Senin, 01 November 2010

Yang Putih

Lihat saja. Malam sudah menggulung semua dedaunan.Tak tersisa sebatang asa, sekalipun hanya bertemu setitik embun -yang putih dan mengumpal dibibir cemara-.
Seperti teriakan dalam Oidipus Sang Raja; Vae Victis...Vae Victis...Vae Victis !!!
Celakalah aku. Menggenggam mantra-mantra kesumat yang kutorehkan di dinding dan tembok jiwa.
Sudah terlipat karpet merah perjumpaan kita -dengan hati telanjang-.
Dengan apa aku menggulung waktu?
Melawan sepanjang hari. Hingga peluh merambat cepat ke sekujur tubuh. Mati sia-sia
Bertahanlah dalam menghibur diri, hingga musuh-musuh kehabisan kata.
Selembar demi selembar daun yang tergulung itu adalah kitab-kitab harapan sesungguhnya.
Sesungguh-sungguhnya tentang cinta alang kepalang.
Sesungguh-sungguhnya tentang putihnya embun pagi.
Sesungguh-sungguhnya tentang indahnya pelangi.
Karena itu.
Bubuhi racun tikus di kopi pagiku nanti.
Kemudian pendam aku sebatas leher. Biar aku tetap bisa melihatmu -menaklukkan kerasnya hidup-


0 komentar:

Posting Komentar