Bangsa ini kerap kali melupakan sejarah memiliki nilai yang luhur.Dalam perjalanan sejarah kita melupakan empat pilar yakni Pancasila,Undang dasar 45,Negara Kesatuan dan Bhinneka Tunggal Ika.
Empat pilar hal mendasar dalam menata bangsa untuk dijadikan acuan hidup bersama. Realitas kita menghadapi persoalan keretakan hidup berbangsa dan bernegara karena empat pilar tidak dijadikan etika dalam kehidupan berpolitik. Partai politik cenderung pragmatis dan tidak membatinkan dalamperilakunya. Politik cenderung tidak ada visi bagaimana mengaktualisasikan empat pilar menjadi kebijakan yang menjaga keutuhan bangsa. Ini yang hilang.
Roh Soekarno menggali ideologi Pancasila tidak pernah dijadikan acuan kebijakan publik.Orientasi bangsa tersandera perselingkuhan negara dan pasar. Fungsi silang negara,pasar dan warga tidak berjalan seimbang.Akibatnya negeri kehilangan keadaban publik. Ini membuat bangsa terpuruk dalam jurang kehancuran sempurna. Kita malu sebagai bangsa ketika Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidatonya yang penuh simpatik memberikan pujian tentang empat pilar bangsa ini.
Cukup menggetarkan ketika dia mengakui Indonesia dengan keberagamannya merupakan negara yang tidak saja menginspirasi dirinya di masa kecil, namun juga menginspirasi negara lain. Dalam Pidatonya secara jelas menggambarkan betapa empat pilar amat pentingnya bagi bangsa ini untuk dijadikan sebagai cakrawala yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar dan berperilaku dalam kebijakan publik.
Sayangnya kebijakan publik kerap kali melupakan hal ini sebagai dasar untuk membangun bangsa akibatnya negeri kehilangan orientasi. Kini tantangan terbesar kita adalah sejauh mana bangsa ini sanggup mengelola kebinekaan yang ada. Berbagai tantangan kebangsaan dan keindonesiaan dari hari ke hari semakin berat.
Krisis Kebinekaan
Masalah kebinekaan di negara sekaya Indonesia cukup krusial akhir-akhir ini. Banyak peristiwa yang bisa dirujuk sebagai contoh tentang diciderainya kemajemukan bangsa ini.Masalah kebangsaan kita sering berhadapan dengan problem pluralitas yang semakin sulit dihargai. Akar kekerasan masih sering terpicu oleh hilangnya halhal yang dianggap sederhana dan sepele: toleransi, kebersamaan, pluralisme dan penghormatan nilai-nilai.
Akibatnya, berbagai kepentingan menyusup di balik sensitifnya hubungan agama di Indonesia. Problem kehidupan beragama di Indonesia masih cukup banyak dan setiap saat muncul problem yang berbeda-beda. Untuk menjalankan kehidupan beragama secara bersama-sama antarpemeluk dengan semangat toleransi tinggi masih menghadapi tantangan yang tidak kecil.Walaupun wacana pluralisme dan toleransi antaragama ini sudah sering dikemukakan dalam berbagai wacana publik, namun praktiknya tidaklah semudah yang dipikirkan dan dibicarakan.
Walaupun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar agama,melainkan oleh kekuatan bersama, tapi pandangan atas “agamaku”,“keyakinanku” justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.Sekalipun kita menyadari pentingnya slogan Bhinneka Tunggal Ika, tapi praktik di lapangan tak seindah dan semudah pengucapan slogan itu. Masih banyak persoalan keagamaan di Indonesia yang menghantui dan menghambat terwujudnya solidaritas, soliditas dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Toleransi dalam Tindakan
Hidup rukun berdampingan merupakan cita-cita semua umat manusia yang ada di dunia ini. Sebagai cita-cita, perwujudannya tidak semudah membalikkan tangan. Banyak sekali tantangan dan hambatan. Salah satunya, banyak orang yang senang hidup damai hanya dalam ucapan saja, tidak dalam tindakan. Dalam relasi antarumat beragama, dialog harus lahir dari hati nurani. Dialog harus tercipta sebagai sebuah cara untuk merasa, melihat dan mengalami bahwa perbedaan agama bukan menjadi penghalang dalam membantu kesadaran kebersatuan dan kebersaudaraan sesama bangsa.
Karena sebagai saudara, maka kita melekatkan tali persaudaraan dengan meminimkan perbedaan dan memaksimalkan persamaan. Segala perbedaan yang ada di antara umat beragama sebenarnya adalah cara untuk menuju pada satu kebenaran yang sama. Salah satu tantangan yang sangat besar dalam menciptakan kerukunan agama adalah fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam berbagai bentuk kekerasan. Semua agama memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan kapan pun dan di manapun.
