Jika matahari pergi tanpa pamit, warna senja terhalang awan. Masihkah kau berdiri dengan kaki mengangkang, lalu menantang?
Sebaris burung terbang menerjang arah, menuai pengharapan hidup dipucuk dan puncak pepohonan. Bertarung dengan penghuni pohon yang lain. Kadang kalah dan menyimpan ambisi dalam-dalam.
Dibelahan belantara yang lain, manusia menebar janji-janji hidup. Laksana kepulan asap pabrik yang mengeluarkan polusi, serta menghilangan akal sehatnya sendiri.
Secarik kertas atau selembar daun penuh tulisan caci maki, ada harapan yang diluluhlantahkan sendiri. Harakiri atau mengakhiri sengalan nafas yang tak lagi punya makna apa-apa selain kesia-siaan.
Biarlah semesta memutar waktunya sendiri, sebab masih ada cinta yang tersematkan. Ia kata-kata keabadian, kalimat yang tak terpisahkan oleh jarak; sebab cinta menguatkan!
Cintaku sederhana, seperti selembar daun yang jatuh ke tanah
(Hen Eska)
Indonesia Cemas: Dari Delusi, Arogansi sampai Kedangkalan Epistemik
-
Oleh Reza A.A Wattimena Rakyat desa tidak hidup dari Dollar. Begitu
pernyataan kepemimpinan nasional Indonesia. Sungguh pernyataan yang bodoh.
Dunia global...
4 hari yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar