Senin, 01 November 2010

101010; hari ini -sesungguhnya cuma hari ini-.

Hari ini penduduk dunia mencoba beragam kemasan irasional tentang 'hari ini'. Macam-macam adegan olah akal budi untuk menyambut dan menerimanya. Perempuan-perempuan bunting merasa anugrah tak terkira kalau hari ini adalah hari pecahnya ketuban sang jabang bayi yang sudah 9 bulan lebih menggelembung diperutnya. Hari ini hari baik, kata banyak orang dalam berbagai pandangan. Pokoknya hari baik. Titik. Begitu kira-kira, seolah hari yang lain jadi tidak baik, paling tidak tak sebaik hari ini.


Orang tua ramai-ramai menkhitankan anak lelakinya biar 'kecipratan' baiknya hari ini.Pasangan muda-mudi jauh-jauh hari merancang hari dan tanggal pernikahannya; hari ini, 101010. Bahkan mas kawinpun sepuluhjuta sepuluhribu sepuluh rupiah, padahal pecahan Rp.10 sudah tak ada lagi beredar di republik ini. Tapi karena sebuah bentuk keyakinan yang maha dahsyat, segalanya menjadi sesuatu yang harus bisa diupayakan. Karena melepaskan 'hari ini' begitu saja mesti nunggu 100 tahun lagi.

Nanti malam, tepat bergantian putaran jam yang mau meninggal 'hari ini', takkan meninggalkan pesan apa-apa kepada siapa saja yang hari ini memaknai 101010 dengan ribuan angan kebaikan, dengan setengah ikut-ikutan, atau bahkan dengan santainya sebagaimana hari-hari yang lain. Apakah kemudian ada kemuliaan lain hari ini; itu urusan Tuhan. Terpenting menciptakan 'lainnya' hari ini dengan hari-hari yang lain sudah dikemas sedemikian rupa. Penuh warna-warni, penuh suka cita.

Pertanyaan saya yang menggelitik. Apanya yang lain ya? Tetap ada !. Ya, memang tetap ada, dan memang harus ada. Seperti kata bijak; jadikan hari ini lebih baik dari hari yang lalu (bukan hari yang lain).  Itu artinya; hari ini ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyemai sesuatu yang baru, yang berhubungan dengan olah akal budi kita tentang kehidupan dan permasalahannya. Bukan semata tentang kehidupan dengan segala angan-angannya.

Gaung 101010 memang sudah mengapung. Entah soal hoki atau soal lainnya. Seberapa baiknya hari ini, jika hanya menjadi kemasan angan-angan, bukankah itu uthopia?. Padahal pertanda kebaikan itu jika ada musabab yang baik juga. Maksudnya adalah adakah kebaikan yang muncul jika negara salah urus? Adakah sesuatu yang baik jika negara dikuasai begundal-begundal yang korup? Apa masih ada baiknya jika negara kehilangan martabatnya? Nah, barangkali ini bisa jadi harapan  publik sudah menjadi-jadi, seolah kebaikan bisa muncul ditengah hiruk-pikuk ketidakbaikkan, atau malah representasi masyarakat yang frustasi karena tak ada mendapat hal-hal baik selama ini.

Problem 'hari ini' yang melahirkan angan-angan kebaikan tak berbanding lurus dengan kenyataan hari ini. 101010 hanya angka-angka, tak lebih dan tak kurang. Kalaupun ada yang akan tercatat dalam perjalanannya; ya sebatas si Anu ulang tahun, si Pulan dan si Fulan merayakan ulang tahun pernikahan. Bukan kesejatian tentang kebaikan yang sebenar-benar diharapkan oleh manusia Indonesia. Kebaikan karena negara dikelola lebih baik dari hari yang lain, karena hukum ditegakkan seadil-adilnya, kebaikan karena pemimpin ramai-ramai taubatan nasyuha, kebaikan yang menuntun rakyat memperoleh kesadaran baru untuk keluar dari rasa frustasi atas 'kebaikan' itu sendiri.

Salam Berlomba-lomba Menuju Kebaikan !
Hen Eska

0 komentar:

Posting Komentar