Menyelamatkan Kebinekaan
Gairah beragama yang tinggi tidak selalu memiliki pengertian setara dengan semangat beragama yang hakiki,yakni untuk mengubah cara hidup yang lebih manusiawi. Sudah sering umat beragama kehilangan visi dan perspektif hidup. Mereka kehilangan kemampuan untuk mengambil jarak kritis,dan kehilangan kemampuan untuk menjadi hening. Mereka juga kehilangan kemampuan untuk berkontak dengan Tuhan. Inilah yang paradoks dalam kehidupan beragama saat ini.Kehidupan menjadi kontraproduktif karena gairah beragama tak lagi menjadi bagian dari perubahan laku.
Beragama dan ber- Tuhan dengan mengedepankan toleransi sering hanya bisa diucapkan melalui kata-kata. Dalam berbagai perilaku kehidupan toleransi beragama dan membumikan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya diemban oleh semua agama sering hanya menjadi penghias bibir.Perilaku kehidupan yang mementingkan keserakahan di satu sisi dan kesucian di sisi lain seringkali berseberangan secara ekstrem. Keduanya saling mengklaim sebagai pembawa kebenaran satu-satunya.
Bagi perkembangan kemanusiaan dan solidaritas, kedua pandangan ini sering berkontribusi negatif. Dari kenyataan demikian,sebenarnya pemikiran progresif untuk memperbaiki bangsa inilah yang dibutuhkan.Revolusi kebudayaan dan cara pandang mengelola bangsa ini harus dimulai dengan menciptakan habitus baru dalam berperilaku. Kita memiliki tugas demikian berat dalam situasi sulit ini.
Kita berharap agar para penyelenggara secepatnya menyelamatkan upaya pendangkalan kebangsaan dan pemasungan toleransi yang secara sistematik telah merasuki masyarakat. Negara harus mengambil langkah-langkah guna menyelamatkan kebinekaan dan janji kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila dan Konstitusi Republik Indonesia. Saatnya empat pilar yang dikenalkan kembali ketua MPR tidak hanya dijadikan slogan.
Tetapi bagaimana dijadikan kebijakan politik untuk mencapai kesejahteraan dengan mengembalikan Roh Soekarno dalam menata keadaban politik lewat kebijakan politik memperjuangkan nilai Pancasila kemanusiaan dan keadilan. Dengan sendirinya negara kesatuan akan terjaga. Dibutuhkan sebuah kesadaran bangsa terdiri bermacam suku,budaya, dan agama.Kesadaran membutuhkan jiwa musyawarah mencari titik temu ini saat hilang karena kembali kepada kesukuan,keagamaan, kedaerahan.(*)
Benny Susetyo
Sekretaris Dewan Nasional Setara,
Pemerhati Sosial
Roh Soekarno menggali ideologi Pancasila tidak pernah dijadikan acuan kebijakan publik.Orientasi bangsa tersandera perselingkuhan negara dan pasar. Fungsi silang negara,pasar dan warga tidak berjalan seimbang.Akibatnya negeri kehilangan keadaban publik. Ini membuat bangsa terpuruk dalam jurang kehancuran sempurna. Kita malu sebagai bangsa ketika Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidatonya yang penuh simpatik memberikan pujian tentang empat pilar bangsa ini.
Cukup menggetarkan ketika dia mengakui Indonesia dengan keberagamannya merupakan negara yang tidak saja menginspirasi dirinya di masa kecil, namun juga menginspirasi negara lain. Dalam Pidatonya secara jelas menggambarkan betapa empat pilar amat pentingnya bagi bangsa ini untuk dijadikan sebagai cakrawala yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar dan berperilaku dalam kebijakan publik.
Sayangnya kebijakan publik kerap kali melupakan hal ini sebagai dasar untuk membangun bangsa akibatnya negeri kehilangan orientasi. Kini tantangan terbesar kita adalah sejauh mana bangsa ini sanggup mengelola kebinekaan yang ada. Berbagai tantangan kebangsaan dan keindonesiaan dari hari ke hari semakin berat.
Krisis Kebinekaan
Masalah kebinekaan di negara sekaya Indonesia cukup krusial akhir-akhir ini. Banyak peristiwa yang bisa dirujuk sebagai contoh tentang diciderainya kemajemukan bangsa ini.Masalah kebangsaan kita sering berhadapan dengan problem pluralitas yang semakin sulit dihargai. Akar kekerasan masih sering terpicu oleh hilangnya halhal yang dianggap sederhana dan sepele: toleransi, kebersamaan, pluralisme dan penghormatan nilai-nilai.
