
Sudah habis alias tamat, atau the end !. Semua parade peristiwa yang berbaris di sepanjang tahun 2010 diakhiri juga dengan hujan kembang api yang muncrat dilangit kota, gang-gang kampung berisik dengan terompet prat-pret-prot, gedung-gedung memejeng baliho besar dengan tulisan happy new year 2011, muda-mudi kesemsem cinta barangkali juga mengucap janji seia-sekata dalam ikrar, "aku janji gak tinggalin kamu koq". Anak-anak merengek karena jagung bakarnya ditilep kawannya, tukang arang mendadak laris karena semua warga bikin pesta ayam bakar, ikan bakar hasil urunan mendadak. Begitulah wajah dunia menghantar 31 Desember tiap tahunnya (saya gak tahu kapan muasal pesta tahun baruan dimulai).
Begitu juga dalam khasanah tulis-menulis. Banyak yang doyan menulis catatan akhir tahun. Soal berbangsa dilihat dalam ragam sisi dan aspek. Politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya menghiasi surat kabar nasional baik yang versi cetak ataupun online. Demikian juga media elektronik. Banyak stasiun tv atau radio menyajikan tayangan analisis untuk menapaktilasi perjalanan di tahun 2010 yang sudah ‘the end’ itu.
Tempat hiburan dibanjiri masa. Konon tempat-tempat seperti Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Inonesia Indah, Tugu Monas menjadi tempat terfavorit warga yang khususnya tinggal di Jakarta dan sekitar pinggirannya (Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor).
Kalau sudah soal politik, banyak pengamat, tokoh dan siapa saja yang mengupasnya secara lisan dan tulisan tentang politik selalu mengedepankan fenomena politik tentang kepemimpinan presiden SBY. Faktor SBY masih kuat dalam pencitraan politiknya tetapi tak lagi menjadi kutub magnet untuk menguatkan popularitasnya. Inilah yang kemudian membuat SBY seolah kehilangan daya tarik politiknya. Ingatan publik akan terfokus pada ‘kalahnya’ trend politik pencitraan SBY pada kasus RUU Yogja. Itu saja.
Dibidang hukum, publik akan jauh lebih panjang ingatannya soal kasus mega skandal Century yang ketika itu secara politik (keputusan DPR melalui voting) jelas memvonisnya sebagai praktek penuh manipulatif. Tapi sayang, keputusan politik saja tidak cukup kuat untuk menindaklanjuti sebagai ‘kekuatan’ untuk mendelegitimasi pemerintahan SBY. Alhasil kompromi politik (lebih tepatnya politik transasksional) menghasilkan Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi yang dalam perjalanannya lebih menjadi corong kepentingan partai-partai ketimbang sebagai lembaga independen parpol peserta koalisi. Dampaknya setgab rentan fragmentasi politik !
Urusan ekonomipun tak kalah gedombrengannya. Satu contoh yang menguras tanda tanya publik adalah soal kasus IPO Krakatau Steel yang dipadang sebagai runtuhnya pondasi kemandirian ekonomi nasional. Ini berangkat dari keberadaan PT. KS sebagai industri strategis yang pendiriannya diperuntukkan untuk menopang banyak industri dalam negeri. Bahwa sebelumnya terjadi ‘pembuangan’ sosok Sri Mulyani sebagai menteri keuangan yang jadi bulan-bulanan dalam kasus century, masyarakat melihatnya sebagai buah dari politik transaksional yang terkait dengan kelahiran setgab koalisi. Buntutnya, Sri Mulyani ‘bebas’ dari tekanan kasus century dan menjadi ‘duta bangsa’ di bank dunia.
Siapa yang tidak kenal Gayus? Ah sudah terlampau panjang cerita yang melibatkan sosok pegawai pajak ‘rendahan’ tapi bisa membuat semua petinggi tidur tak tenang. Ini aspek hukum. Aspek yang tak pernah mengandung kepastian hukum. He..he..he..hukum-hukuman kali ya? Faktanya memang citarasa hukum bergantung dari pemilik kepentingan. Jadi sesungguhnya tak pernah ada hukum di republik ini !
Puncak dari penggalan peristiwa yang menguras energi sia-sia itu agak sedikit menyembulkan ‘kebahagiaan’ lewat ajang turnamen 2 tahunan level asia tenggara. Namanya Piala AFF. Indonesia menjadi tuan rumah untuk penyisihan grup A (Indonesia, Laos, Thailand dan Malaysia). Sementara grup dimainkan di Vietnam (Vietnam, Philipina, Myanmar dan Singapura). Perhelatan ini menghadirkan fenomena tersendiri dikalangan masyarakat Indonesia yang terlanjur haus dan lapar kebanggan, ikatan kebersamaan dan nasionalisme yang terluka.
Menang, menang dan menang. Itu perjalanan tim garuda didadaku, begitu publik menyebut Firman Utina dkk. Tak penting soal naturalisasi Irfan Bachdim dan Christian Gonzales, utamanya merah putih menang, lepas beban dari kecamuk politik, hukum, ekonomi dan seabrek bencana alam. Nyatanya memang seperti itu, ephoria menjalar kemana-mana. Tukang kaos garuda didadaku (koetum timnas) laku keras melebihi saat perhelatan piala dunia Afrika Selatan. Tibalah partai final yang mempertemukan timnas dengan Malaysia (tim yang digebuk 5:1 dilaga penyisihan grup).
Ini final keempat kalinya ! Timnas gagal mendapat ruang konsentrasi mempersiapkan diri menghadapi final yang menggunakan sistem home and away itu. Pastilah penyebabnya adalah manajemen pssi menjadikan timnas seperti selebritas baru. Akibatnya tidak saja pada sisi non-tehnis, tapi juga berimbas pada area teknis karena pemain gagap dan tidak mencapai peack performance disaat akhir kompetisi. Bahwa pada leg pertama di stadion Bukit Jalil timnas mendapat gangguan serius dari fans Malaysia dengan aksi-aksi laser yang menggangu pandangan mata Markus Horison sebagai punggawa dibawah jala timnas, toh hasil kalahnya 3:0 sebagai isyarat sudah dipaksa jatuh, tertimpa tangga pula. Dan, kemenangan 2:1 di leg kedua yang dimainkan di Gelora Bung Karno tak hanya memukul supporter Indonesia tapi juga gagal menutup akhir tahun dengan senyum yang kinclong-kinclong.
Kembali keawal pikiran saya. Ini hanya celotehan biasa diawal tahun. Ternyata memang yang awal -sekalipun hanya celoteh- selalu bertumpu dari yang sebelumya. Yang baru bertumpu dari yang lama. Nilai-nilai lawas tak bisa ditiadakan jika ingin membuat dan mengawali yang gress. Bisa celaka kalau yang baru tak punya dasar. Jadi sebaiknya di awal tahun ini, kita tak pernah lupa dari apa yang terjadi di sepanjang tahun 2010 kemarin. #



0 komentar:
Posting Komentar