Aku lupa namamu.
Padahal t'lah tertulis rapi.
Dengan tinta merah yang menghabiskan berlembar-lembar halaman buku tuaku.
Biar saja...
Kupanggil kau Cemara.
Yang tumbuh di depan halaman balai desa.
Hari ini wajahmu sulit dimaknai.
Seperti dua sisi daun cemara yang tumbang dan melayang.
Lupakan saja...
Sebentar kita lahap nasi uduk yang mengepulkan asap.
Aromanya meneguhkan kesetiaan -tak sebatas menyumpal rasa lapar-
Begitu juga dengan asap yang perlahan mengelilingi kita -menjadi kehangatan cinta-.
Padahal t'lah tertulis rapi.
Dengan tinta merah yang menghabiskan berlembar-lembar halaman buku tuaku.
Biar saja...
Kupanggil kau Cemara.
Yang tumbuh di depan halaman balai desa.
Hari ini wajahmu sulit dimaknai.
Seperti dua sisi daun cemara yang tumbang dan melayang.
Lupakan saja...
Sebentar kita lahap nasi uduk yang mengepulkan asap.
Aromanya meneguhkan kesetiaan -tak sebatas menyumpal rasa lapar-
Begitu juga dengan asap yang perlahan mengelilingi kita -menjadi kehangatan cinta-.




0 komentar:
Posting Komentar