Akibatnya, berbagai kepentingan menyusup di balik sensitifnya hubungan agama di Indonesia. Problem kehidupan beragama di Indonesia masih cukup banyak dan setiap saat muncul problem yang berbeda-beda. Untuk menjalankan kehidupan beragama secara bersama-sama antarpemeluk dengan semangat toleransi tinggi masih menghadapi tantangan yang tidak kecil.Walaupun wacana pluralisme dan toleransi antaragama ini sudah sering dikemukakan dalam berbagai wacana publik, namun praktiknya tidaklah semudah yang dipikirkan dan dibicarakan.
Walaupun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar agama,melainkan oleh kekuatan bersama, tapi pandangan atas “agamaku”,“keyakinanku” justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.Sekalipun kita menyadari pentingnya slogan Bhinneka Tunggal Ika, tapi praktik di lapangan tak seindah dan semudah pengucapan slogan itu. Masih banyak persoalan keagamaan di Indonesia yang menghantui dan menghambat terwujudnya solidaritas, soliditas dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Toleransi dalam Tindakan
Hidup rukun berdampingan merupakan cita-cita semua umat manusia yang ada di dunia ini. Sebagai cita-cita, perwujudannya tidak semudah membalikkan tangan. Banyak sekali tantangan dan hambatan. Salah satunya, banyak orang yang senang hidup damai hanya dalam ucapan saja, tidak dalam tindakan. Dalam relasi antarumat beragama, dialog harus lahir dari hati nurani. Dialog harus tercipta sebagai sebuah cara untuk merasa, melihat dan mengalami bahwa perbedaan agama bukan menjadi penghalang dalam membantu kesadaran kebersatuan dan kebersaudaraan sesama bangsa.
Karena sebagai saudara, maka kita melekatkan tali persaudaraan dengan meminimkan perbedaan dan memaksimalkan persamaan. Segala perbedaan yang ada di antara umat beragama sebenarnya adalah cara untuk menuju pada satu kebenaran yang sama. Salah satu tantangan yang sangat besar dalam menciptakan kerukunan agama adalah fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam berbagai bentuk kekerasan. Semua agama memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan kapan pun dan di manapun.
Menyelamatkan Kebinekaan
Gairah beragama yang tinggi tidak selalu memiliki pengertian setara dengan semangat beragama yang hakiki,yakni untuk mengubah cara hidup yang lebih manusiawi. Sudah sering umat beragama kehilangan visi dan perspektif hidup. Mereka kehilangan kemampuan untuk mengambil jarak kritis,dan kehilangan kemampuan untuk menjadi hening. Mereka juga kehilangan kemampuan untuk berkontak dengan Tuhan. Inilah yang paradoks dalam kehidupan beragama saat ini.Kehidupan menjadi kontraproduktif karena gairah beragama tak lagi menjadi bagian dari perubahan laku.
Beragama dan ber- Tuhan dengan mengedepankan toleransi sering hanya bisa diucapkan melalui kata-kata. Dalam berbagai perilaku kehidupan toleransi beragama dan membumikan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya diemban oleh semua agama sering hanya menjadi penghias bibir.Perilaku kehidupan yang mementingkan keserakahan di satu sisi dan kesucian di sisi lain seringkali berseberangan secara ekstrem. Keduanya saling mengklaim sebagai pembawa kebenaran satu-satunya.
Bagi perkembangan kemanusiaan dan solidaritas, kedua pandangan ini sering berkontribusi negatif. Dari kenyataan demikian,sebenarnya pemikiran progresif untuk memperbaiki bangsa inilah yang dibutuhkan.Revolusi kebudayaan dan cara pandang mengelola bangsa ini harus dimulai dengan menciptakan habitus baru dalam berperilaku. Kita memiliki tugas demikian berat dalam situasi sulit ini.
Kita berharap agar para penyelenggara secepatnya menyelamatkan upaya pendangkalan kebangsaan dan pemasungan toleransi yang secara sistematik telah merasuki masyarakat. Negara harus mengambil langkah-langkah guna menyelamatkan kebinekaan dan janji kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila dan Konstitusi Republik Indonesia. Saatnya empat pilar yang dikenalkan kembali ketua MPR tidak hanya dijadikan slogan.
Tetapi bagaimana dijadikan kebijakan politik untuk mencapai kesejahteraan dengan mengembalikan Roh Soekarno dalam menata keadaban politik lewat kebijakan politik memperjuangkan nilai Pancasila kemanusiaan dan keadilan. Dengan sendirinya negara kesatuan akan terjaga. Dibutuhkan sebuah kesadaran bangsa terdiri bermacam suku,budaya, dan agama.Kesadaran membutuhkan jiwa musyawarah mencari titik temu ini saat hilang karena kembali kepada kesukuan,keagamaan, kedaerahan.(*)
Benny Susetyo
Sekretaris Dewan Nasional Setara,
Pemerhati Sosial
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com



0 komentar:
Posting Komentar