Disini. Dibukit yang penuh cemara -daunnya tak utuh lagi-.
Hingga sepasang bukit meruncing merah.Mengintip matahari disela-selanya.
Entah kemarau. Entah penghujan. Hatimu mendamba angin tak terputus.
Sampai sepenggal kata merekah -kadang merona-; datanglah !
Disini. Cemara itu menantang batang-batangnya -yang meranggas-.
Kemarin ia menjadi sampah. Sekarang menjulangkan sumpah.
Dan, tangan-tangan tanah menenggadah.
Menanti uluran hatimu.
Sudah ada sapa. Mengalir deras dari bibir cemara -kalimatnya terbata meski tertata-
Berdiam diujung jalan. Sendiri dan kembali pulang.
Lalu kupangku cemaraku -ditungku hati, biar kecil tapi selalu hangat-
Berjalanlah kita. Dengan menggenggam keberanian. Melawan dan melawan; untuk menang !
Hingga sepasang bukit meruncing merah.Mengintip matahari disela-selanya.
Entah kemarau. Entah penghujan. Hatimu mendamba angin tak terputus.
Sampai sepenggal kata merekah -kadang merona-; datanglah !
Disini. Cemara itu menantang batang-batangnya -yang meranggas-.
Kemarin ia menjadi sampah. Sekarang menjulangkan sumpah.
Dan, tangan-tangan tanah menenggadah.
Menanti uluran hatimu.
Sudah ada sapa. Mengalir deras dari bibir cemara -kalimatnya terbata meski tertata-
Berdiam diujung jalan. Sendiri dan kembali pulang.
Lalu kupangku cemaraku -ditungku hati, biar kecil tapi selalu hangat-
Berjalanlah kita. Dengan menggenggam keberanian. Melawan dan melawan; untuk menang !




0 komentar:
Posting Komentar