih amanah dalam memegang kekuasaan.Ukurannya cukup faktual: hampir tak ada elit perempuan yang digelandang dalam kasus koupsi yang makin masif di republik ini. Kalaupun ada, ia tak bisa digeneralisasi (!).
Panggil saja: ujhie -dengan huruf kecil-. Perempuan muda yang melihat kenyataan sebagai harapan. Ia pasti tak membaca Perempuan Dititik Nol atau nonton pementasan Vagina Monolog. Drama hidup perempuan setiap hari ia tonton, bahkan perankan (!).
Merawat dan membesarkan anak-anaknya 'sendirian' saja sudah keharusan. Sebab itu, hidup benar-benar sebuah pilihan. Meneruskan langkah atau terjerambab dalam pekatnya drama melankolik kehidupan, rumah tangga, single parent, yang berujung sebagai pecundang (?).
Toh demikian itu tak cukup. Publik tahu bagaimana Melinda Dee (dengan tetek besarnya) menyita perhatian sosialita. Apa ia potret kejahatan perempuan?. Kridayanti yang nikah satu bulan, tapi (konon) buntingnya berumur empat bulan apakah juga potret kejaangan perempuan masa kini?
Ada jutaan ujhie -dengan huruf kecil- di negeri ini. Mereka membangun kesadaran hidup dengan apa adanya (buah sistem berpikir yang patriaki juga). Tapi keadaan memacu adrenalin: memenangkan hidup !
Postulat utama dalam domain kesetaraan yang kerap dimunculkan adalah, disetiap kesuksesan lai-laki ada perempuan disampingnya -bukan dibelakangnya-". Cukup jelas mengapa ujhie lebih memilih 'dengan huruf kecil" ketimbang dengan huruf besar.
Ia hanya mau melhat hidup dengan mata hati. Pantarhei: mengalir sebagai skenario illahiyah. Lain tidak.
Seperti Mbah Surti, gembel yang biasa mangkal ditiang pancng pertigaan pemkot Bekasi. Tali kutangnya dibiarkan tinggal satu sampai akhir hayatnya. Begitu apa adanya. Tak menyalahkan nasib. Tapi saat haknya diciderai, ia bangkit dengan kesadaran yang kaffah. Perempuan, apapun statusnya tak bisa dikerdilkan !
Panggil saja perempuan itu: ujhie -dengan huruf kecil-.
(kuliner asrama haji bekasi, warungnya tinggal satu, yang lain bangkrut)



0 komentar:
Posting Komentar