Senin, 06 Desember 2010

"Indonesia Akan Kewalahan Memblokir Wikileaks"

Wikileaks. (Foto: nynewstime.com)Pemerintah Indonesia melalui Kementrian komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) belum berencana mengikuti jejak sejumlah negara, seperti China dan Perancis, memblokir situs wikileaks.

Situs whistle-blowers tersebut diketahui masih bisa diakses melalui wikileaks.ch dan juga beberapa domain seperti wikileaks.de, wikileaks.fi, wikileaks.nf. Bahkan mirror situs WikiLeaks kini telah berjumlah sekira 355 situs yang tersebar di 208 lokasi di dunia.


"Sepertinya akan kesulitan (memblokir WikiLeaks) karena sudah banyak tersebar tapi kami tidak putus asa. Sejauh ini kami hanya melakukan monitoring, belum sampai pencegahan seperti filtering," kata kepala pusat Informasi dan humas kemkominfo Gatot S Dewa Broto, Senin (6/12/2010).

Gatot mengatakan kemkominfo telah melakukan koordinasi dengan kementerian terkait, seperti kementerian luar negeri dan kementerian koordinator bidang politik hukum dan keamanan (Polkumham) untuk menindaklanjuti perkembangan kasus Wikileaks.

"Kami hanya terlibat dalam tataran teknis tapi apabila nanti ditemukenali ada konten-konten yang dinilai membahayakan keamanan negara tentunya kami akan melakukan filterisasi," kata Gatot.

"Tapi belum sampai ke arah sana, kami baru melakukan monitoring, ibaratnya 'laga'-nya kan juga belum dimulai," kata Gatot.

Sejauh ini kemkominfo juga baru mendapatkan data-data kuantitatif mengenai informasi Indonesia di dokumen diplomatik AS tersebut.

"Sampai saat ini ada tujuh yang langsung membahasa soal Indonesia dan tiga dokumen hanya 'menyerempet' menyinggung Indonesia," kata Gatot.

Sementara itu, pengamat Telematika, Heru sutadi mengungkapkan, dari beberapa laporan yang sudah terbuka, mayoritas cukup positif. Amerika Serikat (AS) memandang Indonesia sebagai negara yang harus mendapat prioritas karena berada dekat selat Malaka yang terbesar di Asia Tenggara. Indonesia juga dianggap sebagai negara Islam yang moderat.

Lalu menanggapi isu pemblokiran Wikileaks di negara-negara seperti Prancis, dan China yang hangat diperbincangkan, Sutadi menjelaskan, saat ini mirroring wikileaks sudah ke mana-mana dan ada di mana-mana.

"Bukan cuma guardian.co.uk saja yang terbuka tapi juga ada di situs MIT," kata Heru.

Oleh karena itu, dikatakan Heru, bukan tidak mungkin upaya orang untuk bisa mendapatkan dokumen-dokumennya juga tidak sulit.

"Kita semua harus arif dan tidak gampang emosi setelah membaca dokumen yang ada. Jadikan ini sebagai pelajaran dan sejarah mengenai pandangan AS terhadap indonesia," kata pria yang juga menjadi anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tersebut.

"Blokir atau tidak memang hak pemerintah. Namun sesuai sifat internet, ketika front door ditutup, backdoor akan coba dicari untuk bisa masuk," kata Heru.

Heru menambahkan dari dokumen yang ada, bahkan pemerintah perlu membaca, mempelajari, dan mendalaminya, apakah ada yg merugikan Indonesia tidak?

Saat ini situs Wikileaks memang masih bisa diakses, bukan hanya wikileaks.ch yang bisa dibuka tapi juga melalui beberapa domain seperti wikileaks.de, wikileaks.fi, wikileaks.nf. Bahkan mirror situs WikiLeaks kini telah berjumlah sekira 355 situs yang tersebar di 208 lokasi di dunia.

Dijelaskan Heru, sebenarnya dokumen ini laporan internal AS, yang bocor, sehingga dampaknya bagi Indonesia harusnya tidak ada.

"Dan adalah naif, jika kemudian sesama komponen bangsa nantinya berkelahi karena dokumen tersebut, seperti soal dokumen mengenai pemilu di indonesia, yang satu pihak tidak terima dilabel tertentu oleh AS, dan di sisi lain menganggap kandidat lainnya didukung AS," kata Heru

"Yang pasti, apapun kata orang mengenai Indonesia, jika negatif, ya kita harus tunjukkan ke depan kita tidak seperti yg dilabelkan, Jika positif, artinya ada upaya dari negeri ini yang dihargai Misalnya ada laporan bahwa ekonomi indonesia fragile, ya kita harus bahu membahu menunjukkan bahwa ekonomi indonesia kuat," katanya. (ar/z2k) www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar