Jika matahari pergi tanpa pamit, warna senja terhalang awan. Masihkah kau berdiri dengan kaki mengangkang, lalu menantang?
Sebaris burung terbang menerjang arah, menuai pengharapan hidup dipucuk dan puncak pepohonan. Bertarung dengan penghuni pohon yang lain. Kadang kalah dan menyimpan ambisi dalam-dalam.
Dibelahan belantara yang lain, manusia menebar janji-janji hidup. Laksana kepulan asap pabrik yang mengeluarkan polusi, serta menghilangan akal sehatnya sendiri.
Secarik kertas atau selembar daun penuh tulisan caci maki, ada harapan yang diluluhlantahkan sendiri. Harakiri atau mengakhiri sengalan nafas yang tak lagi punya makna apa-apa selain kesia-siaan.
Biarlah semesta memutar waktunya sendiri, sebab masih ada cinta yang tersematkan. Ia kata-kata keabadian, kalimat yang tak terpisahkan oleh jarak; sebab cinta menguatkan!
Cintaku sederhana, seperti selembar daun yang jatuh ke tanah
(Hen Eska)
(Artikel dan Tinjauan Buku) Fasisme dan Buku oleh Joss Wibisono
-
*Fasisme dan Buku*, by Joss Wibisono. Tanda Baca, 2026.
*Zaman sudah berganti, sebagian besar aktivis buku sekarang yakin bahwa
buku hanya bisa dilawan...
21 jam yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar