Semakin memanasnya isu RUU keistimewaan DIY yang telah diserahkan pemerintah pada DPR, masih meninggalkan polemik saling curiga mencurigai. Seperti halnya pernyataan Melani Leimena Suharly yang mensinyalir ada tokoh-tokoh yang memanfaatkan polemik RUU Keistimewaan DIY.
Menurutnya tujuan dari tokoh-tokoh tersebut tidak lain adalah untuk menjatuhkan citra dan popularitas Presiden SBY dan Partai Demokrat.
“Ada yang `by design` atau memang menggunakan momen RUUK Yogyakarta sebagai momen yang tepat, diramaikan atau dimanfaatkan agar citra dan popularitas Presiden Yudhoyono dan Demokrat jatuh,” kata anggota dewan pembina Partai Demokrat ini.
Ia menambahkan, orang yang sengaja memanfaatkan momen tersebut adalah “oknum” dari pihak-pihak tertentu yang tak puas dengan Presiden.
“Ada letupan-letupan dimana ada orang yang punya agenda-agenda politik tersendiri, bisa sebagai seorang dari partai atau ingin untuk jadi “number one”, RI-1,” kata putri pahlawan nasional itu.
Ia menduga, apa yang dilakukan terhadap Presiden SBY maupun Demokrat tak lepas dari masalah kepentingan politik. “Saya menilai, apa yang dilakukan adalah untuk kepentingan politik semata daripada untuk kepentingan bangsa ini,” ujarnya.
“Kan sudah banyak yang mau nyalon (jadi RI-1), mungkin ada yang secara gentelmen dan ada yang membusuk-busukkan,” katanya di Jakarta, Sabtu 18 Desember 2010.
Wakil Ketua MPR RI itu menambahkan, apa yang terjadi selama satu tahun ini terhadap Presiden dan Partai Demokrat yang selalu jadi sasaran tembak merupakan hal biasa dalam demokrasi.
“Jadi bila ada yang tak bagus, diletupkan yang kurang bagus langsung diblow up. Itu mungkin karena cemburu dan tidak senang dengan kenyataan. Tapi itu sah-sah saja asal tidak curang,” kata dia.
Bagi Demokrat, selama kritikan itu sifatnya membangun, selalu akan diterima. “Seluruh kader dan pengurus PD harus kompak. Kalau ada yang negatif, kita counter tapi kalau kritik membangun kita tampung,” tandasnya.(ant/hms)
Sumber:http://matanews.com




0 komentar:
Posting Komentar