Rabu, 20 April 2011

Teori Terorisme Indonesia Versi Sidney Jones

Jakarta, Seruu.com - Peneliti senior aksi terorisme dari International Crisis Group Sidney Jones memaparkan beberapa teorinya mengenai maraknya aksi terorisme di Indonesia. Ia melihat pola terorisme di Indonesia berubah. Ini terjadi dari ide orang radikal di Timur Tengah yang diterjemahkan dalam buku seperti yang ditemukan di rumah tersangka bom Cirebon, Muhammad Syarif.
"Jelas menamakan jihad sendiri lebih baik. Enggak usah lagi berorganisasi. Cukup satu dua orang saja berjihad. Ide dalam buku dibahas dan jadi rekrutmen. Setelah selesai diskusi, ada rekrutmen," ungkap Sidney dalam diskusi "Modus Baru Teror Bom dan Stabilitas Daerah" di gedung Dewan Perwakilan Daerah RI, Jakarta, Rabu (20/4).

Menurut Sidney, dari pola baru tersebut teroris lebih fokus mengincar polisi karena dalam buku dari Arab Saudi tersebut tercantum perlawanan terhadap para thogut. Di dalamnya dianjurkan berjihad dengan kelompok lebih kecil daripada orang besar karena sulit dideteksi.

Sidney menyebutkan kejadian serupa di Medan, Sumatra Utara dan Klaten, Jawa Tengah dengan adanya kelompok yang bernama tim pembunuhan rahasia. Mereka tidak lagi membom hotel karena menganggap bisa saja menyebabkan orang Islam yang tidak bersalah akan menjadi korban."Di Cirebon itu kenapa bom polisi adalah meledakkan kekafiran dalam masjid, bukan meledakkn masjid karena kafir. Polisi dianggap thogut dan barat," kata Sidney.

Karena itu, Sidney menyarankan agar Indonesia tak sekedar mencegah aksi terorisme lewat RUU Intelejen dan Antiteror. Sebab, hukum bukan solusi untuk ide yang dikeluarkan lewat buku. "Kalaupun ada undang-undang lebih kuat bukan berarti gampang dideteksi," katanya.

Pemerintah Indonesia harus melakukan pencegahan di masyarakat yang dimulai dengan taklim atau pengajian di beberapa masjid atau sekolah tertentu. Baginya, tak begitu sulit untuk mengidentifikasi masjid atau sekolah yang bermasalah. Sebab, tempat-tempat  itulah fokus pencegahan."Jangan abaikan perempuan. Karena mereka banyak tahu. Lihat bagaimana orang tua Syarif yang menyesal dengan aksi anaknya. Itu harusnya dibuat jadi testimoni dan dipasang di daerah yang berbahaya," Saran Sidney.

Kemiskinan bukan faktor utama pemicu aksi teror.
"Sebetulnya memang ada pelaku terorisme yang berasal dari orang miskin, tapi ada yang tidak miskin, ada yang berpendidikan rendah, ada juga yang tinggi. Kita harus memahami latar belakang pelaku terorisme," lanjut Sidney mengenai faktor yang mempengaruhi dan memotivasi orang untuk melakukan aksi teror.
Menurut Sidney, pelaku bom bunuh diri juga tidak bisa dikategorikan sebagai orang frustasi. "Kalau kita melihat pelaku pembom bunuh diri bukan karena frustasi. Kalau dilihat dari surat wasiat, mereka menyatakan bersedia mengorbankan diri untuk menolong orang-orang yang tertindas di dunia, mereka yakin akan mati syahid," jelas dia.
"Ketika perekonomian turun, tidak sama sekali berarti radikalisme naik. Contohnya ketika keadaan miskin di tahun 1998 sama sekali tidak meningkatkan radikalisme terorisme," sambungnya.
Pemerintah, kata Sidney, seharusnya melakukan tindakan antisipasi tepat, tidak hanya melakukan kegiatan pencegahan yang sifatnya formal. "Harus ada pengawasan baik di penjara ataupun saat terpidana terorisme bebas," ujarnya.

mus|ventje

0 komentar:

Posting Komentar